Kisah Kevin Johanes, Anak Serui Yang Pulang Dari Luar Negeri Untuk Merintis Bisnis di Tanah Air

0 95

JAYAPURA  (LINTAS PAPUA)  –  Johanes Kevin Ayorbaba-Soewardhono, atau yang akrab disapa Kev, seorang Amarai (panggilan untuk laki-laki dari suku Ansus) kelahiran Biak ini merupakan mantan penerima program beasiswa 1000 doktor yakni program Bapak Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe, S.I.P., M.H.

Sedikit tentang Kevin, dia anak ke-dua dari tiga bersaudara. Kevin seorang Slankers (sebutan untuk penggemar band musik Slank). Kevin adalah cucu dari pelopor pendidikan dan pendiri sekolah-sekolah pertama di Serui, yaitu ibu Siti Sumpeni (pendiri dan kepala sekolah pertama

Sekolah SKP YPK Manokwari thn 1963,

SKP Negeri Serui 1964, SMP Negeri 1 Serui thn 1974 integrasi dari SKP Negeri Serui,

SMP Negeri 2 Serui thn 1980. Pejabat Kepala Sekolah SKP YPK Manokwari thn 1963, Kepala Sekolah SKP Negeri Serui 1964, Kepala SMP Negeri 1 Serui 1974, Kepala SMP Negeri 2 Serui thn 1980, Kepala Sekolah SMP Gabungan thn 1980,). Di sisi satunya, ayah Kevin adalah orang asli Papua (Rony T. Ayorbaba) keturunan veteran George Ayorbaba. Kevin lahir di Biak tahun 2000,pindah ke Serui tidak lama setelah itu, sempat juga tinggal di Bandung selama 3 tahun, kembali ke Papua, menetap di Serui dan meninggalkan Bumi Cenderawasih tahun 2015 untuk menempuh pendidikan di New Zealand.

Bagaimana Bisa Kevin Dapat Kesempatan Sekolah di New Zealand?

“Sebenarnya hanya karena kemurahan alam semesta saja, kaka. Waktu itu saya diajak sama pak guru SMP untuk ikut tes beasiswa yang diselenggarakan orang-orang dari BPSDM yang datang ke kabupaten. Latar belakang keluarga saya biasa-biasa saja, dan juga saya kira beasiswa seperti ini hanya akan meng-favoritkan orang-orang dalam kah ini hehe. Tapi ternyata nama saya ada pada saat pengumuman kelulusan. Tanpa pikir panjang, I said yes.”

 

Kebersamaan Kevin dan teman-teman dari Papua di Auckland, New Zealand.

Pada akhir tahun 2021, Kevin akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari program beasiswa yang dia jalani. Berikut ceritanya:

 

Kenapa memilih mundur?

“Sebenarnya kata mundur itu secara teknis kan untuk terlepas dari kontrak, ya. Awal mulanya, saya punya history penyakit insomnia akut atau susah tidur. Saya dirawat medis hampir setahun. Hampir pulang saat itu, tapi saya masih mau berjuang untuk belajar.

 

Singkat cerita, pada tahun 2021 saya tidak bisa mengikuti program kuliah semester 1 dikarenakan keterlambatan pembayaran uang semester oleh penyedia beasiswa. Tapi saya tidak akan membahas masalah ini. Namun karena perkara tersebut, saya sempat menganggur selama 6 bulan.

 

Selama 6 bulan itu saya banyak membaca buku, terutama buku bisnis dan marketing. Saya juga belajar programming, semua lewat Google dan YouTube. Setelah semester 2 berjalan, saya sempat menjalani kuliah di sisa akhir tahun 2021 dan menyelesaikan ujian semester dengan nilai yang memuaskan.

 

A little fact about me: Saya ini.. Maaf.. kepala batu. Pandangan saya berbeda dari kebanyakan orang di sekitar saya. Agak susah untuk mereka menginterpretasikan isi kepala saya.

Saya beruntung punya teman-teman dan pacar yang sangat (terlalu) sabar menghadapi saya.

Saya berpikir, kenapa harus kuliah kalau saya bisa self-educate (belajar sendiri)? Kan sudah terbukti kalau saya bisa ngajar diri sendiri waktu nganggur 6 bulan. Saya kuliah juga bukan karena kemauan diri sendiri melainkan untuk memenuhi ekspektasi orang lain.

Kesehatan saya pun cukup memprihatinkan. Sleeping disorder yang saya punya tidak main-main. Saya harus memilih antara survive di negeri orang atau berobat secara intensif. Alhasil, setelah semester 2 berakhir saya memutuskan untuk resmi dropout dari perkuliahan di Unitec Institute of Technology Auckland.”

Kalau berhenti kuliah, Kevin mau buat apa?

“Ini saya kutip lirik lagu dari Slank: “Entah aku jadi apa saja. Asal, kecil bersuka dan muda terkenal. Tua, kaya raya, mati masuk surga”. Itu sa pu mindset, kk. Tapi sebagai medium saat ini saya sedang merintis bisnis startup berbasis online bernama RUMAH JOB Indonesia. Websitenya adalah rumahjob.id.

 

Memangnya bisnisnya seperti apa?
RUMAH JOB Indonesia adalah startup marketplace yang menyediakan jasa on-demand service, yang membolehkan pelanggan untuk memesan jasa pekerjaan langsung ke rumahnya. Pekerjaan seperti pangkas rambut, salon, make up artist. Dan juga pekerjaan kasar seperti konstruksi, mekanik, service eletronik/listrik, sampai pekerjaan yang lebih formal/profesional seperti EO, fotografi. Slogan kami: Meng-online-kan pekerjaan offline.

Apa manfaatnya untuk terkhusus orang Papua?

Walaupun semasa remaja sa di luar negeri, di sana saya tumbuh dengan saudara-saudara dari pegunungan Papua yang punya mentalitas anak asrama dimana semuanya dilakukan sendiri. Ada yang punya bakat pangkas rambut, menganyam rambut, memasak, teknik mesin, sampai bangunan.

 

Tapi karena di Papua cara mencari kerja masih sangat tradisional, bakat mereka ini tidak bisa dijadikan pemasukan. Padahal orang Papua sudah mengenal teknologi terutama internet. Dan misi saya untuk sediakan sebuah wadah/platform untuk mereka uangkan bakat mereka dan juga mengombinasikan unsur digital.

Orang Papua punya kelebihan mengerjakan hal yang bersifat hands-on / practical dibandingkan teori. Bakat ini pun terdapat pada demografis anak muda di Papua. Istilah freelancing / part-time job di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia sudah sangat lumrah. Tapi di Papua ini kedengaran sangat asing. Padahal saya lihat ada potensi besar di sini untuk orang Papua mencari pekerjaan tanpa harus melewati berbagai macam kualifikasi sedangkan mereka punya skill yang mencukupi. Untuk apa terlihat cantik di atas kertas tapi nihil waktu turun lapangan?

Rencana Kevin ke depan apa?

It’s gonna be a long journey for me, kaka. Saya mau fokus bisnis. Saya mau mengubah hidup banyak orang jadi lebih baik. Dan juga buat para pembaca yang merasa punya tujuan yang sama dengan saya, kontak sa di Instagram @kev_johanes01. I need a team. And I don’t give a damn kam punya gelar sarjana atau tidak. Mari kitong akomodasi SDM di Papua.

Ada pesan buat pembaca?

Kalau kam tidak suka dengan kam punya hidup saat ini, do something about it. Selama kam bertanggung jawab dengan pilihan, do what you want dan jangan lupa untuk have fun while you’re at it. Itu saja.

Dan untuk sa pu brothers and sisters yang masih berjuang di NZ, you guys are built different. Terima kasih sudah izinkan sa untuk jadi kam pu teman. See you at the top.

Untuk Fadla, thanks for being my caffeine. Coz I can’t function without you. ***

Leave a Reply

Install di layar

Install
×