Kasih Itu Sabar; Kasih Itu Murah Hati ; Ia Tidak Cemburu. Ia Tidak Memegahkan Diri dan Tidak Sombong.

0
156

🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Sabtu 13 Februari 2021

Bacaan Setahun:
Mzm. 95
Kel. 17-18
Mat. 4

TOXIC RELATIONSHIP
“Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” 1 Korintus 13: 5-7

Setiap bulan Februari, orang merayakan hari Valentine yang konon merupakan hari kasih sayang. Sayangnya, banyak orang tidak memahami apa itu cinta dan kasih. Dari pasangan kekasih, pasangan suami istri, hingga orang tua dengan anak, semua bisa menjalani hubungan yang meracuni atau toxic relationship.


Dilansir dari Alodokter.com, toxic relationship atau hubungan beracun adalah istilah untuk menggambarkan suatu hubungan tidak sehat yang dapat berdampak buruk bagi keadaan fisik maupun mental seseorang. Ada beberapa tanda-tanda dari toxic relationship ini: selalu dikontrol pasangan, sulit menjadi diri sendiri, tidak mendapat dukungan, selalu dicurigai dan dikekang, sering dibohongi, atau malah menerima kekerasan fisik.

Padahal, firman Tuhan mengatakan dengan jelas: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri”. Kenyataannya, banyak orang mempergunakan rasa cinta orang lain untuk menguntungkan dirinya sendiri. Mereka menganggap, karena mereka dicintai, mereka berhak melakukan apapun kepada pasangan/anak.

Tak jarang, mereka juga melakukan pemerasan emosional semacam, “Kok kamu gitu, sih? Kamu nggak sayang sama aku!” atau “Kalau kamu nggak mau, kamu berarti nggak sayang sama aku!”

Orang yang terjebak dalam toxic relationship berpotensi kehilangan rasa percaya diri dan kebahagiaan. Hal ini bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental maupun fisik. Karena itulah, kita tidak boleh menjadi toxic/racun yang membinasakan karakter orang lain, walau alasannya adalah rasa cinta.

Jika Anda sering merendahkan pasangan/anak, memperlakukan pasangan/anak secara tidak adil, atau menjadikan mereka sasaran pelampiasan kemarahan, maka ingatlah, apa yang Anda lakukan itu bukanlah berdasarkan rasa cinta kasih, tapi berdasarkan kesombongan dan ego Anda sendiri. (PF)

Questions :
1. Mengapa kita tidak boleh memanfaatkan cinta untuk mencari keuntungan?
2. Bagaimana cara kita mengasihi pasangan dan anak kita?

Values :
“Toxic people attach themselves like cinder blocks tied to your ankles, and then invite you for a swim in their poisoned waters.” (John Mark Green)

Jangan menjadikan cinta sebagai sarana mencari keuntungan sendiri.
“tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”
__ Yesaya 40.31

Lelah? Rasanya ingin menyerah kadang dengan kondisi yang seperti ini, entah kapan bisa usai? Badai kali ini memang rasanya lama sekali, sepertinya ia enggan berlalu. Banyak jalan serasa
buntu, semakin banyak yang perlu dilakukan dan diusahakan untuk bisa bertahan.

Firman Tuhan menjanjikan bahwa Ia akan memberikan kita kekuatan baru ketika kita setia menantikan Tuhan.

Kita tidak lagi menjadi lelah dan letih melainkan semakin kuat untuk terbang semakin tinggi. Nantikanlah Tuhan, Ia tidak sedang berlama-lama. Tetaplah teguh pada imanmu san nantikanlah Dia. (***)


 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here