Para perawat dan tenaga kesehatan RSUD Kwaingga saat menyampaikan keluhan mereka kepada Wakil Bupati Keerom, Piter Gusbager, SHut, MUP, di RSUD Kwaingga, kemarin (22/5/2020). (Arief /LPC)

Karena Tak Diberi Insentif dari Satgas Covid-19 dan Nyatakan Siap untuk Istirahat

KEEROM (LINTAS PAPUA) – Para tenaga kesehatan yang bertugas di ruang keperawatan dan pelayanan RSUD Kwaingga mengeluhkan atas apa yang dirasakan mereka selama bertugas dimasa pandemi Covid-19 di Kabupaten Keerom.

Mereka mengeluhkan apa yang dirasakannya kepada Wakil Bupati Keerom, Piter Gusbager, SHut, MUP, yang datang ke RSUD Kwaingga, pada Jumat (22/5/2020) kemarin.

Kedatangan Wakil Bupati ke RSUD Kwaingga adalah untuk menyerahkan bantuan APD. Usai penyerahan ia pun bersedia menemui para tenaga kesehatan yang hendak menyampaikan keluhan mereka di ruang kerja Direktur RSUD Kwaingga.

Mereka mengeluhkan apa yang dirasakannya kepada Wakil Bupati Keerom, Piter Gusbager, SHut, MUP, yang datang ke RSUD Kwaingga, pada Jumat (22/5/2020) kemarin. (Arief /LPC)

Para tenaga kesehatan yang ikut menyampaikan keluhannya dari bagi ruang rawat inap pria, wanita dan anak-anak, ruang bersalin, loket, poli dan lainnya. Dalam penyampaian ini, para tenaga kesehatan ini didampingi Direktur RSUD Kwaingga, dr. Eka Soeci, SKM, MKes.

Pada kesempatan tersebut para tenaga kesehatan menyampaikan keluhan dan pertanyaan mengapa mereka yang juga turut bekerja mendukung tugas Satgas Covid-19, tetapi tidak memperoleh insentif seperti tenaga kesehatan lainnya.

‘’Sesuai SK Menkes Nomor HK.01.07/Menkes/278/2020 tentang pemberian insentif dan santuan kematian bagi tenaga kesehatan yang menangani Covid-19, maka kami seharusnya juga memperoleh inesntif, tetapi yang diberikan hanya di bagian ruang isolasi, IGD Triase, sementara kami tidak, padahal dalam SK Menkes tersebut kami jelas termasuk, ini yang kami keluhkan,’’ujar salah seorang tenaga kesehatan pada kesempatan tersebut.

Bahkan para perawat pada kesempatan tersebut juga menyampaikan bilamana memang mereka tak mendapat insentif karena dianggap tidak diperlukan untuk mendukung apa yang dilakukan bagian pelayanan dan penanganan covid-19, maka mereka menyatakan siap untuk beristirahat dulu.

Sementara, Direktur RSUD Kwaingga, dr. Eka, menyampaikan bahwa keluhan para Nakes tersebuty sudah disampaikan kepadanya, dan ia pun telah berusaha menghubungi Kadinkes Keerom. ‘’Saya sudah telpon dan WA, namun hingga saat ini belum direspon bpk Kadinkes,’’ujarnya kepada Wabup.

Atas keluhan tersebut, Wakil Bupati Keerom, menyampaikan bahwa ia akan meminta kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Keerom sebagai kuasa pengguna anggaran. ‘’Atas pengaduan dari tenaga kesehatan ini saya terima laporannya. Untuk penanganan Covid-19 kita sudah tahu unit mana yang berada didepan, dan untuk Dinkes dan PDK Keerom adalah dinas yang tak ada potongan apapun terkait refocussing anggaran penanganan Covid-19, jadi anggaran bagi mereka relatif cukup tersedia,’’ujarnya.

Ia menambahkan dari anggaran penanganan Covid-19 di Kabupaten Keerom sebesar Rp. 50 M, sebesar Rp. 8 M diantaranya dialokasikan untuk Dinkes. ‘’Maka saya perintahkan Kadinkes untuk membayarkan insentif bagi semua unit sesuai dengan apa yang telah kita seriusi. Baik di loket, poli, ranap, harus dibayarkan, untuk kesehatan tak boleh ada pengecualian semua harus dibayar, ini sesuai dengan SK Kemenkes No. HK.01.07/Menkes/278/2020 ttg pemberian insentif dan santunan kematian bagi tenaga kesehatan yang menangani Covid-19,’’tambahnya.

Ia juga meminta agar rencana istirahat kerja yang disampaikan Nakes tersebut, ia meminta agar tidak dilakukan. ‘’Saya minta itu (istirahat nakes, red) jangan dilakukan, nanti masyarakat susah dan kita semua susah, tetap bekerja dan akan saya perintahkan Kadinkes selaku KPA Dinkes untuk membayarkan insentif bagi Nakes sesuak SK kemenkes tersebut,’’ujarnya. (arief/lintaspapua.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here