PERANG WAKTU : “dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Efesus 5:16

0
155

PERANG WAKTU
“dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Efesus 5:16

Dalam sebuah pertempuran maka untuk meraih kemenangan dibutuhkan pemahaman bukan hanya kekuatan personel lawan dan jenis persenjataannya, melainkan juga medan pertempurannya. Dalam pertempuran melawan Irak untuk merebut Kuwait dan juga menggulingkan Presiden Saddam Husein, Pasukan Amerika yang melakukan misi penyerangan dengan kode sandi Dessert Storm (Badai Gurun) mendesain warna baju tentaranya dengan warna coklat gurun, yang tujuannya adalah menyesuaikan dengan medan pertempuran atau kondisi padang gurun pasir.

Dalam aspek rohani, kita semua pernah mendengar istilah peperangan rohani, yang biasanya dikonotasikan dengan sebuah tindakan berdoa melawan roh-roh jahat. Tetapi ternyata Firman Tuhan yang kita baca saat ini menunjukkan kepada kita sebuah area peperangan (battle ground) yang berbeda.

Area ini bukanlah bicara mengenai tempat, melainkan sebuah hal yang disebut waktu. Tentu bukan waktu dalam arti benda, melainkan kualitas hidup kita dalam menggunakan waktu-waktu tersebut. Allah menunjukkan betapa seriusnya medan pertempuran ini yang digambarkan dengan memakai istilah waktu, yaitu “hari-hari ini”, yang diberi penekanan dengan kalimat “betapa jahatnya hari-hari ini”.

Kabar baiknya adalah bahwa Allah tidak hanya tunjukkan area atau medan pertempurannya, melainkan juga menunjukkan strategi yang perlu dilakukan untuk memenangkan pertempuran rohani tersebut.

Strategi itu adalah pergunakanlah waktu-waktu yang ada. Hal itu berarti bagaimana cara menggunakan waktu kita akan menjadi penentu bagaimana kita memenangkan situasi kehidupan kita. Yesus sendiri saat selesai menang dari pencobaan Iblis di padang gurun, masih akan menjadi target Iblis. Lukas 4:13, “Sesudah Iblis mengakhiri semua pencobaan itu, ia mundur dari pada-Nya dan menunggu waktu yang baik.” Hal itu berarti kita perlu terus membangun kesadaran akan makna dari sebuah waktu. Dunia memberi makna dengan berkata bahwa waktu adalah sebuah harta yang tidak bisa ditabung tetapi harus dibelanjakan.

Seorang penulis terkenal mencoba menggambarkan makna dari sebuah waktu sebagai berikut: Jika ingin tahu makna 1 tahun, bertanyalah kepada siswa yang tidak naik kelas. Jika ingin tahu makna 1 bulan, tanyalah kepada Ibu menunggu saat kelahiran atau bahkan terlambat melahirkan setelah lewat dari usia kandungan 9 bulan.

Jika ingin memahami 1 minggu, bertanyalah kepada wartawan yang harus hadapi dateline mingguan. Jika ingin tahu makna 1 hari bertanyalah kepada pekerja harian, jika ingin mengetahui makna 1 jam, bertanyalah kepada pasukan pemadam kebakaran dalam misi pemadaman. Jika ingin tahu makna 1 menit, bertanyalah kepada orang yang terlambat tiket pesawat. Jika ingin tahu makna 1 detik bertanyalah kepada pelari yang kalah saat masuk garis finish. Jadi apa makna waktu bagi Anda? (HA)

Questions:
1. Bagaimana Anda mengisi waktu-waktu Anda saat ini?
2. Apa yang dimaksud dengan “hari-hari ini adalah jahat”?

Values:
Bagaimana cara menggunakan waktu kita akan menjadi penentu bagaimana kita memenangkan situasi kehidupan kita.

Memenangkan waktu kita berarti memenangkan pertempuran rohani dalam hidup kita.

“Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.”
__ 2 Korintus 4.18

Ketika Yesus hidup bersama manusia di bumi ini, Ia sadar benar bahwa waktuNya di dunia ini hanya sebentar. Oleh sebab itu Ia tetap fokus pada apa yang menjadi kehendak BapaNya dan Ia mengerjakannya hingga selesai.

Ketika Petrus memusatkan pandangannya kepada Yesus, maka ia dapat berjalan di atas air mengarah kepada Yesus. Namun ketika ia mengalihkan pandangannya kepada hal-hal disekitarnya, maka ia mulai tenggelam.

Rasul Petrus mengajarkan kita bahwa ketika kita memfokuskan perhatian kita pada hal-hal duniawi maka ketakutan, kekuatiran, hawa nafsu, dan berbagai hal lainnya akan berusaha untuk menenggelamkan kita. Namun ketika kita memusatkan fokus dan perhatian kita pada Tuhan satu-satunya sumber pengharapan dan kekuatan kita maka Ia akan mengangkat dan menyelamatkan kita.

Selama kita hidup di dunia ini, perlawanan kita sesungguhnya bukanlah melawan darah dan daging melainkan melawan penguasa-penguasa kegelapan dunia ini melalui prinsip-prinsip yang ditawarkannya dan juga kekuasaan yang mereka miliki. Iblis berusaha untuk membuat kita menjadi kuatir dan takut. Akan tetapi janji Tuhan selalu penuh dengan pengharapan dan membawa damai.

So, pertanyaannya adalah kemana arah padangan kita? Apakah mata kita tertuju pada badai dan gelombang kehidupan yang menerpa? Ataukah mata kita tertuju pada Anak Allah yang hidup?
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
__ Mikha 6.8

Terkadang apa yang perlu kita lakukan dalam hidup ini sangat sederhana dan biasa bukan? Kita perlu memperlakukan orang-orang di sekitar kita dengan adil — melatih kesabaran dan berurusan dengan orang lain dengan adil, tanpa memihak. kita perlu mempraktekkan belas kasihan — memberkati orang lain yang membutuhkan dengan apa yang tidak pantas mereka terima tetapi sangat mereka butuhkan. Kita perlu berjalan dengan rendah hati bersama Tuhan — dan menyadari bahwa tanpa kasih karuniaNya dan bantuanNya kita akan gagal.

Kiranya Tuhan memberikan kepada kita kemampuan untuk melakukan 3 hal sederhana ini dalam kehidupan kita.

“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.”
__ Roma 15.13

Dalam musim kehidupan kita, terkadang ada masa dimana kita jatuh namun bisa kembali bangkit dengan cepat; namun ada kalanya kita berada di lembah yang kelam dan merasa terpuruk di sana.

Kata pengharapan dalam ayat ini berarti menantikan hal yang sudah pasti ada. Begitulah janji Tuhan bahwa Ia adalah sumber pengharapan. Ia tidak menjanjikan harapan palsu ataupun kata-kata penghiburan yang hambar. Kehidupan dan bahkan orang terdekat sekalipun tidak dapat kita prediksi; namun Tuhan selalu dapat dipercaya. Ia menawarkan kehidupan ketika kita putus asa.

Dengan percaya padaNya, kita sedang memberikan keputusasaan kita kepada-Nya, dan Ia menawarkan kepada kita sukacita, kedamaian, dan harapan yang melimpah sebagai gantinya.

Permasalahan/situasi apa yang sedang kita alami saat ini? Apakah kita percaya kepadaNya sebagai sumber pengharapan kita? (***)


 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here