HIDUP ADALAH PILIHAN. : Sebab, upah dosa ialah maut, tetapi Karunia ALLAH ialah hidup yang kekal dalam KRISTUS YESUS, TUHAN kita

0
277

HIDUP ADALAH PILIHAN.

Kadang kita tidak tahu kemana kita harus melanjutkan perjalanan. Apa pun yang terjadi, kita harus memilih. Kita tidak bisa berhenti di tengah perjalanan hidup ini begitu saja dan tidak memilih. Hidup itu memang suatu pilihan. “The show must go on”.

Sabda TUHAN YESUS hari ini begitu keras dan sangat kontroversial. Bila selama ini kita membaca Sabda-NYA yang lembut dan menyegarkan. Tapi kali ini sangat keras: “Kamu menyangka bahwa AKU datang untuk membawa damai di atas bumi? Bukan, kata-KU kepadamu, bukan damai melainkan pertentangan.” (Luk.12; 51).

Iman memang menuntut suatu pilihan yang tegas: mengikuti YESUS secara penuh atau tidak samasekali. Tidak jarang iman tidak bisa tumbuh karena langkah kita diberatkan oleh pelbagai urusan duniawi. Secara tegas YESUS menyatakan bahwa seandainya pun keluarga menentang atau memberatkan, maka orang beriman harus tegas dan mantap memilih untuk mengikuti YESUS.

Mengikuti YESUS tidak berarti menyingkirkan keluarga. Justru mengikuti KRISTUS merupakan jalan untuk menyempurnakan keluarga, karena semakin kita mengikuti KRISTUS, semakin kita dipenuhi oleh Kasih-NYA.

Namun tidak jarang pula kadang terjadi konflik normatif, antara Kasih dan tradisi atau kebiasaan yang berlaku di dalam suatu keluarga atau suku. Kita dituntut untuk berani memperjuangkan nilai-nilai iman Kristiani dalam situasi tersebut.

Demikian pula gambaran hidup mengikuti TUHAN YESUS. Apa pun pilihan kita, tentu akan ada reaksi, yang bisa berupa penerimaan, penolakan, atau bahkan tidak dianggap sama sekali. “AKU datang untuk melemparkan api ke bumi dan betapakah AKU harapkan, api itu telah menyala!” (ayat 49).

Api itu membakar semua yang lapuk dan memurnikan, serta memberikan kehangatan di musim dingin dan memberi kehidupan. Api peradilan ALLAH menghancurkan semua yang tidak menyerahkan diri pada daya pembaharuan-NYA.

Namun, api juga dapat dipandang sebagai penyebab: api pertengkaran dan pertentangan dalam keluarga, komunitas, masyarakat atau bangsa. Pertentangan itu bukan sekedar “rebutan hak waris” atau harta karun dan kedudukan, tetapi pertentangan karena iman kepercayaan kepada YESUS KRISTUS. Bahkan di lingkungan yang sangat dekat pun bisa timbul konflik: antara ayah dan ibu, anak lawan orangtua, kakak lawan adik, anak menantu dan orangtua menantu, orangtua kita lawan besan dan seterusnya (bdk.ayat 52, 53).

Beriman kepada YESUS adalah suatu pilihan yang sangat serius, pilihan yang radikal, tidak bisa dikompromikan dengan pilihan-pilihan lain. Saat YESUS datang pun sudah ada pertentangan dalam masyarakat Yahudi: Ada yang tertarik dan mengikuti YESUS, tetapi tidak sedikit pula yang kecewa, yang masih suka akan kemapanan dan menolak pembaharuan yang diperkenalkan oleh-NYA.

Ternyata, sejak awal kedatangan-NYA sampai hari ini tidak semua orang bisa menerima YESUS KRISTUS, sekalipun ajaran cinta kasih-NYA sangat luar biasa! Karena itu, tidak perlu merasa heran, mengapa sampai sekarang masih saja ada orang atau kelompok yang memusuhi apa saja yang berbau “Kristen.”

Hal itu masih juga terjadi di Tanah Air bahkan di seputar tempat tinggal kita, misalnya, berdoa di rumah-rumah warga lingkungan atau wilayah ditentang bahkan dilarang oleh masyarakat sekitarnya, izin untuk mendirikan tempat ibadah jauh lebih sulit daripada mendirikan salon atau panti pijat! Itulah konsekuensi salib yang harus kita pikul demi YESUS!

Masalahnya sekarang: seberapa kuat iman kita untuk tetap bertahan? Apakah kita dapat tetap kuat sikap kita serta selalu konsisten dan konsekuen iman kita dalam menghadapi tantangan zaman itu? Ataukah kita tergiur oleh jabatan dan iming-iming duniawi lainnya hingga tega meninggalkan KRISTUS, meski nama permandian tetap melekat di kartu identas kita?

Menghadapi tantangan akan pilihan itu, kita tidak bisa setengah-setengah. Hal ini tercermin dalam sikap kita terhadap diri sendiri. Rasul Paulus dalam Bacaan Pertama mengajak kita untuk bersikap tegas terhadap diri sendiri dalam melawan segala macam kecemaran dan kedurhakaan.

Hal ini tampak dalam sikap anggota-anggota tubuh yang semula masih menjadi hamba kejahatan, setelah menjadi pengikut KRISTUS dibebaskan menjadi hamba kebenaran yang membawa kita pada pengudusan. Paulus mendorong kita agar kita tetap konsekuen menjadi hamba kebenaran dan jangan sampai menjadi hamba dosa. “Sebab, upah dosa ialah maut, tetapi Karunia ALLAH ialah hidup yang kekal dalam KRISTUS YESUS, TUHAN kita”. (Rm. 6: 23). Sanggupkah kita?

Ya YESUS, kuatkanlah aku dengan ROH KUDUS-MU dalam menghadapi berbagai tantangan, hambatan dan kesulitan yang disebabkan akibat mengikuti ENGKAU. Bapa Yusuf dan Bunda Maria, doakanlah aku dan seluruh pengikut KRISTUS di Indonesia ini. Amin.

Selamat pagi. Selamat beraktivitas sesuai Prokes. AMDG. Berkat TUHAN.
_PK/hr/dm

Salam Damai Kristus


 

_________________________________________________________________

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here