Pada-Mu, TUHAN, Aku Berlindung, Janganlah Sekali-Kali Aku Mendapat Malu. Luputkanlah Aku Oleh Karena Keadilan-Mu

0
202

“Pada-Mu, TUHAN, Aku Berlindung, Janganlah Sekali-Kali Aku Mendapat Malu. Luputkanlah Aku Oleh Karena Keadilan-Mu”
__ Mazmur 31.1

Ketika segala sesuatu ditanggalkan, apakah yang menjadi harapan kita? Kekayaan, jabatan, ijazah, kepandaian, koneksi?

Sesungguhnya pandemi ini mengajarkan kepada kita bahwa hanya Tuhan sajalah pengharapan yang pasti, yang benar, yang tidak pernah goyah dan tidak mengecewakan.

BERSUKACITA DALAM KASIH ALLAH (mauliutus.org)

Kehidupan kita menjadi berarti karena kasih karuniaNya bagi kita. Mari kita sandarkan pengharapan kita hanya kepadaNya; sebab hanya dia yang sanggup menyelamatkan kita.

MATURE

“sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus” Efesus 4:13.

Setiap orang rindu hidupnya mengalami pertumbuhan. Namun pertumbuhan antara satu orang dengan lainnya tidak sama. Pertumbuhan yang kita alami membawa kita kepada kedewasaan. Tema renungan bulan Agustus 2021 adalah mature. Kata mature yang merupakan kata sifat dalam Merriam Webster Dictionary memiliki arti: 1) based on slow careful consideration (berdasarkan pertimbangan yang lambat dan penuh kehati-hatian); 2) having completed natural growth and development.

“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut.”
__ Roma 8.1-2

Dikatakan bahwa di dalam kasih tidak ada ketakutan. Sebagai orang percaya yang telah mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat; hidup kita ada di dalam Kristus. Kita telah ditebus dan dibayar lunas, dan dimerdekakan dari hukum dosa dan hukum maut. Kita ada dalam perlindungan kasihNya dan bukan dalam penghukumanNya.

Pandemi yang sedang kita alami bukanlah hukuman yang Tuhan berikan karena dosa manusia. Pandemi bisa merupakan berkat, teguran ataupun ujian untuk kita bisa menjadi semakin dimurnikan. Pandemi juga bisa berarti kesempatan; kesempatan untuk kita mela…

FATHERLESS
“Maka bangsa itu akan desak-mendesak, seorang kepada seorang, yang satu kepada yang lain; orang muda akan membentak-bentak terhadap orang tua, orang hina terhadap orang mulia”(Yesaya 3:5).

Kita menyebut negara kita dengan Ibu pertiwi, menyebut pusat pemerintah dengan Ibu Kota. Ketika ada peristiwa menyedihkan seperti bencana alam yang besar kita mengungkapkan dengan gambaran (metafora) “Ibu pertiwi sedang berduka”. Sejajar dengan lagu yang populer untuk mengungkapkan kesedihan bangsa yaitu lagu “Kulihat Ibu Pertiwi yang sedang bersusah hati.“ (lagu yang iramanya mirip dengan lagu yang berjudul “what a friend we have in Jesus“).

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa figur ibu lebih dipakai menggambarkan hubungan negara dan rakyatnya? Apakah hal ini mengungkapkan suasana psikologis kebatinan bangsa kita yang yatim atau tak berayah. Perlu diketahui akibat dari keluarga yang “fatherless” adalah anak- anaknya tidak akur, mudah mengasihi diri sendiri, kasar namun tidak tegar.

Kita sebenarnya pernah mengalami masa- masa persatuan sebagai bangsa yaitu pada masa perjuangan dan awal kemerdekaan. Namun sejarah mencatat kemudian pertikaian terus terjadi. Sikap penghormatan terhadap pemimpin kadang berlebihan lalu kemudian juga kebencian yang berlebihan. Suasana gotong- royong dan saling mendukung tak lagi tampak saat ini. Yang ada adalah saling menjegal dan saling bersiasat untuk menjatuhkan. Manis di depan tapi membara di hati. Sebagai bangsa kita tidak mungkin bisa melihat tantangan global yang mengancam. Karena hanya persatuan yang harmonis yang dapat memenangkan persaingan.

Saya jadi teringgat akan cerita di Alkitab tentang Ismael, putra Abraham yang menjadi “fatherless” karena ditinggalkan sendirian oleh ibunya, Hagar. Akibatnya, keturunan Ismael tidak pernah menjadi bangsa yang akur bahkan sampai sekarang.

“Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya” (Kejadian 16: 12).

Kalau indikasi bahwa suasana kebatinan bangsa kita adalah benar bahwa kita adalah bangsa yang yatim, yang cirinya suka bertikai, apakah yang harus kita perbuat? Sebuah pertanyaan yang jawabannya masih memerlukan diskusi. Namun sebelum menyembuhkan penyakit batin “fatherless“ kita perlu mengakui kalau Itu memang keadaan kita. Karena pengakuan yang tulus (bukan penyangkalan) adalah awal dari mencari solusi yang benar. (DD)

Questions’
1. Bagaimana ciri- ciri seorang anak yang “fatherless“?
2. Benarkah suasana batin bangsa Indonesia adalah bangsa yang fatherless? Mengapa ?

Values:
Sebagai warga kerajaan, kita memanggil Allah dengan Bapa, hingga kekosongan batin seseorang tak berayah dapat digantikan oleh pengenalan akan kasih Allah.

Prilaku seorang yang menyimpang dan kasar sering terjadi karena keluarga yang broken atau keluarga yang tak berayah. (***)


 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here