Pembahasan Otsus, Aktivis Papua : Plh Gubernur Papua Dijadikan Tameng Loloskan Keinginan Otsus

0
473

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  – Aktivis Papua, Alexander Gobai menilai pembahasan Otonomi Khusus di Awal bulan Juli akan berbenturan dengan keinginan Jakarta dan keinginan Orang Papua melalui kerja-kerja MRP dan DPRP.

Pasalnya, MRP telah mendaftarkan Kasus Otsus di MK bertujuan menguji Materi Otsus, dimana DPRRI yang hingga kini membahasa RUU Perubahan kedua Otsus atas kehendak sendiri. Hal yang sama pun dilakukan DPRP melalui Pansus Otsus, yang telah menemui DPRRI meminta agar evaluasi otsus agar dievaluasi semua pasal, bukan hanya dua pasa, yakni pasal 76 dan pasal 35.

Menurut Gobai, Plh Gubernur papua dijadikan Tameng untuk kepentingan Jakarta. Keinginan melanjutkan Otsus, Pemekaran, Anggaran dan menepis Persoalan-persoalan lainnya di tanah Papua.

“Saya pikir, pembahasan Otsus yg akan dilakukan pada bulan Juli dengan penangkatan Plh Gubernur Papua yang baru akan berpengaruh penuh. Karena, hingga kini Gubernur Papua Lukas Enembe belum pernah mengeluarkan pernyataan tentang Otsus, sementara Plh. Gubernur Papua,l dari sebelumnya telah mengeluarkan pernyataan baik pemekaran dan Otsus,” Kata Gobai Kepada Awak Media di Abepura, Selasa, (29/06/2021).

Menurut Gobai, Otsus ibaratnya nona manis yang sedang diperebutkan oleh semua pihak. perubutan dari elit politik Papua dan Pemerintah Pusat. masing-masig memiliki niat tertentu.

“Saya berharap, Plh Gubernur Papua jelih melihat keinginan orang asli Papua selama ini, Meski nuansa politik sedikit berbeda karena ada dorongan pemerintah pusat selama ini,” Ujarnya.

Ia menilai, Jakarta telah memetahkan persoalan Papua demi menjatuhkan sesama manusia orang asli Papua dengan memberikan berbagai penghargaan, hadia dan lainnya guna orang papua makan orang Papua.

“Salah satunya Sekda bisa menjari Plh, meski secara aturan dan UU tepat. namun, proses sesama manusia Papua, mesti bangun komunikasi dan koordinasi sehingga saling menerima. Namun, itu pun tidak diterjadi. Otomatis, konflik dan saling curgai terjadi. Itulah kehebatab Jakarta,” Katanya.

kata dia, Masyarakat Papua sedang melihat ada sebuah stigma atau skenario baru yang dimainkan jakarta pusat untuk saling menjatuhkan dan membedah-bedahkan, antara gunung dan pantai.
kini kini telah terjadi.

“Stigma itu bagian dari Rasis memecahkan persatuan sesama bangsa Papua. Jakarta, ko stop memainkan skenario,” Ujarnya.

berharap, sesama orang Papua mesti saling mendukung dan saling menguatkan bukan mencari dan membuat masalag hanya karena kepentingan Jakarta.

“Sebagai anak adat, saling menghargai sesama suku dan sebangsa Papua adalah menghargai harga diri orang asli Papua. bukan karena ada jabatan dan Uang,” Katanya. (***)


 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here