Sosok Adolf Yoku yang Tidak Pensiun dari Tugasnya Sebagai Petani

0
288
Adolf Yoku saat mengajarkan petani lokal cara menanam sayur. (Irfan /LPC)

SENTANI (LINTAS PAPUA) – Keputusan pembatasan aktivitas di luar, karena virus Corona (Covid-19) menyebabkan banyak pebisnis menutup usahanya secara tiba-tiba dan berdampak bagi kehidupan buruh dan juga karyawan pekerja harian akibat harus di rumahkan. Namun petani yang giat tidak akan terlalu terpengaruh dengan kondisi sekarang ini.

Adolf Yoku saat mengajarkan petani lokal cara menanam sayur. (Irfan /LPC)

Hal tersebut disampaikan, Adolf Yoku, SP, MM, yang selama ini dikenal sebagai sosok kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Jayapura. Tapi, sampai sekarang masih aktif menjalankan fungsinya sebagai petugas pertanian meskipun dia telah pensiun belum lama ini.

Adolf yoku menyampaikan, dirinya meski telah pensiun dari pegawai negeri sipil sampai saat ini masih terus berkiprah di bidang pertanian karena pertanian sudah sangat dijiwainya.

“Saya bersama kelompok tani Ayoo Kerja terus giat mengusahakan tanaman pangan padi tumpang sari dan jagung, kemudian sayur maupun buah serta pangan lokal berupa talas, keladi, pisang dan Syafu. Bahkan saya juga menyiapkan sumber air pertanian seperti embung dan sumur bor untuk mengairi tanaman pertanian yang saya garap bersama kelompok tani tersebut,” paparnya, di Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, saat sedang lakukan aktivitas bercocok tanam ditemani sang istrinya, kemarin.

Menyinggung soal dampak virus Corona ia menuturkan, ketika orang lain diam di rumah ia sebagai petani tetap lakukan aktivitas seperti biasa di lahan pertanian untuk bercocok tanam.

Lebih lanjut Adolf menyampaikan, kesulitan masyarakat sekarang diyakininya dalam hal pemenuhan kebutuhan makanan sehari-hari. Karena situasi sekarang kebutuhan makanan akan meningkat, penghasilan masyarakat berkurang di tambah pasokan makanan di Kabupaten Jayapura semakin menipis, karena adanya pembatasan aktivitas dan juga larangan sementara kapal dan pesawat komersial mengangkut penumpang masuk Papua.

“Makanya saya minta tim ekonomi dari pemerintah Kabupaten Jayapura ikut membantu pak Bupati Jayapura, jangan hanya duduk diam di gugus tugas saja. Tetapi, tidak ada gerakan nyata. Seperti peternakan perlu lakukan penyiapan daging atau program penggemukan sapi dan lain sebagainya” harapnya.

Pemenuhan pangan lokal sangat perlu difikirkan dari sekarang, Karena kondisi saat ini tidak bisa ditentukan pada bulan mei wabah virus Corona akan berakhir. apalagi masyarakat kini hanya bisa menunggu dengan berdiam diri di rumah sampai betul-betul telah ditemukan obatnya.

“Jadi orang perlu menyiapkan pangan, kalau pangannya aman di kabupaten Jayapura orang tidak teriak kelaparan, sangat berbahaya kalau orang tidak mau menanam dan pangan lokal tidak tersedia orang bisa mencuri dan baku bunuh untuk cari makan saja,” cetus Adolf.

Karena itu, Adolf berharap masyarakat kiranya dengan situasi sekarang bisa memanfaatkan lahannya untuk dijadikan lahan pertanian, dan mulai berfikir untuk menjadi petani. Jadi meski situasi sedang terpuruk karena wabah corona, sebagai petani tidak resah apalagi takut tidak dapat makan.

“Jadi saat bulan-bulan tertentu dia panen singkong, talas dan lain sebagainya dia dapat uang artinya dalam kondisi sekarang dia bisa membawa hasil panen ke pasar dan dapat uang, juga untuk konsumsi dirinya dan keluarga,” paparnya.

Mantan Kepala Dinas (Kadis) Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Jayapura, Adolf Yoku, SP, MM., saat diwawancara. (Irfan /lintaspapua.com)

Meskipun dirinya bersama kelompok tani Ayoo Kerja tetap melakukan aktivitas diluar rumah, namun Adolf selalu mengingatkan para petani lokal itu tentang penyuluhan dan juga pengendalian jaga jarak (Physical Distancing) terhadap kelompok tani Ayoo Kerja saat berada di lahan seluas 10 hektar yang digarap bersama-sama.

“Saya sering mengingatkan mereka sebelum dan setelah beraktivitas harus cuci tangan dengan sabun, kemudian jaga jarak saat melakukan komunikasi dengan petani lainnya. Serta menggunakan masker saat hendak pergi dan pulang dari bercocok tanam,” imbuhnya.

“Dengan demikian, saya juga berharap kelompok tani ini jangan stop bekerja, jangan dengar ada bantuan sosial seperti beras, gula dan lainnya yang hanya dimakan sebentar saja dan cuma akan mengobati rasa lapar sesaat. Jadi saya ajak petani kerja keras dibantu kita para penyuluh di lapangan,” tukasnya. (Irf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here