Penyembahan sebagai Respons Hati
Baca: Markus 12:28-34l

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Markus 12:30)

Penyembahan merupakan sikap yang timbul dari rasa hormat dan pemujaan yang kita lakukan kepada Tuhan dengan rendah hati dan juga pelayanan kasih kepada Tuhan, sebagai satu-satunya Pribadi yang layak. Adalah mutlak bagi kita sebagai anak-anak-Nya untuk menyembah Tuhan, dan dalam hal ini Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan, “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” (Matius 4:10b). Hanya Tuhan-lah yang berhak menjadi satu-satunya obyek penyembahan kita, karena memang hanya Dia yang layak menerimanya, tiada yang lain.

Kita menyembah Tuhan karena eksistensi dan karya-Nya dan menyembah itu adalah respons kita dengan segenap pikiran, emosi, kehendak dan tubuh sebagai orang percaya atas seluruh keberadaan-Nya. Oleh karena itu melakukan tindakan penyembahan kepada Tuhan tidak dapat dilakukan asal-asalan atau seenaknya sendiri. Kita ini diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi pribadi yang responsif, artinya senantiasa memberikan respons untuk segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan kita yang disertai dengan ucapan syukur atas setiap campur tangan Tuhan, di mana karya-Nya itu seharusnya membangkitkan perasaan kagum dan hormat di dalam diri kita dan mendorong kita untuk memberi penyembahan kepada Dia, “Dan setiap kali makhluk-makhluk itu mempersembahkan puji-pujian, dan hormat dan ucapan syukur kepada Dia, yang duduk di atas takhta itu dan yang hidup sampai selama-lamanya,” (Wahyu 4:9).

Yang menjadi dasar dari sebuah penyembahan kepada Tuhan adalah kerendahan hati! Bila kita datang kepada Tuhan dengan suatu penyembahan yang didasari pada sikap rendah hati, maka penyembahan kita itu menyenangkan hati Tuhan, karena “TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.” (Mazmur 147:11). Selain itu, kita harus menyembah Tuhan dengan hati yang benar-benar tulus, bukan dibuat-buat, karena penyembahan itu bukan hanya berkenaan dengan ungkapan kata-kata indah dan manis di mulut, tetapi suatu ungkapan yang keluar dari dasar hati yang terdalam!

Sudahkah penyembahan kepada Tuhan mewarnai hari-hari kita ? (Disadur Dari Aplikasi Renungan Harian)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here