Tokoh Adat dan Gereja di Sentani Akan Gelar KKR untuk Pemulihan Secara Menyeluruh

0
390
Ondofolo Kampung Sereh yang juga Ketua Umum Presidium Putra Putri Pejuang Pepera (P5) Provinsi Papua Yanto Eluay (Irfan /LPC)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA)  – Tokoh-tokoh adat dan hamba-hamba Tuhan dari beberapa denominasi gereja yang ada di Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, akan menggelar Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) di Lapangan Theys Hiyo Eluay, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura pada Sabtu (7/11/2020) pagi ini, dengan tujuan utama adalah pemulihan secara menyeluruh (transformasi multi dimensi) di daerah ini.

Kegiatan rohani bertajuk “Transformasi Multi Dimensi bersama sebagai anak negeri” dengan tema “Bangkitlah Menjadi Terang (Yesaya 60:1)” dan sub tema “Inilah waktu pemulihan para pemimpin, jangan sampai terlambat” itu bertujuan untuk doakan Kota Sentani, Kabupaten Jayapura.

Seperti diungkapkan Yanto Eluay, Ketua Panitia Pelaksana KKR. “Tujuan daripada kegiatan Kebaktian Kebangunan Rohani atau KKR kali ini, untuk pemulihan yang sesuai dengan tema ‘Bangkittlah Menjadi Terang yang diambil dari Kitab Yesaya 60:1,” tutur Yanto Eluay yang juga Ondofolo Kampung Sereh saat dikonfirmasi wartawan media online ini, Jumat (6/11/2020) sore.

Lanjut Yanto Eluay, pemulihan secara menyeluruh dalam perilaku hidup itu meliputi hukum adat, juga pemulihan dari hukum Tuhan serta pemilihan dari hukum yang berlaku di negara Indonesia ini.

“Dimana, kami bersama denominasi gereja, tokoh-tokoh adat, yang merupakan inisiasi dari beberapa hamba-hamba Tuhan, tokoh-tokoh gereja dan tokoh-tokoh agama Kristen yang ada di Kabupaten Jayapura khususnya di Sentani yang melayani di gereja-gereja yang ada di Kota Sentani, akan melakukan KKR guna pemulihan segala hal dalam perilaku hidup, yang meliputi hukum adat, hukum Tuhan dan juga hukum yang berlaku di negara kita ini,” imbuhnya.

Tujuan dari KKR sendiri menurut Yanto Eluay, untuk kegiatan besok (hari ini) pihaknya melibatkan semua Ondofolo, Khose dan masyarakat adat Puyakha-Sentani. “Jadi semua masyarakat adat suku Sentani, lewat KKR besok (hari ini) akan di doakan untuk dipulihkan dalam semua aspek kehidupan seperti yang saya sampaikan diatas. Yakni, masyarakat adat harus taat dan patuh pada hukum adat, hukum Tuhan dan juga hukum yang berlaku di negara ini,” jelas pria yang juga Ketua Presidium Putra Putri Pejuang Pepera (P5) Provinsi Papua.

“Kita ini disebut masyarakat hukum adat, berarti kita adalah komunitas yang ada aturan-aturan atau norma-norma hukum adatnya. Banyak hal-hal dari sisi tatanan adat atau norma-norma adat yang selama ini tidak kita jalankan secara baik itu berdampak juga pada hubungan kekerabatan dan persaudaraan. Sehubungan kita ketahui, sering terjadi permasalahan-permasalahan, terjadi keributan dan konflik sampai korban harta benda, bahkan korban nyawa,”.

“Nah, ini semua yang harus kita pulihkan. Dan, lewat kegiatan KKR (rohani) tersebut, gerakan-gerakan ini terus kita kembangkan sampai ke kampung-kampung. Baik dalam pemulihan konteks kampung, masyarakat adat harus taat dan patuh terhadap hukum adat. Norma-norma dan juga nilai-nilai adat, yang ada sejak dahulu kala atau sejak turun-temurun harus dipatuhi,” sambungnya.

Rencananya dalam KKR ini, Yanto juga menyampaikan, pihaknya juga mengucap syukur terhadap berkat Tuhan, karena ada salah satu tokoh adat asal Sentani yaitu Theys Hiyo Eluay yang namanya diabadikan pada bandara internasional di daerah ini.

“Dalam kegiatan rohani ini, kita juga ada doa untuk mensyukuri berkat-berkat Tuhan yang terjadi di masyarakat adat Suku Sentani. Salah seorang tokoh adat asal Suku Sentani yang diabadikan namanya menjadi nama bandara internasional di Sentani yaitu Theys Hiyo Eluay,” paparnya.

“Inilah berkat yang harus kita syukuri dan harus kita berterima kasih kepada Tuhan. Karena proses untuk nama ini di abadikan menjadi nama sebuah bandara itu kan sudah melewati tahapan hukum ya, baik itu kajian akademik lewat lembaga negara di tingkat provinsi dalam hal ini DPR Papua beserta Pemerintah Provinsi Papua itu tahapannya sudah jalan dan juga sudah diputuskan lewat satu peraturan daerah. Ini yang harus kita syukuri, kita mengucapkan syukur kepada Tuhan, berterima kasih kepada Tuhan atas berkat-berkat Tuhan kepada kita,” tukasnya. (Irf)

_________________________________________________________________

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here