Ucap Syukur Bukti Cinta Yang Tulus : Tuhan Memberkati Kita Semua

0
374

UCAP SYUKUR BUKTI CINTA YANG TULUS

“Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!” Mazmur 100:4

Seorang wanita sambil menangis datang ke kantor polisi. “suamiku tidak pulang tolong carikan karena aku tak bisa hidup tanpa dia.” Tenang nyonya, “sejak kapan suami Anda tidak pulang?” Sambil menangis lebih keras ia berkata, “sudah dua Minggu Pak polisi.” “Mengapa Anda menunggu begitu lama baru berusaha mencarinya?” Kata Pak polisi. “ya Pak hari ini tanggal dua, biasanya setiap tanggal satu dia memberikan uang gajiannya kepada saya.”

Mungkin pada awalnya beberapa orang mencari Tuhan karena bermasalah, sampai akhirnya ia menemukan pertolongan Tuhan. Tetapi percayalah Tuhan ingin mengembangkan sebuah hubungan yang lebih berkualitas. Yaitu sebuah kualitas cinta di mana kita mencintai Tuhan karena kita mencintai-Nya bukan karena berkat-Nya.

(http://mauliutus.org/web/artikel/199-lima-roti-dan-dua-ikan )

Jika kualitas cinta kita kepada Tuhan seperti ini, baru kita bisa mengucap syukur senantiasa. Mengucap syukur walaupun ada hal yang kelihatan buruk menimpa hidup kita.

Mungkin Anda bertanya apakah salah kalau kita mencari Tuhan karena kita butuh pertolongan-Nya? Jawabannya sama dengan wanita dalam cerita tersebut. Apakah salah mencari suaminya saat ia butuh uang suaminya? Tentu secara umum tidak salah, hanya motivasinya yang kurang benar. Wanita ini menganggap suaminya hanya ATM. Apakah Anda juga menganggap Tuhan seperti ATM? Mari kembangkan hubungan dengan Tuhan yang lebih berkualitas.

Cerita tersebut hanya lelucon, namun cerita ini bisa mengingatkan kita, bahwa kita seringkali bersikap mirip wanita dalam cerita itu. Kita mencari Tuhan hanya karena kita butuh berkat-Nya, kita tidak butuh Tuhan setiap saat. Motivasi kita mencari Tuhan hanya demi keuntungan diri kita sendiri. Sama seperti wanita dalam cerita tadi, dia butuh uang suaminya, bukan figur suaminya. Bukankah kita juga demikian, kita makin rajin beribadah saat kita butuh pertolongan-Nya ?

Kita pernah mendengar lagu pujian, yang syairnya “ku masuki gerbang-Nya dengan hati bersyukur, halaman-Nya dengan pujian.” Ucapan syukur membuka pintu gerbang hati Tuhan. Anak saya yang terkecil suka berterimakasih kepada saya untuk hal-hal kecil yang saya lakukan, misalnya mengantar ke rumah temannya, atau membelikan buku pelajaran.

Sebagai papanya saya tidak membutuhkan ucapan terima kasih karena itu kewajiban saya. Namun hati saya disenangkan dengan sikap hatinya yang suka berterima kasih. Saya sangat senang bisa menolongnya. Karena saya melihat ketulusan hati anak saya mencintai saya yang adalah papanya.

Saya percaya kualitas kasih Tuhan terhadap anak-anak-Nya lebih sempurna dari kualitas kasih saya sebagai seorang papa. Dia juga seorang Bapa, sehingga ucapan syukur dari anak-anak-Nya akan menyenangkan hati-Nya. Bagaimana dengan Anda, sudahkah Anda punya hubungan cinta yang mesra dengan Tuhan, sehingga Anda bisa mengucap syukur senantiasa? (DD)

Questions:
1. Bagaimana seandainya anak Anda mengasihi Anda hanya karena Anda suka memberi hadiah kepadanya?
2. Sudahkah Anda mengasihi Tuhan dengan kualitas kasih yang murni?

Values:
Seperti bapa mengasihi anaknya demikian kasih Tuhan kepada kita anak-anak-Nya.

Ucapan syukur senantiasa terjadi dari kualitas hati yang mengasihi tanpa pamrih.

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.”
__ Matius 6.1

Sebagai orang percaya, belas kasihan seharusnya merupakan gaya hidup kita. Belas kasihan bukan untuk kemuliaan pribadi, atau sekedar perasaan belaka; melainkan memotivasi kita untuk bertindak demi kepentingan terbaik dan untuk kebaikan yang lebih besar bagi mereka yang membutuhkan.

Belas kasihan bukan tentang kita, dan bukan untuk menarik perhatian dan meninggikan nama kita. Melainkan untuk mengenalkan Kristus kepada dunia. Tuhan menyediakan apa yang kita butuhkan untuk memberkati orang lain dan tujuan kita adalah untuk menyenangkan DIA. Apa yang ada pada diri kita saat ini bukan milik kita melainkan merupakan tanggung jawab kita untuk di kelola dan untuk dipergunakan bagi kemuliaan Tuhan. (***)


 

_________________________________________________________________

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here