Kisah Inspiratif Jonathan Warinussy, Bikin Cafe Dengan Modal Rp 50 Ribu

0
1937
Jonathan Warinussy berpose dengan pakaian adat Papua (Foto : Facebook Jonathan Warinussy)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)- Bagi sebagian orang, pekerjaan terbaik adalah melakukan hobi yang bisa menghasilkan uang. Ini pula yang memotivasi Jonathan Warinussy, wirausahawan muda Papua yang sukses dengan Cafe Rasta miliknya. Kisah sukses Jonathan bermula dari jualan kue lontar.

Jonathan Warinussy lahir di Jayapura, 12 Desember 1991, Anak ketiga dari lima bersaudara dari pasangan Yeremias Warinussy (Alm) dan Dorce Mambay ini merupakan lulusan Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) tahun 2017.

Mempunyai talenta dibidang kuliner membuat Jonathan terus mencari cara agar bisa mendapat uang dari bakatnya tersebut. Peluang itu datang ketika hasil pembuatan kue lontarnya laris manis di pasaran.

Awalnya, hanya bermodalkan Rp. 50 ribu, Jonathan membuat kue lontar kalau di Papua biasa disebut Pie Susu. Dana itu ternyata sisipan dari uang makan Jonathan sehari-hari.

Dengan kemauan yang gigih dan pantang menyerah, Jonathan terus berusaha dan hasilnya, ia mampu membuka sebuah cafe dengan mengembangkan keuntungan yang didapat dari hasil penjualan pie susu.

“Saya jual kue lontar dengan harga Rp.100 ribu per piring, dalam sehari tiga pering kue lontar terjual, dengan modal yang terkumpul itu saya memutuskan membuka Cafe,” kata Jonathan kepada lintaspapua.com di Jayapura belum lama ini.

Ketika mulai meniti karir sebagai seorang wirausaha, saat itu dia sembunyikan dari orang tua. Bukan tidak mau melihat niat kerja keras Jonathan tetapi, karena pemikiran orang tua yang beranggapan bahwa menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) saja yang berguna bagi keluarga, ditambah lagi ibu Jonathan merupakan pensiunan PNS.

“Nanti usaha saya sudah mulai berkembang, baru saya kasi tahu mama dan puji Tuhan direspon sangat baik,” tuturnya.

Pria asal Pulau Kurudu, sebuah Distrik di Kepulauan Yapen, Papua memberi nama cafe tersebut “Cafe Rasta” yang terletak di Jalan Cilaki nomor 59, Bandung, Jawa Barat, tepatnya bersebelahan dengan Asrama mahasiswa Papua.

Nama Cafe Rasta terinspirasi dari warna musik yang memang disukai oleh anak-anak Papua umumnya. Tapi sebenarnya nama Rasta sendiri mempunyai arti “Rasa Timur Asli”.

“Kebanyakan anak-anak dari Indonesia timur menyukai ganre musik reagge makanya saya pakai nama itu,” ujarnya.

Salah satu menu unggulan di cafe Rasta, Papeda dan ikan kuah kuning (Istimewa)

Kota Bandung yang dikenal dengan kota kuliner membuat pria 29 tahun itu termotivasi membuka usaha disana dengan memperkenalkan kuliner khas ala Indonesia timur macam Papeda, ikan Bakar resep bumbu Papua dan nasi kuning Rasta.

“Jadi makanan khas dari Indonesia timur saya pasarkan di cafe, yang menjadi menu unggulan itu Papeda sama nasi Kuning Rasta, peminatnya banyak,” kata Jonathan.

Bisnis cafe rasta yang diguluti sejak 5 Februari 2016 berjalan dengan prospek yang cukup bagus dan kini Jonathan telah memperkerjakan lima karyawan, semunya anak asli Papua yang masih berstatus sebagai mahasiswa di salah satu universitas di Bandung.

Untuk urusan harga per sajian diberikan tarif sesuai kantong mahasiswa yang berkisar antara Rp. 10 sampai 20 ribu. Selain itu ada beberap paket yang ditawarkan kepada pelanggan seperti paket Noken (Nongkrong Keren).

“Jadi ada live musiknya, dan hanya anak-anak Papua yang nyanyi,” ujarnya.

Dijelaskan “Dai” sebutan untuk laki-laki dari Kepulauan Yapen, meski tempat yang dipakai untuk usaha masih terikat kontrak dengan pemerintah kota Bandung tetapi omsetnya per bulan mencapai jutaan rupiah.

“Per bulan itu omset bisa enam sampai tujuh juta rupiah, itu laba bersih yang saya dapat,” ungkap Jonathan.

Saat ini dia semakin serius menekuni bisnis yang sementara dijalankan. Rencananya Jonathan ingin membuka cabang di daerah terdekat yaitu di Sumedang. (Gracio/lintaspapua)


 

_________________________________________________________________

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here