JAYAPURA \ (LINTAS PAPUA) – Tenaga Ahli Deputi V Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Republik Indonesia, Laos Deo Calvin Rumayom, S,Sos, M,Si, berharap pemerintah daerah provinsi Papua, melalui Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura dan RSUD Dok II Jayapura agar segera membayarkan utang kontraktor yang sudah bekerja dengan baik membangun fasilitas kesehatan di kedua Rumah Sakit ternama tersebut, pada tahun 2015-2016.

Karena sampai saat ini, tidak ada itikad baik untuk membayar kepada Kontraktor yang sudah melaksanakan pekerjaan itu dengan baik dan selesai tepat waktu sesuai dengan Surat Perintah Kerja (SPK), bahkan saat ini sudah dinikmati oleh masyarakat Papua.


Lanjut Laos Rumayom bahwa, berdasarkan Surat pengaduan yang masuk ke Kantor Kepresidenan RI mengadukan bahwa, tidak ada kejelasan pembayaran pekerjaan proyek dari pemerintah Provinsi Papua kepada kontraktor. “Ini sangat disayangkan karena teman-teman kontraktor inikan sudah berusaha bekerja menyelesaikan kebutuhan rumah sakit, namun setelah proses pekerjaan itu selesai, ternyata pembayaran itu tidak dilakukan,”uangkap Laos.

Maka berdasarkan pengaduan tersebut, kata Laos bahwa pihak-pihak terkait sudah dipanggil mulai dari direktur RSUD Abepura yang baru, kemudian mantan kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai, mantan Direktur RSUD Dok II Jayapura, Dokter Jery Msen dan pihak terkait lainnya dan telah terjadi pertemuan di Kantor Kepresiden RI untuk mencari solusi agar bisa diselesaikan.


“ya jadi setelah terjadi pertemuan, Deputi Lima Kantor Kepresidenan RI suda mengirim surat ke Dinas Kesehatan maupun RSUD Abepura, untuk segera harus dibayarkan, namun ternyata sampai hari ini kami cek ternyata belum dibayarkan, makanya kami harus turun untuk menanyakan lagi, solusia apa yang akan diberikan oleh pemerintah Papua,”ungkapnya.
Kata Laos pada waktu pertemuan di KSP mereka (pihak RSUD Abepura, RSUD dok II dan Dinas Kesehatan Provinsi Papua) suda berjanji bahwa akan menyelesaikan pembayaran pekerjaan kepada Kontraktor atas nama Syamsiyah CV. Citra Persada.

“Solusinya seperti apa harus jelas penyelesaian mereka kepada teman-teman Kontraktor biar mereka tidak merasa dikorbankan,”harap Laos.
Karena bagaimanapun Jasa teman-teman Kontraktor ini sangat besar, dimana mereka telah membantu pemerintah daerah dalam mewujudkan pembangunan infrastruktur sesuai dengan kebutuhan di rumah sakit pada waktu itu dan hasilnya sudah dipakai.

“Oleh karena itu, kami menunggu jawaban dari Direktur RSUD Abepura dan Kepala Dinas kesehatan kapan mereka bayar, karena mereka suda berjanji saat rapat di KSP. Poin-poin Rapat juga sudah ada, dima telah sepakat bersama. Itu yang jadi dasar untuk kita mengingatkan mereka,”ungkap Laos, mengahiri wawancara dengan Suara-Perubahan.Com sabtu (4/7)2020.

Sementara itu dalam wawancara khusus dengan salah satu Kontraktor Ibu Syamsiah Direktur CV. Citra Persada yang telah mengerjakan proyek pembangunan fasilitas kesehatan di RSUD Abepura dan RSUD Dok II Jayapura berharap ada solusi yang baik dari pemerintah Provinsi Papua, untuk segerah menyelesaikan pembayaran pekerjaan yang telah dikerjakan pada tahun 2015-2016.

“Kemana lagi saya akan mengadu, saya ini orang kecil, saya warga Negara Indonesia yang baik, saya ini bukan penjahat sampai harus dilawan oleh pemerintah, saya membangun lo, berdasarkan surat perintah dan hasil karya kami telah dipakai oleh masyarakat luas sampai sekarang, ada buktinya,” tuturnya sedih.

Syamsiah menceritakan kronologis kasus tersebut, dimana dirinya telah menyurati dan mengadu ke semua pihak, mulai dari inspektorat,BPKRI, DPR Papua, Sekda Papua, Kapolda Papua, termasuk ke pengadilan, namun tidak ada solusi, maka dibawakan dan melaporkan ke Deputi V Kantor Kepresiden Republik Indonesia di Jakarta.

“Saya punya bukti semua surat-surat, dan foto-foto dan dokumentasi lainnya mulai dari 0 % – 100  persen pekerjaan yang dikerjakan, dan perjuangan mencari solusi ini selalu saya ikuti arahan dari pihak-pihak yang saya datangi, namun sampai saat ini tidak ada kejelasan,” terangnya.
Dirinya bertanya kenapa teman-teman Kontraktor lain bisa dibayar, padahal pekerjaannya tidak selesai. Ada juga kontraktor yang baru saja kerja malah dibayarkan duluan, sementara pihaknya CV. Citra Persada yang bekerja lebih dulu dan telah menyelesaikan pekerjaan tidak dibayarkan. Jadi ini aneh sengaja dimainkan dan terkesan ada proses pembiaran.

“Saya ini bekerja sungguh-sungguh penuh tanggungjawab, dan hari ini hasilnya sudah dinikmati oleh masyarakat banyak ,” pungkasnya.

Dijelaskan semua yang dikerjakan itu untuk mengejar status rumah sakit menjadi Akreditas dan itu terwujud. “pokonya kami kerja memperbaiki semua yang disuruh, karena untuk mengejar status rumah sakit yang akan diakreditasi dan untuk menyambut kedatangan bapak presiden Jokowi pada waktu itu sehingga rumah sakit harus dibuat bagus, mulai dari pembangunan gedung ruang anak/balita, pagar, papan nama, hingga drainase dll, itu semua kami yang kerjakan namun sayang tidak ada yang dibayarkan,” ungkapnya prihatin.

Syamsiah yang diwawancarai sesekali terhenti karena harus mengusap air matanya, seakan tak sanggung lagi menghadapi semua yang dialaminya. Rumah dan asset berharga miliknyapun mau disita oleh pihak bank Papua, karena terlilit utang pinjaman modal yang digunakan untuk mengerjakan proyek di kedua RS ternama tersebut.

Dari kejadian tersebut mengakibatkan sesama kontraktor yang ikut tender bekerja menyelesaikan proyek di kedua RS ternama di Papua yaitu Syanida M, Direktur CV. Indokamala pikiran hingga jatuh sakit (strok) sampai hari ini belum sembuh, termasuk Bagas Mafner anak Papua yang menjabat Direktur CV.Bungga Persada mengalami depresi berat hingga gangguan jiwa sampai saat ini belum sembuh juga.

“lalu apa yang salah terhadap kami, apa yang disuruh kami kerja sudah dikerjakan dengan baik dan selesai 100 persen. Semoga kasus ini bisa terselesaikan dengan baik, kami masih berharap niat baik dan solusi dari pemerintah Papua,” harapnya.

Diketahui bahwa kasus pembangunan proyek fasilitas kesehatan di rumah sakit Abepura dan Dok II Jayapura, pekerjaannya suda dilakukan pada masa direktur Dokter. Jhon Manangsang dimana beliau yang memerintahkan dan telah dianggarkan dalam APBD, dalam perjalanan Dokter Jhon Manangsang digantikan oleh dokter Niko Barens. Sementara Direktur RSUD Dok II , Dokter Yery Msen yang memerintahkan, dan itupun sama dan digantikan oleh dokter Yosep Rinta. Dengan melibatkan tiga Kontraktor yaitu CV. Citra Persada, CV. Indokamala dan CV. Bunga Persada. (Mozes)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here