Upaya Danuri Menjaga Bumi Anim-Ha dari Ancaman Sampah Pelastik

Sejauh ini, fenomena sampah pelastik telah menjadi momok menakutkan di setiap belahan bumi. Hal ini disebabkan karena, selain sulit untuk didaur ulang, pelastik juga punya andil yang cukup besar terhadap kerusakan lingkungan.

0 35

MERAUKE (LINTAS PAPUA) – PAGI itu, Danuri dan putra bungsunya tengah memilah-milah sampah pelastik yang berhasil ia kumpulkan di sepanjang Jl. Raya Mandala, Merauke. Bekerja sebagai pengumpul sampah atau yang biasa disebut dengan nama pemulung ini sudah Danuri lakoni dalam kurun waktu 15 tahun terakhir ini.

Dia juga sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa ia akan menjadi pemulung. Pria kelahiran 1964 ini awalnya adalah seorang petani di Distrik Tanah Miring.

Namun karena ia tidak menemukan passionnya sebagai seorang petani, akhirnya Danuri memutuskan hijrah ke Kota Merauke untuk berjualan berbagai macam jajanan anak.

3 tahun lebih ia berjualan berbagai macam jajanan disejumlah sekolah. Pada suatu hari, saat ia tengah berjualan di salah satu sekolah yang beralamat di Jl. TMP Polder dia di tegur oleh seorang guru untuk tidak berjualan lagi di sekitarabn sekolah tersebut.

“Waktu itu saya jualan es parut dan mainan, saya ditegur sama guru untuk tidak boleh jualan lagi disitu. Alasannya karena saya jualan disitu anak-anak sering keluar sekolah bahkan banyak yang bolos” ungkap Danuri.

Setelah ditegur seperti itu, diapun memutuskan untuk berhenti jualan dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Maksud dan tujuannya berhenti berjualan agar seluruh siswa yang ada di sekolah itu dan sekolah lainnya tidak lagi terganggu karena kehadirannya disana untuk berjualan.

Kurang lebih 3 minggu berhenti berjualan, Danuri diajak oleh salah satu rekannya untuk mencari barang rongsokan. Mendapat ajakan tersebut, diapun tidak langsung mengiakannya.

“Tidak langsung saya ikut, saya malah sempat bertanya itu hasilnya bagaimana dan barang rongsok seperti apa saja yang bisa dijual. Tapi teman saya ini tidak mau menjelaskan. 3 kali teman saya ini ngajak saya untuk nyari barang rongsok, diajakan ke 3 ini baru saya ikut” ucapnya.

Dihari pertama mengikuti temannya mencari barang rongsokan, kata Danuri mereka berdua berhasil mendapat uang senilai Rp. 300.000,-

“Uang itu hasil dari mencari besi tua, kaleng bekas sama barang-barang rongsokan lainnya seperti sanyo rusak, mesin cuci rusak dan lain-lain. Untuk sanyo dan mesin cuci rusak yang kita dapat itu, kita preteli dan ambil bagian-bagian dalamnya yang bisa di jual. Setelah semua itu kita jual dapat uang sekitar Rp. 300.000,- dan uang itu kita bagi dua” tukasnya.

Beberapa minggu sudah Danuri bekerja bersama rekannya untuk mencari barang rongsokan. Rekannya melihat ia sudah bisa bekerja sendiri sehingga mengusulkan agar bisa bekerja sendiri. Mendapatkan usulan tersebut, diapun langsung bekerja secara mandiri.

Pertengahan tahun 2008 ia sudah bekerja sendiri, saat itu, Danuri masih mengumpulkan seluruh barang rongsokan mulai dari besi tua, kaleng almunium, dan alat-alat elektronik rusak yang ia temukan.

Selama perjalanannya kurang lebih satu tahun mencari rongsokan, tepatnya pada tahun 2009 dia melihat salah satu papan reklame yang ada di Lingkaran Brawijaya (Libra) yang mengajak seluruh masyarakat di Kabupaten Merauke untuk menyelamatkan bumi dari ancaman sampah pelastik.

“Dulu Libra belum seperti sekarang ini, sepanduk reklame itu di pasang di depan kuburan. Yang pasang reklame itu tidak tau dari lembaga mana yang pasti itu bukan dari dinas lingkungan ataupun pemerintah” tuturnya.

Danuri, pria berumur 58 tahun yang bekerja sebagai pengumpul sampah di sepanjang Jl. Raya Mandala, Merauke. (Ari Bagus Purnomo / lintaspapua.com)

Melihat hal tersebut Danuri tertarik untuk mencoba beralih untuk mengunmpulkan sampah pelastik. Karena saat itu internet di Kota Merauke belum sebaik saat ini, Danuri mencoba mencari referensi bisa diapakan saja sampah pelastik itu.

“Saya sudah tanya ke teman-teman sesama pengumpul rongsok disini, tapi katanya agak susah di daur ulang dan dijual kembali” tuturnya.

Pada akhir tahun 2009 dia bertemu dengan seorang Anggota Lantamal XI Merauke, yang kebetulan juga punya usaha daur ulang sampah pelastik di Jawa Timur.

Kata Danuri, pertemuannya dengan Anggota TNI-AL bernama Chandra ini sangatlah kebetulan, saat itu dia sedang mengumpulkan sampah di perumahan Angkatan Laut.

“Mungkin karena pak Chandra ini lihat saya sedang memilah-milah sampah pelastik untuk dipisahkan dari sampah rumah tangga, jadi beliau datang hampiri saya dan tanya mau diapakan sampah-sampah pelastik itu” kisahnya.

Karena saat itu Danuri belum tahu apa yang akan dia lakukan dengan sampah-sampah pelastik itu, dia hanya menjawab cuma mengumpulkannya saja. Karena memang saat itu dia belum mendapat referensi untuk mengolah sampah pelastik itu.

Akhirnya diapun diajak kerja sama oleh Anggota TNI-AL tersebut untuk mengumpulkan sampah pelastik yang kemudian nantinya dikirimkan ke Surbaya di tempat pengolahan sampah pelastik milik Anggota TNI-AL tersebut.

Satu tahun bekerja sama dengan Chandra, Danuri akhirnya merasakan menemukan passionnya. Karena dilihat rajin dan hasil kerja Danuri sangat memuaskan, Chandra memberikan satu unit untuk alat press kepadanya.

Kata Danuri mengumpulkan sampah pelastik di Bumi Anim-Ha merupakan suatu panggilan baginya untuk menyelamatkan Kabupaten Merauke dari ancaman sampah pelastik yang kian hari kian mengunung.

Karena menurutnya setiap hari Pemerintah Daerah Kabupaten Merauke melalui Dinas Lingkungan Hidup selalu ‘berteriak’ kepada masyarakat untuk tidak lagi menggunakan pelastik dalam segala segala aktivitas, tetapi tidak adak aksi nyata untuk mengurangi penggunaan pelastik.

“Kan bisa dilihat sendiri, sampah pelastik setiap hari ada dimana-mana, percuma mau teriak sampai berbusa juga kalau tidak ada gerakan ya tetap sampah pelastik aka nada dimana-mana” tukasnya.

Dia menambahkan, ia memiliki cara untuk menyelematkan Bumi Anim-Ha dari ancaman sampah pelastik, yakni dengan cara memberdayakan semua pemulung yang ada di daerah tersenbut.

“Caranya mudah cukup memberikan pelatihan kepada para pemulung yang ada disini bagaimana mengolah sampah pelastik dan mencarikan mereka pasar di luar, maka saya jamin Merauke akan bebas dari sampah pelastik” paparnya.

Dia sendiri memiliki keinginan akan hal tersebut hanya saja dia terkendala di modal. Karena hingga saat ini dia masih bekerja secara mandiri.

“Sering ada yang membawa pelastik seperti botol air mineral dan kemasan makanan ke saya tapi saya belum bisa ambil karena terkendala di Modal. Kalau pemerintah bisa melihat ini, ini akan baik untuk kesejahteraan masyarakat khususnya untuk para pemulung yang ada disini” tutupnya. (*)

Leave a Reply

Install di layar

Install
×