IBADAH ONLINE VS IBADAH ONSITE

0
64

IBADAH ONLINE VS IBADAH ONSITE

“Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.”Yakobus 1:26

Tidak terasa sudah setahun lebih kita melewati masa wabah Covid-19 di Indonesia. Masih segar dalam ingatan saya ketika saya sedang mengikuti kegiatan diklat di Bogor pada awal Maret 2020.

Saat itu Presiden Jokowi menyatakan Covid-19 resmi sebagai wabah di Indonesia, tidak berapa lama terdengar berita terjadinya penyebaran virus Covid-19 dalam suatu kebaktian di salah satu gereja terbesar di kota Bogor yang menyebabkan meninggalnya pemimpin gereja tersebut. Pemerintah kemudian bergerak cepat dengan melakukan pembatasan fisik dan sosial agar mengurangi terjadinya penularan virus Covid-19, salah satunya yaitu pertemuan-pertemuan ibadah seperti kebaktian di gereja-gereja.

Akhir Maret 2020 banyak gereja yang kemudian mengalihkan kebaktiannya menjadi kebaktian secara online menggunakan media sosial seperti YouTube, Facebook, Instagram, Zoom, dan yang sejenisnya. Ketika Pemerintah mencanangkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di bulan April 2020, akhirnya semua gereja di Indonesia beralih ke ibadah online, karena memang ada pengawasan yang cukup ketat saat itu terhadap berbagai kegiatan pertemuan fisik.

Setelah beberapa kali mengalami fase pasang surutnya penyebaran Covid-19, akhirnya Pemerintah memberikan kelonggaran terhadap kegiatan pertemuan fisik, termasuk kegiatan ibadah di gereja, sehingga kita dapat kembali beribadah secara fisik di gereja meskipun jumlah jemaat dan waktunya dibatasi.

Kita mulai menyebut ibadah fisik di era wabah Covid-19 sebagai ibadah onsite (di gedung gereja), sebab selain dilakukan secara fisik umumnya gereja-gereja juga tetap menyiarkannya secara online di media sosial.

Tapi ada juga gereja-gereja yang masih bertahan untuk tidak melakukan ibadah onsite dengan cara tetap beribadah secara online, dikarenakan gereja itu berada di daerah yang penyebaran virus Covid-19-nya sangat tinggi.

Kita ternyata bukan saja berjuang menghadapi wabah Covid-19 beserta dampaknya, tapi juga harus menghadapi fenomena baru perihal ibadah online. Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa jemaat jangan ibadah online saja melainkan harus datang ke ibadah onsite. Alasannya adalah bahwa ibadah online dinilai kurang rohani atau khusuk seperti ibadah onsite.

Bahkan ada yang beranggapan jika orang yang hanya beribadah secara online adalah orang-orang yang imannya rendah karena takut tertular virus Covid-19. Ada juga yang membandingkan mengapa orang lebih berani pergi ke mall dan tempat kerja dari pada pergi beribadah onsite di gereja.

Saya sepakat dengan Ibrani 10:25 bahwa apapun yang terjadi, sekalipun ada wabah Covid-19, kita tidak boleh meninggalkan pertemuan-pertemuan ibadah, seperti kebaktian.

Namun Yakobus 1:26 juga menegaskan bahwa ibadah kita akan menjadi sia-sia jika kita tidak mengekang atau menjaga lidah kita, salah satu contohnya adalah mengomentari orang lain yang lebih memilih ibadah online dari pada ibadah onsite, apalagi sampai menilai iman mereka jauh lebih rendah dari pada iman yang beribadah onsite. Toh tidak ada satupun dari kita yang mampu menilai isi hati dan motivasi seseorang saat ia sedang beribadah, entah ibadah onsite ataupun ibadah online.

Janganlah kita memusingkan ibadah mana yang lebih rohani, lebih khusuk atau lebih berkenan di hadaan Tuhan. Entah ibadah secara online ataupun onsite, tetap yang Tuhan lihat adalah hati kita yang justru tidak dapat dilihat oleh orang lain.

Yang paling penting, apapun yang terjadi kita harus tetap beribadah kepada Tuhan, bagaimanapun caranya, dan datanglah beribadah dengan hati yang tulus dan penuh sukacita, bukan karena intimidasi. Amin (YMH)

Questions:
1. Bagaimana Anda beribadah saat ini, apakah secara online ataukah onsite?
2. Jika Anda memilih beribadah online, apa alasannya?Jika secara onsite, apa juga alasannya?

Ingatlah bahwa sebuah koin memiliki 2 sisi. Jangan cepat2 menghakimi orang lain atas dasar asumsi kita, karena kita hanya baru melihat dari 1 sisi. Hanya Tuhan yang tahu motivasi hati orang tersebut, bahkan kadang dia sendiri tidak paham motivasi dari perilakunya.

Ingatlah bahwa ukuran apa yang kita gunakan dalam menghakimi saudara kita, ukuran yang sama yang akan Tuhan gunakan untuk menghakimi kita.

Kita dibenarkan karena kasih karuniaNya; marilah kita juga mengasihi orang lain karena kita sudah terlebih dahulu di kasihiNya. (***)


 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here