Kapal Karam Jadi Objek Wisata Dadakan Bagi Masyarakat Kuler di Merauke

K.M Sepakat namanya, kapal ikan yang biasa berlayar di perairan Arafuru ini, terdampar di pantai tersebut sejak awal Januari lalu. (Ary / lintaspapua.com)
0 1

MERAUKE (LINTAS PAPUA) – Sebulan Sudah kapal itu karam di bibir Pantai Katmap. Kata masyarakat sekitar, perlu dilakukan ritual adat agar kapal ini bisa kembali ke laut.

Catatan : Arie Bagus Poernomo.

SUASANA pantai Katmap tidak seperti biasanya, kali ini pantai yang berada di Kampung Kuler, Distrik Naukenjerai, Merauke sore itu sangat ramai dari biasanya.

Keramaian yang terjadi di pantai itu terjadi karena adanya kapal ikan yang terdampar ataupun karam di pantai tersebut.

Seorang warga yang enggan menyebut namanya mengatakan ini adalah salah satu hal yang menarik, karena katanya hal seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.

Dia menambahkan ini menjadi salah satu destinasi wisata dadakan untuk masyarakat yang ada di Kampung Kuler.

“Menarik karena kita bisa datang untuk foto-foto disini. Ini jadi hiburan buat kami masyarakat kampung” kata dia.

K.M Sepakat namanya, kapal ikan yang biasa berlayar di perairan Arafuru ini, terdampar di pantai tersebut sejak awal Januari lalu.

Syarif, seorang nelayan Merauke yang berdomisili di sekitaran Pantai Lampu Satu ketika saya hubungi mengungkapn bahwa K.M Sepakat sering berlabuh di salah satu dermaga di sekitaran Kampung Sidomulyo Distrik Semangga.

Kata dia, sebelum kapal itu terdampar di Pantai Katmap, mesin kapal tersebut mengalami gangguan dan sempat berlabuh beberapa hari disekitaran Pantai Lampu Satu.

“Waktu itu sempat ditarik sama Angkatan Laut dan Tim Sar sampai ke Lampu Satu, pas ABK (Anak Buah Kapal) dan Kaptennya turun itu mungkin lupa buang jangkar, bisa jadi hanyut sampai kesitu” singkatnya.

Sudah berapa kali K.M Sepakat ini ditarik oleh kapal-kapal sejawatnya agar dapat kembali mengarungi laut Arafuru seperti sedia kala.

Namun upaya itu selalu saja gagal, bahkan beberapakali, tali yang digunakan untuk menarik kapal itu selalu saja putus.

Hal ini disebabkan karena bagian bawah dari kapal tersebut sudah sangat dalam tejerembab ke dalam pasir Pantai Katmap.

“Sudah 2-3 kali coba ditarik, tapi tidak bisa” kata Amy salah satu warga yang datang ke pantai itu.

Kata masyarakat adat sekitar, perlu dilakukan upacara ataupun ritual adat agar kapal itu dapat kembali ke lautan.

Usulan itu, kata sudah sering disampaikan oleh tetua adat sekitar, karena Pantai Katmap dianggap sangat sakral bagi masyarakat adat Marind, khususnya yang berdomisili di Kampung Bokem hingga Onggaya.

“Harus bikin ritual supaya kapal bisa kembali ke laut, ini pantai cukup sakral untuk masyarakat Marind disini” kata Sekretaris Kampung Kuler Dorce Susanri Alolang.

Humas Kantor SAR Merauke, Darmawan, ketika di konfirmasi, mengungkapkan bahwa pihaknya belum mendapatkan laporan terkait dengan terdamparnya kapal itu.

“Belum ada yang melapor ke kami mas, mungkin karena tidak ada korban sehingga tidak dilaporkan” ujarnya dalam pesan singkat. ***

Leave a Reply

Install di layar

Install
×