Sebab Dimana Dua atau Tiga Orang Berkumpul Dalam Nama-Ku, Disitu Aku Ada di Tengah – Tengah Merek

0
1402

🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Jumat 12 Maret 2021

Bacaan Setahun:
Imamat 17-18
1 Timotius 1

DEWASA DALAM PEMIKIRAN

“Saudara-saudara, janganlah sama seperti anak-anak dalam pemikiranmu. Jadilah anak-anak dalam kejahatan, tetapi orang dewasa dalam pemikiranmu!” 1 Korintus 14:20

Rasul Paulus memperingatkan agar kita jangan sama seperti anak-anak dalam pemikirannya, karena seorang anak kecil masih memerlukan orang tua untuk mengarahkan hidupnya, sedangkan orang yang telah dewasa sanggup mengatur dan mengarahkan dirinya sendiri karena ia bertanggung jawab penuh atas apa yang dilakukannya.

Kita harus tetap menjadi anak-anak dalam kejahatan, artinya menjadi orang yang tidak tahu menahu soal berbuat jahat, menjadi orang yang pemikirannya polos dan tulus serta sama sekali tidak punya kelicikan dan niat jahat, seperti anak-anak yang masih bayi yang polos dan murni pikirannya, mereka bersih dari segala macam bentuk intrik dan motivasi kejahatan.

Kita harus menjadi dewasa dalam pemikiran. Seiring pertumbuhan dan perkembangan pola pikir dan kerohanian kita menjadi dewasa kita juga memerlukan makanan yang keras karena makanan yang keras adalah untuk orang-orang dewasa yang memiliki pola pikir dan panca indera yang terlatih untuk membedakan yang baik daripada yang jahat serta terus melatihnya dengan senantiasa mempraktekkan kebenaran dan ketaatan.

Sebagai orang yang dewasa, kita harus tegas menolak sistem dunia dan terus memperbaharui hidup kita sehingga dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Sebaliknya, Rasul Petrus menegaskan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan (1 Petrus 2:2).

Sebagai anak Allah yang telah dilahirkan kembali kita seharusnya selalu ingin susu murni Firman Allah dan kerinduan yang mendalam untuk makan dari Firman Allah serta memiliki kelaparan dan kehausan akan Firman Allah.

Rasul Paulus juga mendefinisikan bahwa orang yang dewasa rohaninya, mereka yang memiliki kepenuhan Kristus. Seseorang yang dewasa rohani tidak akan mudah goyah dan tertipu oleh ajaran palsu. Mereka memiliki cara pikir dan cara pandang seperti Kristus, cara pikir yang dikuasai dan senantiasa dibaharui oleh Roh Kudus melalui pertobatan serta iman percaya kepada Tuhan Yesus. Amin (RSN)

Questions:
1. Masihkah kita memiliki kerinduan yang mendalam untuk makan dari Firman Allah?
2. Apakah yang mempengaruhi sehingga kita tidak lagi memiliki kelaparan dan kehausan akan Firman Allah?

Values:
Tingkat kedewasaan seseorang dapat diukur dari kesanggupannya mengatur dan mengarahkan dirinya sendiri serta bertanggung jawab penuh atas apa yang dilakukannya.

Orang yang dewasa memiliki pola pikir dan panca indera yang terlatih untuk membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

“Sebab Dimana Dua atau Tiga Orang Berkumpul Dalam Nama-Ku, Disitu Aku Ada di Tengah – Tengah Mereka.”
__ Matius 18.20

Tuhan menciptakan kita sebagai tubuh Kristus; satu tubuh yang memiliki 1 kepala yaitu Kristus. Kita diciptakan untuk bergerak dalam kesatuan, menjalankan fungsi masing2 untuk mencapai tujuan yang sama.

Ketika sebagai satu tubuh kita sepakat, maka disanalah Kristus dinyatakan. Ketika kita saling berselisih satu sama lain; kita sedang tidak menyatakan Kristus melalui kehidupan kita.

Secara pribadi kita berbeda satu sama lain, akan tetapi sebagai tubuh Kristus kita adalah satu dan memiliki tujuan yang sama.

1 tubuh memiliki banyak bagian, bisa dibayangkan jadinya jika tangan ingin menjadi kaki atau sebaliknya? Atau ketika salah satu anggota tubuh ingin menonjol dan tidak mepedulikan anggota tubuh lainnya? Sudah pasti yang terjadi adalah disfungsi atau disabilitas. (***)


 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here