🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩 : KESEMPATAN ATAU KESEMPITAN

0
187

🇰 🇮 🇳 🇬 ‘🇸 🇸 🇼 🇴 🇷 🇩
Sabtu 17 Oktober 2020

Bacaan Setahun:
Yer. 52
Mzm. 74
Rat. 1

KESEMPATAN ATAU KESEMPITAN

“Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau utus.” Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa dan Ia berfirman: “Bukankah di situ Harun, orang Lewi itu, kakakmu? Aku tahu, bahwa ia pandai bicara; lagipula ia telah berangkat menjumpai engkau, dan apabila ia melihat engkau, ia akan bersukacita dalam hatinya.”Keluaran 4:13-14

Dalam beberapa tahun terakhir ini di dunia entertainment di Indonesia semakin semarak dengan munculnya komedian-komedian tunggal atau yang biasa disebut berprofesi sebagai stand up comedy. Beberapa stasiun televisi swasta menggelar berbagai ajang kompetesi yang melahirkan begitu banyak komedian tunggal stand up.

Beberapa nama besar juga telah dimunculkan menjadi idola baru anak muda antara lain Cak Lontong, Panji Pragiwaksono, Ernest Prakasa, Dodit Mulyanto. Namun yang menarik dari munculnya berbagai latar belakang para stand up comedian ini adalah munculnya seseorang yang bernama Aditya Dani, seseorang anak muda yang cacat fisik dari kota Malang Jawa Timur, tidak bisa berdiri, hanya duduk di kursi roda dan dengan suara sedikit cedal, dan karena kondisi kecacatannya sering alami peristiwa bully.

Alih-alih terus terpuruk dalam kondisi cacat tubuh dan juga ejekan orang di sekitar, Aditya Dani justru menjadikan panggung stand up comedy agar orang bisa “tertawa bebas dan penuh hormat“ terhadap kondisi dirinya dan karya kreativitasnya.

Firman Tuhan yang kita baca menggambarkan sebuah panggilan istimewa dan kesempatan dari Tuhan yang diberikan Tuhan kepada Musa untuk melakukan sebuah misi heroik, bersejarah, yaitu membawa orang Israel keluar dari tanah mesir, dimulai dari tugas pertama yaitu menghadap raja Firaun. Berhadapan dengan raja Firaun sebenarnya bukanlah hal yang mengejutkan karena Musa dulu dibesarkan bahkan dilatih dalam lingkungan istana Firaun, bahkan Musa adalah anak angkat dari Istri Firaun periode dahulu.

Pasca masa pelariannya selama 40 tahun, Allah memanggil Musa kembali melalui cara yang unik yaitu “semak api yang tidak terbakar“. Tapi respon Musa justru ragu, yang ditunjukkan dengan terus mencari alasan berkaitan dengan eksistensi Tuhan, kuasa-Nya, tetapi pada akhirnya bermuara pada kelemahan dirinya.

Fokus Musa pada kelemahannya membuat Musa melihat kesempatan Tuhan menjadi sesuatu yang menyesakkan (kesempitan). Pertanyaan pentingnya adalah sebagai mantan anak angkat raja, tentunya Musa telah dibekali berbagai kemampuan termasuk kemampuan berkomunikasi. Sebagian catatan sejarah yahudi mengungkapkan bahwa penyebab kondisi “gagap bicara” Musa diperkirakan karena sebuah kecelakaan pada masa kecil akibat memasukkan “bara api” menyentuh lidah Musa.

Bersyukur bahwa Allah kita terus fokus kepada anugerah pilihan-Nya dan bukan kepada kelemahan kita. Allah selalu ingin memakai kita dengan memberikan kita berbagai kesempatan untuk melayani dan berkarya, hanya bagi kita sendiri apakah itu merupakan kesempatan atau justru sesuatu yang menyesakkan (kesempitan)? (HA)

Questions :
1. Pernahkah Tuhan mengutus Anda untuk melakukan kehendak-Nya? Apa respon Anda?
2. Apakah perintah Tuhan itu sebuah kesempatan yang berharga atau kesempitan bagi diri Anda? Jelaskan.

Values :
Allah selalu ingin memakai kita dengan memberikan kita berbagai kesempatan untuk melayani dan berkarya, apakah kita mau memanfaatkannya?

Cukup sebuah “ikatan“ untuk mengubah kesempatan menjadi kesempitan.
“Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”
__ Matius 13.32

Kita seringkali terobsesi dengan sukses yang besar dan dramatis, perubahan yang signifikan, cepat dan terlihat WOW. Akan tetapi perumpamaan biji sesawi membandingkan prinsip cara kerja Kerajaan Surga dengan hal-hal kecil yang tersembunyi, tidak terlihat, atau bahkan terkadang terlihat tidak penting, ataupun lambat.

Kita diajar untuk hidup menurut cara-Nya, cara yang berbeda dengan dunia, yakni dengan bertahan, menahan godaan untuk mengambil alih masalah dengan menggunakan kekuatan kita sendiri, bertahan untuk tidak meraih kekuasaan dan tidak membenarkan diri dengan berkompromi dengan cara dunia.

Biji yang kecil ketika berada di tangan Tuhan, akan tumbuh menjadi pohon yang besar, kokoh dan menghasilkan buah yang baik. Semua sesuai dengan jalan-Nya dan sesuai dengan waktu-Nya. (****)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here