Surat Cinta Untuk Kekasihku Otonomi Khusus, Oleh : Igir Al’Qatiri

0
678

SURAT CINTA UNTUK KEKASIHKU OTONOMI KHUSUS

Apakabarmu duhai kekasih durjana?

Masih kurasakan, masih kuhayalkan, masih kuimpikan, masih kuinginkan bercinta denganmu

Otsus, Otsus, Otsus.

Kemesraan itu masih tetap tertinggal menjadi saksi bisu di tepi ranjang kenyataan yang berduri bagaimana dosa keserakahan itu terbuai dalam ingatanku tentang hasrat mendua.

Sungguh kekasih diriku sangat meyanyangimu di kedalaman jiwa terdalam. Salah apakah diri ini hingga dikau tega menghianati dan menyia-nyiakan kesetianku?

Mengapa dirimu tega berselingkuh dengan para penguasa di atas tanah Papua hingga cintamu begitu menjauh dari kesejahteraan yang dikau janjikan bagi rakyat Papua?

Aku mabuk dalam candu janji yang dikau ikrarkan. Seluruh mimpi dan harapan membumbung tinggi setinggi langit yang tiada terpeluk bumi. Pada akhirnya diriku terjerembab dalam kecewa sebuah dusta diujung janji, karena dikau tiada kunjung tergapai hingga senyumku menjauh dari kebahagian dalam jiwa.

Kekasihku apakah Aku harus mempercayaimu sedangkan perih dusta yang menggores ini masih terus menghantui dalam kecewa, setelah puluhan tahun kita bersama merajut benang benang asmara namun kesejahteraan itu tiada kunjung tergapai?

Semoga tiada rindu yang terluka dalam percintaan kita wahai kekasih yang terlacuri dalam kelam birahi penguasa berbinal keserakahan. Hingga membuat ranjang gairah begitu panas ciptakan subur kemelaratan rakyat Papua.

Tolong katakan padaku apakah Aku masih harus mempercayaimu wahai Otsus sang debar jantung yang menerbangkan layang layang mimpi penuh percikan darah rakyat Papua yang terputus harapan berjemari semu?

Otsus dirimu adalah sang pecinta yang handal, permen manis yang sesungguhnya racun pahit. Banyak kemunafikan bersembunyi di balik topeng kenyataan. Hingga generasi muda Papua hari ini terkadang menjadi pecundang ciptakan ruang sekat menyekat dalam kelam rasisme yang liar merajalela di atas tanah Papua hingga garis keturunan kaum perempuan hilang pengakuan.

Otsus dikau mampu membuat tak jarang kaum intelektual Papua terlihat sangat bodoh mereka selalu menyalahkan dirimu. Sedangkan para penguasa yang liar berkuasa dengan serakah begitu rakus mempergunakan dana Otsus hingga terlihat mereka menjadi konglomerat berperut buncit di tengah rakyatnya yang miskin papa tak di salahkan. Bahkan seolah menjadi pahlawan yang di puja sanjung dan di rindukan. Inilah sebuah takdir yang mati konyol sungguh mengerikan manakala keteledoran berkuasa.

Otsus engkau berada dalam badai penolakan akan tetapi sesungguhnya dirimu di rindukan di atas tanah Papua. Ibarat rindu dan benci saling bercumbu dalam kemesraan cinta hingga tiada arti makna logika bersama senyapnya nada nada kepentingan.

Otsus hari ini yang terlihat di bumi Papua kedatanganmu hanya membuat para pejabat Papua menjadi raja di raja sedangkan masyarakat Papua tiada mampu terselamatkan dari penyakit kronis kemelaratan ini sejenis racun mematikan yang menyedihkan saat keserakahan liar berkuasa.

Otsus oh Otsus dirimu adalah rindu yang tak berujung diantara dekap mesra penolakan yang tak bertepi. Banyak keinginan para penguasa berdansa binal di dalamnya, hingga dekap kasih sayangmu pada masyarakat Papua salah peruntukannya.

Meskipun Aku di surga akan tetapi jika rakyat Papua tak dapat menggapai damai kesejahteraan di tengah hasil alamnya yang tumpah ruah kemungkinan besar Aku takkan sempurna memeluk arti kebahagiaan.
Papua dikau yang terindah dan yang terbaik yang pernah kumiliki. Tiada tergantikan wahai yang tercinta.

Jika cinta adalah kedamain, maka merdeka dalam kesejahteraan suatu kaum adalah kemesraannya.

Oleh : Igir Al’Qatiri
Pertapaan jiwa
28/09/2020

_________________________________________________________________

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here