Menuju Sion

Kiriman dari:
Ricky Silooy

“Mereka berjalan makin lama makin kuat, hendak menghadap Allah di Sion.” (Mazmur 84:8)

Ayat pemazmur di atas memperlihatkan suatu fenomena unik mengenai perjalanan atau pendakian umat Tuhan ke bukit Sion. Biasanya jika mendaki gunung maka kita akan semakin berkurang kekuatan karena kelelahan atau langkah kita melambat. Tapi yang terjadi adalah kebalikannya. Mereka (umat Allah) melangkah semakin kuat menuju puncak bukit (Sion). Masalah demi masalah akan membuat kekuatan kita berkurang. Apabila Anda hidup dalam tekanan, suka atau tidak suka, iman Anda akan menurun. Anda perlu menambahkan iman Anda. Anda memerlukan kekuatan dari Tuhan.

Alkitab mencatat tiga kali dalam setahun seorang laki-laki harus menghadap hadirat Tuhan di Yerusalem untuk merayakan “hari raya Roti tidak beragi, hari raya Tujuh Minggu dan hari raya Pondok Daun”. Jadi tiga kali dalam satu tahun, setiap laki-laki harus kembali untuk mencari Tuhan di Yerusalem, yaitu di Bukit Sion.

“Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!” (Mazmur 84:6). “Mengadakan ziarah” yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah mencari Tuhan. Artinya orang yang mengandalkan Tuhan, orang yang mencari Tuhan sekalipun mengalami masalah, tekanan dan masa-masa yang sukar, tapi hal-hal itu tidak akan membuat mereka turun. Malah dalam masa-masa sulit mereka mengayunkan langkah lebih cepat mencari Allah.

Secara rohani Allah menginginkan umat pilihan-Nya untuk naik bukan turun. Untuk mencari Tuhan kita harus naik . Banyak perkara dengan Tuhan terjadi di atas gunung (bukit). Musa dan Abraham disuruh Tuhan naik ke gunung. Pada waktu Musa di atas gunung, Tuhan memberikan satu perintah kepada Musa. “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.” (Ulangan 8:3). Memang ada kelaparan di tengah kita, ada kekeringan di tengah kita, ada padang gurun di depan kita, janji Tuhan masih jauh di depan. Namun ketika kita ada di atas gunung, Tuhan memberikan petunjuk: “Jika kamu mau hidup di padang gurun, di tengah-tengah keadaan yang sangat sulit, maka jangan terlalu banyak mencari roti.” Kita harus membagi waktu antara sibuk mencari roti dan sibuk mencari petunjuk Tuhan. Jadi harus ada keseimbangan antara roti dan firman.

Mengapa kita harus mendaki ke Sion ? Karena di Sion secara rohani ada firman dan pengajaran tentang Allah Israel. “Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: ‘Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.'” (Yesaya 2:2-3).

Firman Tuhan adalah makanan rohani kita karena itu haruslah kita lapar dan haus akannya. Semakin haus firman, kita semakin cepat ayunkan langkah ke Sion. Banyak pelayan Tuhan setelah mencapai target tertentu tidak lagi antusias membaca dan menyelidiki firman Tuhan. Ritme langkah ke Sion mulai melambat. Fokus ke segala bentuk aktivitas pelayanan dan organisasi membuat kita menyepelekan meditasi firman Tuhan. Kita menjadi “Martha-Martha modern” dan jarang duduk diam seperti Maria. Mari kita ayunkan langkah ke Sion

Lagu lama “Oleh karena Sion ku tak dapat berdiam diri. Oleh karena Sion kerja Yesus ku mau lakukan…” Mereka yang masuk barisan dengan tujuan Sion akan semakin mempercepat langkah karena cintanya kepada panggilan surgawi. Seperti Paulus yang berlari kepada panggilan sorgawi (Sion) mari kita semakin antusias dalam panggilan Sion.

Be strong, keep stand firm. Jesus bless. (Disadur Dari Aplikasi Renungan Harian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here