Jelang Pilkada Masyarakat Keerom Deklarasi Pembentukan Kabupaten  Yafi

0
145

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  – Menjelang perhelatan demokrasi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) serentak 9 Desember 2020, masyarakat Kabupaten Keerom, Provinsi Papua akan gegap gempita  menggelar Deklarasi Pembetukan Kabupaten  Yafi – pemekaran dari kabupaten induk Keerom sebagai bagian integral program utama  pembangunan  pasangan calon Bupati Dr.Yusuf Wally. SE.MM  dan  Wakil Bupati Hadi Susilo.

Adapun lima distrik yang akan masuk ke dalam wilayah otonom baru Kabupaten Yafi adalah Distrik Web, Senggi, Yafi, Towe dan Distrik Keisenar.

“Cita-cita dan harapan masyarakat di lima distrik itu untuk membentuk daerah otonom baru Kabupaten Yafi sudah sangat lama terpateri di dalam sanubari rakyat setempat namun baru dapat terlaksana  pada Sabtu 28 November. Cita-cita dan harapan masyarakat tersebut sangat cepat ditangkap oleh calon bupati Yusuf Wally dan wakil bupati Hadi Susilo yang menjadikan cita-cita masyarakat itu sebagai program utama pembangunan Kabupaten Keerom,” kata salah seorang warga masyarakat Keerom, Yeremias Seran di Arso, ibukota Kabupaten Keerom, Jumat.

Deklarasi pembentukan  Kabupaten Yafi  dan pesta akbar masyarakat  adat Keerom yang dihadiri ribuan warga Keerom akan berlangsung  di Senggi yang merupakan bakal calon ibukota Kabupaten Yafi.

Deklarasi pembentukan Kabupaten Yafi ditandai pembukaan selubung papan nama Kabupaten Yafi di Senggi oleh Yusuf Wally dan Hadi Susilo dalam suasana gegap gempita penuh hikmah kebijaksanaan.

Calon Bupati Yusuf Wally mengatakan, dirinya pernah menjabat Bupati Keerom dan sangat berpengalaman menahkodai pemerintahan Kabupaten Keerom  sehingga sangat memahami aspirasi rakyat Keerom untuk memekarkan kabupaten induk ini menjadi dua kabupaten yakni Kabupaten Keerom dan Kabupaten Yafi.

Tujuan pemekaran tidak lain adalah  untuk memperpendek rentang kendali pemerintahan dan pembangunan serta pelayanan kepada rakyat demi kesejahteraan seluruh rakyat di lima wilayah distrik itu.

Menurut dia, dirinya bertekat, paling lambat  pada sekitar  dua tahun ke depan, pihaknya bersama seluruh masyarakat Kabupaten Keerom sudah harus berhasil membentuk Kabupaten Yafi karena cita-cita pemekaran ini sudah sangat lama terbendung dalam sanubari rakyat di wilayah ini. Kini tiba waktunya untuk dideklarasikan.

“Saya  bersama Hadi Susilo bukanlah orang baru di Kabupaten Keerom. Bersama rakyat, kami terus bergandengan tangan untuk membangun peradaban baru di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi kerakyatan dan infrastruktur di wilayah yang berbatasan langsung dengan Negara Papua Nugini,” katanya.

Yusuf Wally menyatakan dirinya bersama Hadi Susilo  merasa sangat terharu ketika  menyaksikan semangat rakyat Keerom yang berkobar-kobar membentuk Kabupaten Yafi,  apalagi rencana akbar deklarasi pembentukan Kabupaten Yafi justru  datang dari masyarakat adat Kabupaten Keerom di lima distrik itu, pemuka masyarakat, pemangku adat dan tokoh pemuda.

Yusuf Wally bersama Hadi Susilo sudah berkomitmen  selama sekitar empat tahun ke depan akan melaksanakan program Bantuan Keuangan  Kepada Kampung (BK3) untuk memberdayakan  dan menggenjot usaha  ekonomi kerakyatan demi kesejahteraan bersama. Program pemberdayaan ini sudah berhasil dlaksanakan ketika Yusuf Wally menjabat Bupati Keerom pada 10 tahun yang lalu.

Pasangan Yusuf Wally dan Hadi Susilo diketahui merupakan pasangan calon bupati dan wakil bupati yang pada Pilkada serentak tahun 2020 ini menempuh jalur independen.  Pasangan  ini lolos verifikasi dengan jumlah dukungan terverifikasi sebanyak 5.937 dari syarat 5.477 yang harus dipenuhi.

“Kami menghimbau seluruh rakyat Kabupaten Keerom agar pada Pilkada serentak 9 Desember nanti, menjauhkan  diri dari politik uang yang dilakukan pasangan calon bupati dan wakil bupati lainnya. Suara dan nurani rakyat Keerom tidak boleh digadaikan dengan uang yang haram itu. Kami menduga  pasangan tertentu   akan sangat gencar  menghamburkan uang untuk membeli suara rakyat,” katanya mengingatkan.

Untuk itu, pihaknya akan menempatkan para saksi sebanyak mungkin  di setiap TPS dan di setiap sudut kampung untuk mengawal jalannya pesta demokrasi ini.

Bagaimanapun juga  harga diri rakyat Keerom tidak dapat dan tidak boleh dibeli atau digadaikan seperti orang menggadaikan barang di Pegadaian atau menawar barang jualan di pasar.

“Rakyat itu memilih pemimpin yang merakyat dan yang sudah kenyang dengan pengalaman  lapangan, bukan memilih seorang kontraktor untuk mengerjakan proyek  atau memilih pedagang untuk menjual bensin, atau memilih dosen untuk mengajar di  perguruan tinggi,”  tegas Wally.

Memilih seseorang untuk menjadi kontraktor maka dia akan menjadikan rakyat seperti proyek yang mudah tertipu  jumlah campuran semen dengan pasir saat dia  membangun jembatan.

Memilih seseorang untuk menjadi pedagang bensin akan membuat rakyat seperti bensin yang mudah tersulut api membakar emosi rakyat untuk selalu berunjuk rasa. Memilih seseorang menjadi dosen atau guru maka rakyat akan dijadikan sebagai murid atau mahasiswa yang selalu disuapi ilmu pengetahuan tanpa inisiatif dan mandiri sementara sang guru sendiri  terus berkoar-koar tanpa beri kesempatan kepada siswa untuk aktif  bertanya. (****)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here