Penulis adalah Dosen Hubungan Internasional Universitas Cenderawasih yang saat adalah Kandidat Doktor dari Universitas Padjajaran Bandung. (Foto Pribadi)

Perbatasan  Negara, Globalisasi  COVID-19 Dan Menguatnya Identitas  Masyarakat

Oleh  Melyana R Pugu (*)

 

Pendahuluan

Masyarakat dunia saat ini tengah di hadapkan pada masalah penyebaran virus Covid-19 atau Corona Virus Disease-19. Fenomena ini mengakibatkan lumpuhnya berbagai aktivitas manusia dimuka bumi.

Dalam hubungan internasional atau hubungan antar bangsa, penyakit menular merupakan salah satu kajian menarik yang sering diperbincangkan oleh ilmuwan hubungan internasional.

Hal ini disebabkan karena penyakit menular selalu melampaui batas-batas negara tanpa mampu dikendalikan oleh kedaulatan suatu negara.

Dalam sejarah manusia telah terjadi banyak kejadian luar biasa akibat penyebaran virus yang merengut nyawa manusia di seluruh dunia, antara lain  dalam sejarahnya, peradaban sebuah bangsa juga banyak dihancurkan oleh merebaknya penyakit menular yang berasal dari virus. Yuval Noah Harari (2018) dalam tulisan Eko Sulistyo, menulis bahwa kelaparan, wabah dan penyakit menular merupakan pembunuh massal paling berbahaya, dimana di jelaskan bahwa:

“Beberapa penyakit menular telah membunuh jutaan manusia dan beberapa masih ditemui hingga sekarang. Pada abad ke-14, penyakit menular hampir saja membasmi peradaban Eropa dalam tragedi yang disebut sebagai black death (maut hitam) ketika wabah penyakit pes melanda Eropa lalu menyebar ke belahan dunia lainnya. Pembawa wabah ini ialah bakteri dalam kutu di badan tikus yang pindah ke tubuh manusia. Dengan menumpang ekspedisi kapal dagang dan armada penaklukan kolonial, para tikus dan kutu itu lalu menyebar ke seluruh Asia, Eropa, Afrika Utara, dan pesisir Samudra Atlantik. Jumlah korban yang tewas dalam black death diperkirakan antara 75 sampai 200 juta orang. Sekitar seperempat penduduk Eurasia tewas, sementara di Florensia 50 ribu warganya tewas dari 100 ribu orang.

Update, 3 April 2020 untuk Covid-19 di Provinsi Papua. (Erwin /LPC)

Di Inggris, 4 dari 10 orang mati dan populasi di Inggris menurun drastis dari 3,7 juta jiwa menjadi 2,2 juta jiwa setelah wabah pes. Penyakit menular juga dibawa oleh ekspedisi kolonialisme negara-negara Barat ke Benua Amerika dan belahan dunia lainya. Pada 1520, armada kapal yang membawa tentara Spanyol ke Meksiko melakukan penaklukan atas bangsa asli Meksiko. Namun, bukan senjata dan tentara yang kemudian melakukan pemusnahan massal bangsa asli Meksiko, melainkan virus cacar (smallpox) yang dibawa salah seorang dalam rombongan. Penyakit cacar membawa pemusnahan massal yang mengerikan bagi penduduk asli Maya dan Aztec di Meksiko.

Dari Maret hingga Desember 1520, dari 22 juta penduduk Meksiko tinggal tersisa 14 juta jiwa. Bahkan, pada 1580, penduduk Meksiko tersisa sekitar satu juta orang. Kedatangan Columbus dan armadanya pada 1492 di Benua Amerika juga membawa berbagai penyakit menular yang membunuh penduduk asli benua tersebut.

Columbus datang dengan bakteri dan virus penyakit yang mematikan, seperti tipus, flu, cacar, dan campak. Selain menjadi pembunuh utama umat manusia, virus yang dibawa dalam armada para conquistador juga merupakan kekuatan pembentuk sejarah yang amat menentukan. Kontak orang-orang Eropa memungkinkan penularan penyakit ke komunitas yang sebelumnya terisolasi dan tidak mengenal semua penyakit yang dibawa dari Eropa. Sejarah kelam ini menyebabkan kehancuran bahkan jauh melebihi tragedi black death di Eropa pada abad ke-14.

Virus Corona Juga Menjadi Ancaman Serius di Benua Amerika, selain benua lainnya juga mengalami hal yang sama. (https://www.hpnonline.com/infection-prevention/screening-surveillance/article/21131601/us-covid19-cases-rise-to-over-86000-now-the-highest-total-in-world)

Penyakit yang dibawa orang Eropa diperkirakan mengakibatkan lebih dari 80%-95% populasi penduduk asli Amerika musnah dalam 100-150 tahun pertama setelah 1492. Dalam 50 tahun setelah kontak dengan Columbus, populasi asli Taino di Pulau Hispaniola hampir punah. Populasi Meksiko Tengah turun dari sekitar 15 juta pada 1519 menjadi sekitar 1,5 juta seabad kemudian. Pada 1950-an kembali terjadi wabah penyakit flu Asia yang merenggut korban hampir 2 juta orang di Asia. Pada 1968 menyebar wabah penyakit flu Hong Kong yang memakan korban jiwa antara 1 sampai 4 juta jiwa di dunia. Pada 2002 menyebar wabah flu babi yang memakan korban sekitar 18 ribu sampai 150 ribu jiwa.

Pada 2003 menyebar wabah flu burung yang memakan korban 455 jiwa. Sebelumnya, pada 2002 juga muncul penyakit SARS atau severe acute respiratory syndrome yang menewaskan 775 jiwa. Pada 2012 dideteksi wabah penyakit MERS atau middle east respiratory syndrome yang memakan korban sebanyak 990 jiwa.

Pada 2016 muncul wabah virus ebola yang menewaskan 11 ribu orang.Dari semua penyakit menular, AIDS atau acquired immuno deficiency syndrome, sejak 1980-an hingga kini telah memakan korban sekitar 30 juta orang di seluruh dunia. Tragedi AIDS dianggap sebagai kegagalan medis terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Namun, kemajuan pengobatan telah mengubah para pasien AIDS dari vonis mati menjadi kondisi kronis” (Sejarawan, 2020).

Penyebaran virus, wabah dan penyakit menular dari masa ke masa dalam tulisan Eko Sulistyo diatas menunjukan bahwa negara bangsa di dunia beserta komunitas masyarakat dunia saat ini mengalami masalah bersama terkait virus Covid-19. Dalam hubungan internasional konsep globalisasi yang memperkenalkan dunia tanpa tapal batas menjadi nyata ketika merebaknya virus Covid-19 karena penyebarannya tidak mengenal batas negara. Hal ini diakibatkan oleh perpindahan dan pergerakan masyarakat dunia yang bergerak cepat melampaui batas-batas negara. Tulisan ini akan melihat secara singkat bagaimana posisi negara dan masyarakat dunia dalam menyikapi penyebaran virus Covid-19.

 

Posisi Negara, Covid-19 dan  Masyarakat Dunia

Perbatasan negara merupakan bagian kedaulatan negara yang penting di jaga keutuhannya. Untuk mengenali suatu negara bangsa perlu diketahui batas-batas negaranya. Perbatasan negara menunjukan kepemilikan atas  negara yang berdaulat termasuk potensi yang ada didalamnya dan ancaman yang mungkin timbul atas wilayah negara.

Perbatasan, terutama perbatasan negara merupakan salah satu aspek penting dalam geopolitik yang memisahkan masyarakat dari dua negara yaitu  perbatasan alam baik sungai, gunung maupun berdasarkan etnis dan bahasa serta berdasarkan  garis bujur  dan lintang secara geometri (Marwasta, 2016). Perbatasan negara saat ini mengalami banyak perubahan konsep dalam pengelolaannya akibat globalisasi yang menimbulkan banyak kemungkinan baik kebangkitan ekonomi maupun berbagai ancaman termasuk didalamnya penyebaran virus selain penyelundupan narkotika, penyelundupan manusia dan senjata.

Negara dalam kaitannya dengan pengelolaan perbatasan ditengah merebaknya virus Covid-19 ini memperketat penjagaan wilayah perbatasan negaranya. Berbagai pintu masuk perbatasan negara diseluruh dunia diperketat penjagaannya termasuk lalu lintas orang dan barang  di jalur-jalur perbatasan negara.

Perbatasan Amerika dalam rilis Reuters (Reuters, 2020) menyebutkan bahwa Pentagon akan mengirim sekitar 500 tentara ke perbatasan AS-Meksiko untuk membantu agen perbatasan federal di tengah pandemi virus corona, Amerika Serikat telah mempertahankan rata-rata 5.000 tentara di perbatasan barat daya untuk mendukung Patroli Perbatasan dengan melakukan tugas penegakan hukum. Untuk mengurangi kemungkinan petugas perbatasan terpapar virus Covid-19 selain itu kekhawatiran Amerika bahwa pandemic ini akan menekan ekonomi Meksiko dan mendorong imigrasi illegal dari Meksiko menyeberang ke Amerika.

Sedangkan pemerintah Meksiko mengumumkan keadaan darurat kesehatan dan mengeluarkan aturan yang lebih ketat yang bertujuan untuk mengatasi virus corona yang menyebar cepat setelah jumlah kasusnya meningkat melewati 1.000 dan jumlah kematian meningkat tajam. Hal ini berbeda dengan perbatasan Amerika dan Kanada dimana Kanada tidak setuju jika Amerika mengirimkan pasukan ke perbatasan negara dan dianggap sebagai langkah yang sama sekali tidak perlu dan akan merusak hubungan bilateral dua negara dimana perbatasan kedua negara selama ini dikelola dengan soft management  atau penjagaan yang longgar berbeda dengan perbatasan Amerika-Meksiko yang menerapkan model hard management atau penjagaan perbatasan yang ketat.

Pemerintahan Trump telah meningkatkan responsnya terhadap wabah virus corona bulan ini karena infeksi telah menyebar di seluruh negeri. Untuk pertama kalinya pada hari Selasa  akhir  maret lalu Amerika Serikat mencatat hampir 700 kematian baru dalam satu hari. Negara ini sekarang memiliki total lebih dari 3.800 kematian dan lebih dari 185.000 kasus sehingga wajib menutup perbatasan Utara dan Selatannya sejak 20 Maret lalu untuk membatasi penyebaran Virus Covid-19 ini.

Indonesia saat tulisan ini dibuat data kasus positif virus corona (Covid-19) terbaru di Indonesia terus menunjukkan peningkatan jumlah pasien. jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah mendekati angka 2000 orang. Dengan penambahan pasien baru sebanyak 196 orang, jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia pada Jumat, 3 April 2020, tercatat mencapai 1.986 pasien.

Angka ini berdasarkan update terbaru yang dirilis oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Merujuk data yang sama, jumlah pasien positif Covid-19 di Indonesia yang kini masih menjalani perawatan sebanyak 1.671 orang. Sedangkan 134 pasien Covid-19 dinyatakan berhasil sembuh. Angka pasien yang sembuh itu bertambah 22 orang dibanding data Kamis kemarin. Di sisi lain, angka kematian akibat Covid-19 juga masih meningkat. Sampai 3 April 2020, terdapat 181 pasien Covid-19 yang meninggal dunia.

Case fatality rate (CFR) atau rasio kematian pasien Covid-19 di Indonesia saat ini menjadi 9,11 persen Hingga hari ini, kasus positif Covid-19 sudah menyebar di 32 provinsi (Idhom, 2020). Perbatasan Indonesia dengan beberapa negara yang berbatasan di Darat seperti dengan Papua New Guinea, dimana pemerintah Papua New Guinea sejak 30 Januari 2020 telah menutup perbatasannya di Wutung yang berbatasan dengan Skouw Papua Indonesia akibat kekhawatiran merebaknya virus Covid-19 yang kemudian perbatasan Indonesia di Skouw Papua juga ditutup sehingga warga negara dua negara ini tidak dapat melewati perbatasan sementara ini (Evarukdijati, 2020).

Posisi pemerintah Indonesia dalam mengelola perbatasan ditengah merebaknya virus Covid-19 adalah dengan menutup perbatasannya seperti yang dilakukan oleh negara lainnya di kawasan perbatasannya. Hal ini dilakukan agar penyebaran virus covid-19 dapat diminimalisir dan tidak menyebar karena penyebaran pandemi ini adalah melalui manusia yang saling berkontak melalui interaksi secara langsung. Sehingga mobilitas manusia diperbatasan negara perlu dibatasi bahkan ditiadakan untuk menutup persebarannya.

Persebaran virus Covid-19 yang mengglobal menunjukan bahwa komunitas masyarakat internasional yang selama ini berpindah tempat dari suatu negara ke negara lain melalui batas-batas negara seolah-olah batas negara itu tidak terlihat mengembalikan posisi tapal batas negara-negara di dunia dengan berbagai perlakuan terhadap batas negaranya untuk menutup penyebaran virus ini.

Posisi perbatasan negara menjadi sangat penting untuk menyelamatkan nyawa manusia warga negaranya yang secara langsung memiliki identitas sebagai warga negara tertentu dan menghapus symbol identitas masyarakat dunia. Masyarakat dengan symbol identitas bangsanya kembali menjadi menguat dengan merebaknya penyakit menular ini. Setiap negara menetapkan standar kesehatan bagi penanggulangan dan pencegahan penyakit ini sesuai standart yang ditetapkan oleh lembaga kesehatan PBB –WHO.

Penyakit menular ternyata telah memperkuat basis-basis dasar negara baik perbatasan negaranya, perlindungan yang maksimal terhadap warga negara oleh masing-masing negara dan secara tidak langsung memperkuat identitas masyarakat negara. Identitas masyarakat yang dimaksudkan adalah merupakan refleksi diri atau cerminan diri yang berasal dari keluarga, gender, budaya, etnis dan proses sosialisasi. Identitas pada dasarnya merujuk pada refleksi dari diri sendiri dan persepsi orang lain terhadap individu termasuk menguatnya nilai-nilai agama. Dengan identitas mampu membedakan warga negara yang satu dengan warga negara lainnya dan disisi lain identitas sebagai alat pemersatu  masyarakat suatu negara dalam menghadapi penyebaran wabah ini.

Penyakit menular yang merebak secara global mampu menahan arus globalisasi secara luar biasa dan memberikan dampak buruk bagi perekonomian semua negara di dunia sehingga banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaannya untuk beberapa bidang pekerjaan yang tidak bisa dilakukan dari rumah seperti buruh pabrik dan lainnya akibat pembatasan sosial yang diberlakukan oleh setiap negara dan akibat lainnya adalah kelaparan yang mengintai dibalik wabah ini. Kesigapan setiap pemerintah negara untuk bertanggungjawab terhadap hidup setiap warga negaranya menjadi tolak ukur keberhasilan negara saat ini.

Kesimpulan

Belajar dari pengalaman sejarah dari waktu ke waktu terkait penyebaran berbagai virus yang menggobal maka setiap negara perlu terus memperbaiki standar pengelolaan perbatasan negaranya sehingga memberikan rasa aman kepada masyarakat perbatasannya. Dengan penyebaran virus Covid-19 ini menunjukan bahwa globalisasi memberikan dampak buruk bari persebaran wabah penyakit yang mudah menyebar akibat mobilitas masyarakat dunia yang tinggi sehingga negara perlu kembali memposisikan dirinya sehingga mampu menghambat persebaran wabah seperti saat ini. Dengan memperkuat perbatasan negara maka memberikan penguatan kepada identitas masyarakat setiap negara.

Penulis adalah Dosen Hubungan Internasional Universitas Cenderawasih yang saat adalah Kandidat Doktor dari Universitas Padjajaran Bandung. (Foto Pribadi)

Referensi

Evarukdijati. (2020). Antisipasi virus corona, PNG tutup perbatasan. AntaraNews.Com. Retrieved from https://www.antaranews.com/berita/1284706/antisipasi-virus-corona-png-tutup-perbatasan

Idhom, A. om. (2020). Update Corona 3 April 2020: Data Covid-19 Terbaru Indonesia & Dunia. Tirto.Id. Retrieved from https://tirto.id/update-corona-3-april-2020-data-covid-19-terbaru-indonesia-dunia-eKE7

Marwasta, D. (2016). PENDAMPINGAN PENGELOLAAN WILAYAH PERBATASAN DI INDONESIA: LESSON LEARNED DARI KKN-PPM UGM DI KAWASAN PERBATASAN. Indonesian Journal of Community Engagement, 01(02).

Reuters. (2020). AS akan Tambah 500 Pasukan di Perbatasan Meksiko Untuk Cegah Covid-19. IMCNews.Id. Retrieved from https://imcnews.id/as-akan-tambah-500-pasukan-di-perbatasan-meksiko-untuk-cegah-covid-19

Sejarawan, E. S. (2020). Globalisasi Virus dan Jejak Peradaban. Retrieved from https://mediaindonesia.com/read/detail/291490-globalisasi-virus-dan-jejak-peradaban

(Penulis adalah Dosen Hubungan Internasional Universitas Cenderawasih yang saat adalah Kandidat Doktor dari Universitas Padjajaran Bandung.)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here