Pensiunan Kadis TPH, Adolf Yoku Pilih Jadi Petani dan Bantu Petani Lokal

0
259
Adolf Yoku saat mengajarkan petani lokal cara menanam sayur. (Irfan /LPC)

SENTANI (LINTAS APPUA) – Adolf Yoku (60 tahun)) merupakan seorang Pejabat Eselon II di Lingkup Pemerintah Kabupaten Jayapura yang mengabdikan dirinya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) sejak 1985 sampai Maret 2000 lalu. Di akhir masa jabatannya, Adolf Yoku tercatat sebagai Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.

Adolf Yoku saat mengajarkan petani lokal cara menanam sayur. (Irfan /LPC)

Setelah pensiun pada pertengahan Maret 2020 lalu, Adolf Yoku memutuskan kembali kumpul dengan keluarganya dan memilih menjadi petani. Dari sawah, hingga kebun sayur dan buah, dikelola oleh pria yang fasih berbahasa Jepang ini.

Berdasarkan wawancara Adolf Yoku dengan wartawan media online ini Rabu (15/4/2020) sore lalu, Adolf Yoku mengatakan alasannya menjadi petani.

Mantan Kepala Dinas (Kadis) Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Jayapura, Adolf Yoku, SP, MM., saat diwawancara. (Irfan /lintaspapua.com)

“Karena habitat saya memang seorang petani. Ilmu dan basic saya di pertanian, sehingga saya setelah pensiun ini saya kembali memilih menjadi seorang petani,” ujar Adolf Yoku.

Ada banyak jenis pertanian yang dikelola Adolf di masa pensiunnya. Mulai dari sawah atau padi, lahan sayur hingga buah. Adolf mengaku sebagian lahan yang digarapnya ia ikut mengelola sendiri dan dibantu dengan kelompok tani Ayoo Kerja.

“Saya bantu menyiapkan 10 hektar saja, dengan pola tumpang sari. Jadi kotak kecil yang hampir 10 meter X 1.000 meter ini, nanti untuk petani bisa bermain dengan sayur-sayuran. Tapi, kotak yang besar di sebelah ini semua untuk tanaman padi,” cerita Adolf Yoku ke wartawan media online ini.

Dari foto saat dirinya bertani itu dia kirim melalui pesan elektronik atau Whatssapp (WA) ke wartawan media online dua hari lalu, sehingga wartawan media online ini tergerak hatinya untuk menemuinya di lahan yang dia garap di Kampung Yoboi, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura. Ia juga menuliskan pesan terkait jenis tanaman sayur maupun buah dan juga nasib petani asli Papua ditengah pandemi wabah Coronavirus ini.

“Keputusan pembatasan aktivitas di luar, karena Coronavirus menyebabkan banyak pebisnis menutup usahanya secara tiba-tiba dan juga berdampak bagi kehidupan buruh maupun karyawan pekerja harian akibat harus dirumahkan. Tetapi, petani giat tidak akan terlalu terpengaruh dengan kondisi sekarang ini,” beber Adolf Yoku yang selama ini dikenal sebagai sosok Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (TPH) Kabupaten Jayapura. Namun hingga saat ini masih aktif menjalankan fungsinya sebagai petugas pertanian meskipun dia telah pensiun belum lama ini.

“Selain itu, saya juga siapkan satu unit embung (kolam) yang berukuran besar di pojok sana dengan ukuran 10×30 dengan kedalaman 3 meter dan embung itu bisa melayani untuk lahan 30 hektar yang ada disini. Nanti kami tinggal pasang atau buat saluran paritnya saja, untuk masuk ke tiap-tiap kotak. Walaupun petani yang menggarap lahan disini merupakan petani lokal, yang saya mengajak suatu waktu mereka untuk tetap menanam buah-buahan seperti pisang, syafu, kemudian di belakang dari lahan ini juga mereka masih mengusahakan ada sayur lilin, sayur gedi dan betatas yang ditanam,” sambungnya.

Yang lebih membahagiakan lagi, ia mengaku dapat memberi penghasilan kepada warga pemilik lahan yang merupakan petani lokal yang dirinya ajak untuk bertani bersama-sama.

“Kita buat seperti ini agar pendapatan mereka sedikit jelas, terus lahan mereka juga jelas. Bahkan mereka bisa mendatangkan pendapatan yang baik terhadap keluarga-keluarga mereka. Kita juga sudah lakukan analisis sebelumnya, kalau masing-masing dapat satu hektar itu keuntugannya berapa yang mereka peroleh. Setelah panen dan jual padi, mereka bisa kembali tanam jagung, kemudian bisa tanam kacang tanah, itu semua dilakukan diatas lahan ini dengan menanam sayur-sayuran maupun buah-buatan,” akunya dengan bangga.

Selama menjalani kehidupannya sebagai petani, Adolf Yoku mengaku tidak pernah dikunjungi oleh rekan-rekan di profesi sebelumnya.

“Saya selalu memberikan dukungan saja ke teman-teman yang ada di Pemerintah Kabupaten Jayapura. Walaupun sudah pensiun, bagi saya ilmu pengetahuan yang kita miliki itu tidak pernah pensiun. Apalagi petani lokal yang ada ini kan belum mandiri kelihatannya, jadi mungkin model-model seperti saya ini menggerakkan petani lokal ini bisa hitung-hitung, jika kelola lahan besar pasti akan dapat hasil yang besar pula,” ucapnya.

“Kalau untuk teman-teman sejawat sudah tidak ada yang datang lagi menemui saya, itulah kesan terbaiknya bagi saya. Ketika kita masih sama-sama sebagai pejabat, ya senang-senang pastilah. Tapi, kalau kita sudah selesai dari jabatan (pensiun) itu sama saja dengan orang mati. Ya, mending masih kita hidup itu harus mandiri dan aktif. Kalau sudah pensiun, kita merasa apa yang bagus dan tidak buat stress, maka harus ada kesibukan-kesibukan dan juga mendatangkan manfaat untuk banyak orang. Serta lebih banyak waktu bersama keluarga lagi,” sambung Adolf Yoku.

Kehidupan masa tua Adolf Yoku, dihabiskan dengan bertani dan berkumpul bersama keluarga besarnya. Dalam berbagai kesempatan, Adolf biasa bersama sang istri pergi bertani bersama-sama di lahan yang mereka garap. (Irf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here