<
Lintaspapua.com

DOA TANPA TOA : Janganlah Berdoa Seperti Orang Munafik

LINTAS PAPUA - Selasa, 7 Desember 2021 - 22:40 WITA
DOA TANPA TOA : Janganlah Berdoa Seperti Orang Munafik
 ()
Penulis
|
Editor

DOA TANPA TOA

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga” (Matius 6:1).

Di sekitar kompleks perumahan saya yang tidak terlalu luas ada dua masjid berada di luar kompleks perumahan. Setiap subuh atau magrib atau jam- jam tertentu saya mendengar suara azan dari toa kedua masjid tersebut. Karena sudah terbiasa saya tidak merasa terganggu. Namun akhir- akhir ini saya amati suara toa tersebut semakin keras.


Tanpa bermaksud menghakimi, saya jadi teringat nasihat Tuhan Yesus kepada para muridnya untuk tidak beribadah, apakah itu bersedekah, berdoa ataupun berpuasa dengan cara atraktif yaitu menjadi tontonan atau perhatian orang lain. Memang naluri kedagingan manusia yang wajar saat bersedekah ingin diketahui banyak orang, namun Yesus menegur praktek bersedekah seperti itu.

“Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya” (Matius 6:2).

Demikian juga dalam praktek berpuasa Yesus mengajarkan untuk air muka kita tetap nampak berseri layaknya orang tak berpuasa (Matius 6:16-17).

Bahkan berdoa yang adalah kegiatan yang lazim dilakukan di waktu tertentu oleh laki- laki Yahudi. Tuhan Yesus menganjurkan bagi kita untuk melakukan doa yang tersembunyi atau dengan kata lain DOA tanpa TOA.

“Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya” (Matius 6:5).

Yesus memberitahu semua kegiatan ibadah yang atraktif ( entah itu sedekah, doa ataupun puasa), jika motivasinyan untuk dilihat orang, maka ibadah itu telah mendapat upahnya di dunia yaitu pujian manusia, tetapi nihil pahala di Sorga. Betapa sia-sianya kehidupan ibadah kita jika hanya dapat upah pujian manusia. Mari, sebagai pengikut Yesus Kristus, kita membiasakan beribadah dengan cara tersembunyi. DOA kita memang tanpa TOA, tetapi kalau kita berdoa berharap diketahui banyak orang, maka itu sama saja dengan DOA memakai TOA.(DD)

Questions:
1. Pernahkah dengan beribadah namun Anda berharap mendapatkan pujian dari orang lain? Mengapa?
2. Keuntungan apa yang Aanda dapatkan dengan mendapat pujian orang lain?

Values:
Sebagai warga Kerajaan hal mendasar yang harus dimengerti, hidup kita sudah berharga sehingga kita tidak memerlukan pujian manusia, karena sang Raja telah menerima kita apa adanya.

Rela berkorban tanpa pamrih dan rela beribadah tanpa berharap pujian adalah tanda kedewasaan rohani sejati.

“Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat.”__ Mazmur 144.4

Waktu sangatlah berharga — waktu bersama keluarga kita, anak-anak kita, orang tua kita, teman-teman kita, serta saudara dan saudari kita di dalam Kristus.

Bagaimana kita menginvestasikan waktu kita? Di mana kita menginvestasikannya? Kita tahu bahwa waktu benar-benar lebih berharga daripada uang yang kita investasikan. Ketika waktu itu hilang, maka tidak dapat dikembalikan.

Ketika kita memulai hari kita, mintalah kepada Tuhan agar kita dapat “mengetahui waktu”, untuk melihat apa adanya dan menggunakannya untuk kebaikan sesuai kehendakNya.

Waktu berlalu dengan cepat, dan seperti bayang-bayang sore hari, tidak lama kemudian diserap ke dalam kegelapan malam yang semakin pekat. Jangan sia-siakan waktu, lakukanlah yang terbaik sesuai kehendakNya; sehingga ketika tiba waktunya kita ditemuiNya setia. (***)

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
123