Memaknai Hari Pers Nasional 2022 Untuk Milenial Papua, Oleh : Freddie Hosio, SE

0 5

Memaknai HPN 2022 untuk Milenial Papua.

(Freddie Hosio, SE)

 

09 Februari yang jatuh tiap tahunya, selalu diperingati oleh oleh Lembaga Pers Nasional sebagai hari jadi PERS Nasional di Negara Indonesia. Sebagai Insant PERS atau Kuli Tinta, secara Kelembagaan Oraganisasi Pers, Perusahaan bahkan perorangan pasti akan ikut memeriahkannya, baik di tingkat Nasional dan daerah. Hari PERS Nasional pada tahun ini, dipusatkan di Kota Kendari Propinsi Sulawesi Tenggara, yang mana sejumlah perusahaan Media yang tergabung dibawah lembaga PERS dari Sabang-Merauke, semua hadir disana guna menyukseskan Event Nasional itu dengan berbagai Perayaan.

Di tahun 2022, Tema yang diusung oleh Lembaga PERS pada penyelenggaraan itu yakni, Membangun Kedaulatan Nasional di Tengah Gelombang Digitalisasi Global. Dalam memaknai HPN 2022 dengan Tema diatas, event tersbut diselenggarakan guna menjalin silahturahmi sesama rekan dan perusahaan Pers, melaksanakan pelatiha-pelatihan dan penyegaran terbaru yang mengikuti perkembangan Jaman hari ini dalam membangun dan menjaga Kedaulatan Negara ini. Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo juga ikut secara resmi membuka acara HPN 2022 itu secara Virtual.

>>Kemajuan yang baik, wajib bermodalkan Etika, moral dan Profesi

Terkhusus di Tanah Papua, Kabupaten Mimika-Papua, acara tersbut dihadiri dan di wakil Bupati Mimika , Ir. Johanes Retob.,MM dengan ditandai Pemotongan Kue HPN secara bersama-sama segenap insan PERS baik cetak, Radio mapun Online dan Podcas. Hal yang sama pula sudah dilakukan oleh Perusahaan PERS serta insan PERS di Tanah Papua, apapun jenis media yang digelutinya. Berbicara tentang kehadiran media di Tanah Papua, yang bernaung dibawah payung hukum sebuah perusaahaan Media, tentu mempunyai perkembangan dan catatan tersendiri. Yang mana sejak Pemerintahan Hindia Belanda, Pemerintah Provinsi Irian Barat, lalu sampai pada Irian Jaya dan Provinsi Papua kini, tentu apa yang kita sebut dengan Media (Radio,Koran/tabloid,tv) sudah ada. Perusahaan-perusahaan kepunyaan Perorangan, kelembagaan, Yayasan Milik Keagamaan (Kristen Protestan dan Katolik) telah berjasa ketika itu dengan segala keterbatasan Permodalan, Sumber daya manusia, letak geografis Papua yang juga sangat sulit untuk distribusi jangkauan media dimaksud.

 

Hingga di tahun 2000-an sudah mulai bermunculan banyak sekali perusahaan Media di Papua. Dengan hadirnya jejaring media social (medsos) dari Friendster, facebook di tahun 2007, membuat banyak kita anak-anak Papua yang saat ini saya sebutkan dengan milenial Papua mulai terbiasa untuk mengekspresikan sesuatu dengan penulisan dan gambar serta video di medsos miliknya.

Terkhusus dalam kurun waktu tiga tahun terakhur ini (2019,2020 dan 2021), semakin bertambah perusahaan media di Tanah Papua kedua Propinsi yang ada. Kenyataannya, ada juga perusahaan surat kabar harian (SKH) media cetak yang bergeser dari cetakan atau oplah harian ke media online. Di Kota Timika sebagai contoh, SKH Salam Papua, Harian Papua dan radar Timika, sudah memilih dua cara dalam menjalankan bisnis media yakni, cetak dan online.

Kedua cara berbisnis itu dipandang perlu meningat kemajuan teknolgi telekomunikasi (Smartphone) sekaligus juga mekenan biaya produksi perusahaan dimaksud. Kota dan Kabupaten lainnya di Papua ini pun mengalami hal yang tidak jauh berbeda. Situasi lain menggambarkan, telah hadir juga banyak media-media online baik yang sudah terdaftar pada lembaga Pers Nasional maupun dalam proses pengurusan bahkan ada juga yang belum tetapi sudah melakukan praktik-praktik jurnalis dalam menyajikan informasi kepada semua pembaca online. Bersikap Skeptis, tidak haoks penyajian berimbang juga selalu berpedoman pada kaidah-kaidah penulisan 5W dan 1 H adalah kunci menulis yang baik dan benar.

>>User News Paper vs News Online

Hadirnya perusahaan-perusahaan Media Online (news online) yang baru-baru berkembang ini, karena memanfaatkan teknologi yang berkembang. Artinya mereka para insant Pers ini, tau melihat, membaca juga mengikuti perkembangan kemajuan jaman. Dilain sisi, secara teknologi yang ditawarkan oleh beberapa domain-domain alias penyedia jasa website itu sendiri, semakin memanjakan pengguna (user) untuk mengelolanya. Dari sisi kemapuan sumber daya Manusia (SDM), tentu tidak mudah menjadikanya sebagai seorang yang berprofesi sebagai kulih tinta itu sendiri. Dibutuhkan ilmu kemampuan, ketrampilan mengoperasikan kamera, laptop/computer, ketrampilan dalam mengetik (laptop/computer ) atau juga smartphone. Selain itu, juga harus berkepribadian baik, komukasi, serta menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sesuai dengan Etika dalam Profesi Jurnalisme itu sendiri.

Pengalaman saya, sebagai penulis yang pernah merasakan Dunia Jurnalisme pada tiga media cetak yang berbeda di Kota Timika ini ialah, hanya bermodalkan kesabaran, ketekunan, keuletan, ketelitian serta kerja keras lalu juga kejar deadline-lah,dapat menghasilkan sosok Jurnalis alias Wartawan yang berkompoten. Karena itu, ketika saya menuliskan Opini ini untuk kita semua, maka ini juga adalah buah hasil kerja keras saya ketika masih aktif sebagai wartawan. Pengalaman saya, sebelum terikat pada SKH Timika Expres di tahun 2013 lampau, pada tahun 2009 di Kota Study Yogjakarta,  saya pernah mengikuti Diklat Jurnalistik yang diselenggarakan dari Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Univesitas Gajah Mada (UGM) bersama Media Kompas Gramdia Jogja dan dari semua peserta dengan waktu pelatihan tiga hari itu, saya berhasil keluar sebagai Juara Pertama.

Akan hal itu, tidak lagi merupakan keraguan kita bersama kalau hari-hari ini banyak tumbuh berjamuran media online yang bias kita akses. Semua itu lahir dari kemapauan mereka sebagai sosok Jurnalis yang punya pengalaman baik menguasai isu-isu yang panas, keluhan masyarakat, kesenjangan-kesenjangan, dalam menggiring pembangunan sebagai corong media, aspirasi rakyat. Mereka insan Pers itu, juga punya kemapanan mental yang sudah tidak perlu diragukan lagi. Kemampuan itulah yang diperguakan sebagai skill dalam menyajikan informasi menggunakan teknologi dalam menjaga kedaulatan Bangsa ini, sebagaimana Tema HPN 2022. Secara Kuantitas baik, tetapi juga kualitas perlu dijaga. Mengingat pelanggan mudah sekali jenuh, bosan dengan layout, konten pemberitaan yang tersajikan. Belum lagi, media online yang dipenuhi iklan-iklan dari google (tidak termasuk ikan yang dibayar).   Secara Jumlah, jika makin banyak, makin subur, tetapi akan menurunkan kulitas isi (konten pemberitaan) itu sendiri, baik pada media cetak, online, podcast dan atau sejensnya.

>>PERS untuk Milenial Papua

Dikesempatan ini, saya ingin menguraikan agar bagamana pada momentum HPN tahun 2022 ini, generasi milenial Papua baik yang masih di bangku SLTA/SMK, perguruan tinggi bahwakan khalayak umum genereasi Papua dapat memahami Apa itu PERS. Seriring kemajuan teknologi smartphone ini, saya telah mengikuti perkembangan generasi milenial Papua, dan saya sebutkan itu sebagai langkah kemajuan yang luar biasa.

Dalam bersosial media, sebut saja pembuatan konten atau reaksi dari setiap konten yang ada. Mereka pemilik akun dengan penuh Percaya diri, senyum yang manis, dapat mengkspresikan isi konten itu dengan baik dan sempurna sekali. Rasanya, iklan di TV Swasta itu tertinggal dengan apa yang mereka generasi milnial ini ciptakan. Masih banyak lagi kisah lainya. Seperti meraka reactor akun Yutube dalam berekspresi. Ada yang membacakan narasi tentang sebuah cerita, bereaksi tentang video atau lagu.

Kategori Pertama Milinial Papua dalam pantauan saya, dari rata-rata usia pelajar, mahasiswa, masyarakat, sudah pandai menerapkan ilmu-ilmu jurnalistik dalam konten-konten yang dihasilkan atau bentuk dari direspon yang ditimbukan kemudian.

Dari setiap reaksi yang mereka hasilkan itu, punya nilai jual (ekonomi), aktualiasi diri perwudjudan diri, hiburan, informasi dan lain seterusnya.  Saya sempat melihat salah satu akun di tiktok, milik anak Papua, yang selalu tampil untuk membacakakan naskah/berita yang bersumber dari beberapa media online di Papua. buat saya, khusus untuk konten yang dihasilkan melalui pesan teks, kedalam bentuk audio/suara juga disertai video background dari pemilik akun itu, maka secara tidak langsung, dia telah melaksanakan praktik-praktik jurnalisme. Ada sejumlah perangkat dan aplikasi serta informasi yang disampaikannya dan itu bermanfaat buat orang lain (penerima berita).

Kategori kedua, mereka yang suka mengungkapkan perasaan melalui tulisan-tulisan pendek/lembut (soft news)  di media sosial (facebook, twiter, instagram, youtube). Pada Kategori kedua ini, mereka juga sudah berani dan bebas untuk berekspresi melalui apa yang mereka liat, dengar, rasakan. Umumnya mereka ini masuk ke dalam kategori Mahasiswa, akademisi, pemerhati Pendidikan, Pekerja Sosial, Pegiat Kemanusiaan dan masih banyak lainya. Pembuatan konten, reaksi untuk sebuah konten, penulisan, baiknya tetap mengikuti etika dalam menerapkan ilmu-ilmu komunikasi atau Jurnaslitik itu sendiri. Sebaimana sudah saya ulas pada point pertama, perkembangan yang baik, wajib bermodalkan Etika, Moral dan Profesi.

Karena itu, melalui momentum ini, akan sangat baik buat generasi milenial Papua yang sementara berkembang ini, untuk mengenal potensi yang mereka miliki. Dengan begitu, dapat menyiapkan diri sejak dini guna menggeluti dunia jurnalistik kedepanya. Kepada Pemerintah Provinsi dan Daerah melalui Dinas terkait, Lembaga Pers di masing-masing Kabupaten Kota, Perusahaan Pers juga wajib berkontribusi dalam mencetak generasi terbaru milenial Papua dalam ilmu Jurnalistik.

Berbicara tentang PERS atau wartawan, tentu kita semua tau seperti apa tugas utama seorang wartawan. Kita tau persis seperti apa gaya atau style soerang wartawan. Kita juga tau, bagaimana dan seperti apa cara seorang  wartawan kalau berbicara kepada orang per – orangan, komunitas, narasumber (Pemerintah, Swasta, Tokoh masyarakat, TNI/Polri) dan semua sasaran yang dapat dijadikan sebagai Narasumber. Kita juga pasti tau seperti apa tingkat relasi dankomunkasi itu sendiri dari seorang wartawan. Pekerjaan seorang wartawan, membuat dirinya akan merasa bangga, mudah dikenal, selalu tampil percaya diri dengan style yang sederhana namun dipercaya. Walau sampai hari-hari belakangan ini, insan PERS hanya bermodalkan Kartu Identitas Perusaahaan dimana di bekerja, Kamera atau hanya memakai Smartphone, wartawan  akan dinilai sebagai sosok yang disegani, diperlukan, dicari,dihindari tergantung situasi dan kondisi yang dialami nara sumber itu sendiri. Akan tetapi, apa itu PERS? Pers sendiri merupakan lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Negara Indonesia menjamin hak dan kebebasan PERS dalamUndang-undang  Nomor 40 tahun 1999 tentang PERS. Pada undang-undang PERS itu sendiri, menjabarkan sebanyak X Bab yang kedalamannya terdapat 21 Pasal. Yang mana keseluruhanya mengatur tentang Hak dan kewajiban PERS, hak dan kewajiban Perusahaan PERS, serta juga peran kita sebagai masyarkat  atau pembaca dan seterusnya.

(Penulis adalah pekerja sosial dan tinggal di Distrik Mimika Baru – Timika)

 

Leave a Reply

Install di layar

Install
×