Warga Kerajaan Allah Tidak Menjadi Hakim Bagi Sesamanya

0
137

🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Selasa 2 Maret 2021

Bacaan Setahun:
Imamat 4
Matius  21

MENGHAKIMI SESAMA MANUSIA

“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Matius 7:1

Mungkin banyak dari Anda yang tidak menyadari bahwa di Indonesia tanggal 1 Maret adalah termasuk sebagai salah satu tanggal yang penting dan bersejarah, yaitu hari kehakiman nasional, sebagai peringatan tentang usaha kekuasaan kehakiman Indonesia mandiri dan terlepas dari pengaruh kekuasaan eksekutif.

Namun kali ini saya ingin mengajak Anda untuk merenungkan perihal; menghakimi menurut pandangan Alkitab.


Sebenarnya Alkitab adalah kitab pertama dan tertua yang menuliskan mengenai hakim dan menghakimi. Kata “Hakim” (Ibr: shaphat) pertama kali digunakan di dalam Kejadian 16:5, yang menunjukkan peran Tuhan sebagai Pribadi yang menghakimi, memerintah, menghukum, dan memutuskan perselisihan.

Bukan hanya itu, Alkitab juga mencatat saran Yitro kepada Musa di Keluaran 18:13-27 tentang sistem lembaga peradilan berjenjang yang pertama kali di dunia, yang sampai hari ini masih diterapkan di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.

Namun Alkitab juga memuat pesan Tuhan Yesus di Matius 7:1, yaitu: “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.” Maksud ayat ini bukanlah berarti Tuhan Yesus tidak mau kita tidak mempedulikan kesalahan orang lain, atau tutup mata terhadap terjadinya kejahatan di sekitar kita.

Tuhan Yesus juga sama sekali tidak menentang lembaga peradilan dan jabatan hakim. Yang Tuhan Yesus maksudkan adalah kita tidak boleh menggunakan standar ganda dalam menilai orang lain. Misalnya, kita menilai kesalahan kita sebagai sesuatu yang enteng atau ringan, sementara kesalahan orang lain kita pandang sebagai sesuatu yang berat. Atau dapat juga dalam bentuk pemberian pengecualian-pengecualian tertentu jika yang melakukan kesalahan adalah orang-orang yang kita hormati atau sayangi.

Larangan menghakimi sesama kita bermakna bahwa jangan ada sifat kemunafikan dalam hubungan antara sesama kita. Sebab sesungguhnya ketika kita menghakimi sesama kita, maka kita sendiri sedang membuka peluang untuk dihakimi oleh orang lain.

Di saat kita kritis menilai orang lain, maka orang lain pun akan mempertanyakan secara kritis apakah kita sudah menghidupi nilai tersebut. Alkitab justru mengajarkan bahwa hubungan sesama manusia harusnya dilandasi oleh sikap saling menasihati dan membangun (1Tesalonika 5:11), dan ditujukan bukan untuk mencari-cari kesalahan orang lain dan menjatuhkannya.

Ingatlah, saat ada saudara kita yang melakukan kesalahan, janganlah kita menghakiminya. Tunjukkanlah ketulusan kita untuk mengasihi dan membawanya kembali ke jalan yang benar, dengan cara menasihati dan membangunnya. Sikap menghakimi hanya akan melahirkan kebencian dan pertengkaran di antara kita, tetapi kasih yang tulus membawa pemulihan bagi mereka yang terhilang. (YMH)

Questions :
1. Menurut Anda, mengapa Tuhan Yesus melarang kita menghakimi sesama kita?
2. Apakah Alkitab menentang lembaga peradilan dan jabatan hakim? Jelaskan.

Values :
Warga Kerajaan Allah tidak menjadi hakim bagi sesamanya, sebab Sang Raja sendirilah yang menjadi hakim di Kerajaan Allah.

Langit memberitakan keadilan-Nya, sebab Allah sendirilah Hakim. (Mazmur 50:6). (***)


 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here