Pengalaman Ramadan Peserta KL-YES di Washington, Oleh : Sekar Seruni Jiwadara Srikandi Papua Al-Rasyid

Bersama pelatih tenis. Sebuah pengalaman Ramadan di Amerika yang ditulis oleh siswi SMA Negeri 4 Jayapura yg saat ini sedang mengikuti program pertukaran pelajar KL-YES.. (istimewa)
0 58

Pengalaman Ramadan Peserta KL-YES di Washington

Oleh: Sekar Seruni Jiwadara Srikandi Papua Al-Rasyid

 

Nama saya Sekar Seruni Jiwadara Srikandi Papua Al-Rasyid, siswa salah satu SMA Negeri di Jayapura. Saya adalah salah satu peserta dari program pertukaran pelajar bernama Kennedy-Lugar Youth Exchange and Study (KL-YES) tahun 2021-2022.

Program ini sepenuhnya di sponsori oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat. Saat ini, saya sudah berada di AS selama kurang lebih 9 bulan. Saya bersekolah di Meadowdale High School, jaraknya lumayan dekat dari tempat tinggal saya selama di AS, paling lama hanya 20 menit berjalan santai.

 

Saya tinggal di Lynnwood, negara bagian Washington, dengan ibu angkat (host mom). Kami tinggal di sebuah apartemen kecil yang nyaman dan rapi. Ibu angkat saya beragama Katolik, tetapi beliau sangat menghormati dan menghargai saya dan agama saya. Beliau sebisa mungkin mencarikan saya makanan yang halal. Saat berbelanja, beliau menghabiskan beberapa menit membaca bahan-bahan yang tertera pada makanannya untuk memastikan kehalalan makanan tersebut.

Bersama Ibu angkat saya dan keluarganya. (istimewa)

 

 

Saat bulan Ramadan, saya mengetahui jam makan sahur dan jam berbuka puasa dengan aplikasi Muslim Pro di ponsel dan mengaktifkan adzan dari ponsel tesebut. Jam imsak disini adalah sekitar pukul 04.30 pagi dan buka puasa pukul 08.00 malam, durasi yang cukup panjang. Untuk menu sahur, saya biasanya makan makanan dari sisa makan malam hari sebelumnya. Selain itu, Ibu angkat saya juga menyediakan roti-rotian untuk dipanggang dan selai kacang. Ibu juga membelikan saya vitamin C yang larut dalam minuman.

 

Untuk berbuka, kami bergantian memasak. Ibu angkat saya adalah keturunan Italia, sehingga beliau sering memasak berbagai pasta tapi juga handal dalam memasak yang lain. Sedangkan, saya biasanya suka memasak nasi goreng. Ibu angkat saya berusaha untuk memasak makanan untuk saya buka puasa walaupun beliau baru pulang kerja. Ia juga selalu menyemangati dan bertanya tentang keseharian saya.

 

Keseharian saya di sekolah selama Ramadan tidak berubah dibanding sebelum Ramadan, Saya tetap mengikuti jam sekolah secara penuh. Di semua kelas yang saya ikuti, hanya satu teman saya yang Muslim, bernama Saif dari kelas Sejarah, Setiap jam istirahat, saya selalu pergi ke kantin sekolah walaupun puasa. Saya bertemu teman-teman disana untuk berbicang atau bermain game bersama di ponsel. Hal tersebut sudah menjadi rutinitas dengan teman-teman saya setiap hari. Walaupun begitu, mereka menghargai saya yang sedang berpuasa.

 

Di sekolah, saya mengikuti klub tenis. Di bulan Ramadan ini, setelah pulang sekolah, saya juga masih berlatih tenis setiap hari. Pelatih tenis saya juga sangat penuh perhatian. Beliau selalu memastikan saya tidak terlalu lelah maupun berlebihan saat latihan atau pertandingan selama bulan Ramadan.

 

Walau tidak menemukan hambatan atau tantangan yang berarti selama menjalani ibadah Ramadan di Amerika, terkadang saya rindu dengan kemeriahan Ramadan di tanah air. Disini, tidak ada ramai anak-anak yang main setelah berbuka puasa sebelum tarawih. Tidak ada jajanan di pinggiran jalan. Saya rindu beragam takjil dan jajanan Indonesia untuk berbuka puasa.

 

Ramadhan bagi saya itu adalah waktu dimana saya merasa lebih dekat dengan keluarga, rekan, maupun sang pencipta. Dengan berada jauh dari keluarga, saya menyadari betapa berartinya kebersamaan, Ramadan kali ini mengajarkan saya tentang kemandirian. ***

Leave a Reply

Install di layar

Install
×