Sudahkan Kita Menjadi Pelayan dan Berkorban Bagi Orang Lain ???

0
236

KAMU TIDAK TAHU APA YANG KAMU MINTA

“Lalu kata mereka: “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang lagi di sebelah kanan-Mu dan yang seorang di sebelah kiri-Mu.” Tetapi kata Yesus kepada mereka: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum dan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima?” Markus 10:37-38.

Sebagai orang tua kita mungkin pernah menerima permintaan dari anak kita, misalnya mereka meminta dibelikan motor padahal usia mereka masih di bawah umur. Permintaan seorang anak hanya mempertimbangkan kesenangan tanpa bisa berpikir tanggung jawab yang diakibatkan dari permintaan itu.

Secara praktek, selain anak anda, banyak juga orang yang punya sikap seperti murid Yesus, Yohanes dan Yakobus anak-anak Zebedius. Seperti ayat bacaan hari ini, mereka berharap mendapatkan kehidupan yang lebih mulia, kehidupan yang nyaman dan menguntungkan, yaitu hidup mendapat fasilitas VIP atas dasar pemberian, bukan usaha. Permintaan yang sebenarnya tidak etis dan kurang ajar yaitu meminta posisi elit dan terhormat, duduk di sebelah kiri kanan Yesus di dalam kemuliaan. Sebuah permintaan yang bukan main-main, meminta kedudukan atau kekuasaan, tanpa memahami tanggung jawab.

Atas permintaan Yohanes dan Yakobus, Yesus tidak secara langsung menolak permintaan mereka tetapi secara terus terang memberitahu kenaifan mereka dan juga memberi tahu konsekuensi berat dari posisi mulia atau kekuasaan. Yaitu apakah mereka siap untuk berkorban secara total, Yesus menegaskan “kamu tidak tahu apa yang kamu minta, dapatkah engkau minum cawan yang harus kuminum?”.

Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln pernah berkata; “jika ingin mengetahui karakter seseorang berikan dia kekuasaan”. Karakter terbentuk dari konsisten dan tetap bertanggung jawab dalam masa sulit. Jika seseorang dalam masa hidupnya selalu menghindari kesulitan atau tanggung jawab maka dapat dipastikan ia tak mungkin dapat bertanggung jawab saat didudukkan pada posisi di puncak kekuasaan.

Saat di posisi puncak otomatis ia tak akan “memberdayakan” bawahannya tetapi justru akan “memperdayakan” bawahannya. Dalam ungkapan bahasa Jawa “koyo Petruk dadi ratu“. Yaitu bersikap semena-mena dan otoriter saat mendapatkan kekekuasaan. Itulah naluri asli manusia yang tak mungkin disembunyikan saat mendapat kekuasaan. Lalu apakah kita tak boleh bermimpi mempunyai kekuasaan?

Pelajaran yang terpenting yang harus kita renungkan, bukanlah bagaimana caranya mendapat kekuasaan tetapi sudahkah kita belajar menikmati cawan penderitaan seperti yang Yesus minum?


Sudahkah kita rela menjadi pelayan dan berkorban bagi orang lain? Saya bisa mendengar dengan jelas suara Yesus Sang Guru di telinga saya “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta“. (DD)

Questions:
1. Benarkah untuk menguji karakter seseorang bisa kita lihat jika orang tersebut diberi kekuasaan?
2. Pelajaran apa yang anda dapatkan dari renungan diatas?

Values:
Setiap warga Kerajaan harusnya sadar melayani adalah fokus utamanya bukan berkuasa.

Kekuasaan cara dunia didapat dari menaklukkan, kekuasaan cara sorga didapat dari melayani.

“sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih. Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”
__ Efesus 3.17-19

Rasul Paulus mengingatkan kita untuk saling terhubung erat satu dengan lainnya dalam kasih. Bukan hanya sekedar untuk memahami misteri alam semesta atau mendalami ajaran Alkitab; melainkan untuk membagikan kasih Kristus yang memampukan kita untuk memberkati orang lain dengan kasih yang sudah kita terima.

Pengetahuan, ketrampilan, kepintaran, kekuatan, pengalaman, dll memang dapat membantu kita untuk menjadi lebih baik, melakukan banyak hal baik; akan tetapi KASIH dapat melakukan jauh lebih banyak. Kasih mengajar kita untuk berbagi dan memberkati orang lain. Kasih sanggup menutupi berbagai kesalahan dan mampu membantu agar kesalahan tersebut tidak diulangi kembali. Tanpa kasih, apapun yang kita lakukan tidak peduli sehebat apapun tidak akan berarti apa-apa. (***)


 

_________________________________________________________________

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here