Suasana pertemuan ‘investasi bodong’ sapi perah, antara pengurus dan mitra (korban) di Balai Kampung Yammua, Arso VI, yang digelar Rabu (26/2/20) kemarin. (Arief /lintaspapua.com)

Lakukan Mediasi, Sepakat Untuk Bentuk Badan Usaha Baru di Bidang Sapi Perah

KEEROM (LINTAS PAPUA) – Terkuaknya kasus ‘investasi bodong’ dengan label sapi perah perusahaan TMJ (Tri Manunggal Jaya) di Ponorogo sampai pula ke Papua. Dibawah perusahaan mitra yang berlokasi di Arso VI, usaha tersebut dibawah naungan CV. Manunggal Pancanaka atau Mapan. Menyikapi kasus ‘investasi bodong’ tersebut para pihak menggelar pertemuan mediasi di Balai Kampung Yammua, Arso VI pada Rabu (26/2/2020) kemarin.

Kuasa Hukum CV. Mapan, Steve Waramuri, menyampaikan mediasi dan kesepakatan yang dicapai kedua pihak menurutnya cukup fair untuk kedua pihak. (Arief / lintaspapua.com)

Para pihak difasilitasi Kepala Kampung Yammua, J. Purba, menggelar pertemuan, nampak hadir dari pihak perusahaan, kuasa hukum CV. Mapan, Steve Waramuri. Juga nampak Hani Nurwamto selaku pemilik dan pengelola sub vendor CV Mapan bersama jajaran pengurus. Sementara dari pihak mitra (korban) hadir sekitar 75 orang yang berasal dari sekitar Arso bahkan kota Jayapura.

Pada pertemuan yang digelar sore hari tersebut, pertemuan berlangsung alot dan terjadi beberapa perdebatan. Apalagi jumlah korban diperkirkan sebanyak 100-an lebih dengan total kerugian mencapai puluhan milliar lebih. Namun aparat kepolisian dari Polres Keerom yang turut menjaga keamanan, membuat pertemuan berlangsung kondusif.

Setelah didahului beberapa sambutan dan pemaparan dari pihak perusahaan tentang usaha yang telah dilakukan pihak CV. Mapan untuk melakukan tindakan hukum saat ke Ponorogo.

Kepala Kampung Yammua, J. Purba (Arief /lintaspapua.com)

‘’Kami dari sub vendor seluruh Indonesia yang mendatangi TMJ ponorojo dan mendapati kenyataan dan pengakuan dari pemilik usaha yaitu Hadi Suwito dan marketing programnya, Galih Kusuma, SH bahwa semua hal tersebut adalah rekaan mereka sehingga ini dikatakan sebagai investasi bodong. Karenanya mereka teklah dilaporkan dan telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres Ponorogo,’’ujar pengurus melalui kuasa hukumnya.

Karena hal tersebut maka, Hani Nurwanto pada kesempatan tersebut bersama pengurus menyampaikan permohonan maaf. ‘’Kami tak menyangka bahwa apa yang kami lakukan ini ternyata seperti ini, bahkan kami juga merasa sebagai korban, bisa dikatakan pengurus adalah korban yang paling besar karena paket investasi yang paling banyak adalah pengurus,’’ujarnya.

Sementara dari para korban, mereka menanyakan tentang bentuk tanggungjawab dari pengurus. ‘’Apalagi terus terang saja banyak diantara kami para korban untuk mengikuti investasi ini sampai mengambil kredit di bank, bukan hanya puluhan bahkan ratusan juta dengan menjaminkan sertifikat rumah dan tanah. Bisa saja kita bilang karena korban maka diharap sabar, tapi bank tentu tak mau sabar, bagi mereka kalau kita tak bayar maka asset disita, jadi tolong pertanggungjawaban pengurus,’’ujar salah seorang korban.

Setelah melalui beberapa pemaparan, akhirnya kedua pihak (korban dan pengurus) menemukan kesepakatan sebagai bentuk tanggungjawab, pengurus akan membuka unit usaha baru dengan asset yang ada dari sub vendor untuk bergerak di bidang sapi perah juga. Namun untuk itu dibutuhkan waktu sedikitnya 3 bulan, untuk itu diminta korban tak melaporkan kepada pihak kepolisian atas dasar tersebut.

Usai pertemuan, kepada lintaspapua.com, kepala kampung menyampaikan bahwa pertemuan mediasi yang dilakukan pihaknya untuk mencari solusi atas kasus yang ada. ‘’Kasus ini juga mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan usaha investasi yang ditawarkan, cek baik-baik dengan lembaga terkait misalnya  OJK,’’pesannya.

Sementara Kuasa Hukum CV. Mapan, Steve Waramuri, menyampaikan mediasi dan kesepakatan yang dicapai kedua pihak menurutnya cukup fair untuk kedua pihak. ‘’Saya rasa ini jalan tengah yang terbaik untuk kedua pihak. Semoga lancar untuk rencana selanjutnya,’’ungkapnya.

Sedangkan Hani Nurwanto, mengemukakan kesiapannya untuk melaksanakan kesepakatan yang tercapai pada pertemuan tersebut. ‘’Kepada para mitra yang mungkin tak hadir pada pertemuan ini, kami dari perusahaan membuka pintu untuk menjelaskan dan melakukan komunikasi lanjutan hasil kesepakatan hari ini. Kantor Mapan di Arso VI akan tetap buka untuk itu, atau bisa langsung ke no hp saya,’’ungkapnya kepada media ini.

Sementara salah seorang korban yang enggan namanya ditulis menyampaikan bahwa sebenarnya ia merasa berat atas kesepakatan tersebut, namun baginya lebih baik ada kesepakatan tersebut agar minimal ada harapan kerugiannya bisa ditutup secara berlahan-lahan ketimbang hilang samasekali.

Pengelola CV Mapan, Hani Nurwanto. (Arief / lintaspapua.com)

‘’Saya kira ini pelajaran yang mahal bagi kami, dan saya harapkan semoga kedepannya kesepakatan ini benar-benar terwujud dalam 3 bulan ini yaitu ada usaha yang bisa menutup kerugian yang akan dilakukan perusahaan. Soal cicilan bank, tentunya kita akan pusing, tapi mau bagaimana lagi, kita harus tetap berusaha dan menghadapinya,’’ujar pria yang mengaku telah melakukan kredit ke bank ratusan juta untuk mengikuti program investasi bodong tersebut. (arief/lintaspapua.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here