Staf khusus Presiden Milenials RI, Billy Mambrasar berdiskusi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, pada Selasa (14/1/2020), dan “curhat” terkait permasalahan-permasalahan pendidikan di daerah 3T dan Indonesia timur. (ISTIMEWA)

JAYAPURA (LINTAS PAPUA) – Staf khusus Presiden Milenials RI, Billy Mambrasar berdiskusi dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, pada Selasa (14/1/2020), dan “curhat” terkait permasalahan-permasalahan pendidikan di daerah 3T dan Indonesia timur.

Staf khusus Presiden Milenials RI, Billy Mambrasar, saat foto bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. (ISTIMEWA)

Masalah-masalah yang dibahas mulai dari kekurangan guru, tingginya angka buta huruf, dan permasalahan-permasalahan pendidikan, serta inovasi apa yang dapat dilakukan untuk penyelesaiannya.

Billy Mambrasar, lulusan ANU dan Mahasiswa Oxford Inggris, yang memiliki pengalaman panjang melakukan intervensi pendidikan di daerah asalnya: Papua sempat memberikan masukan dan ide-ide segar kepada Menteri Pendidikan di Periode kedua Presiden Jokowi ini.

Bersama dengan Yayasan Kitong Bisa, dan pekerjaannya di Sektor Swasta sebelumnya, Billy telah memberikan pendidikan kepada ribuan anak-anak Papua secara gratis, dan juga mendorong penambahan keahlian dan keterserapan pemuda dan pemudi Papua ke dunia Kerja.

“Memang teman diskusi saya adalah Pak Presiden, tapi juga tidak menutup kemungkinan untuk berdialog dan memberikan ide-ide segar, kepada kementerian, apalagi kepada Mas Menteri, karena kami sama-sama muda, dan punya visi yang besar untuk membangun negara ini, why not”, Ujar Billy melalui Media Rilisnya.

Bertemu Nadiem, Billy memperkenalkan program “ANAK MUDA BAPER” (Bawa Perubahan) dibidang pendidikan, yang berfokus pada wilayah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T) Indonesia. Bertugas sebagai stafsus Billy memilih daerah jauh, terluar dan tertinggal sebagai fokus masukan yang diberikan ke Presiden.

Bertemu Nadiem, Billy memperkenalkan program “ANAK MUDA BAPER” (Bawa Perubahan) dibidang pendidikan, yang berfokus pada wilayah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (3T) Indonesia. Bertugas sebagai stafsus Billy memilih daerah jauh, terluar dan tertinggal sebagai fokus masukan yang diberikan ke Presiden. Tampak suasana pertemuan. (ISTIMEWA)

Dalam program “Anak Muda Baper” kali ini, Billy menerangkan sebuah model konsep pendidikan secara digital, dengan pemanfaatan teknologi internet, untuk meningkatkan literasi dan mengurangi angka buta huruf, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, dan menanamkan jiwa kewirausahawan sejak dini bagi anak-anak sekolah diwilayah 3T.

Terkait pada penguasaan bahasa Inggris, menurut Billy, merupakan sebuah skill yang sangat penting di era globalisasi seperti sekarang ini, yang dapat memampukan Generasi Muda Indonesia berkompetisi di level Internasional.

Menanggapi usulan yang disampaikan Billy, sambil tersenyum Mas Menteri mengatakan saya bangga dengan ide brilian anda, seharusnya anda berada “disini” (Baca: di Kementerian ini) bekerja bersama saya.

Berdasarkan Perpres No 131/2015 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2015-2019, lima indikator daerah tertinggal meliputi : 1. Ekonomi Masyarakat; 2. Sumber Daya Manusia; 3. Sarana dan Prasarana; 4. Kemampuan Keuangan Daerah dan 5. Karakteristrik Daerah.

Khusus untuk Periode kedua Presiden Jokowi, Pengembangan Sumber Daya Manusia merupakan komponen yang menjadi perhatian Presiden RI, dengan moto: SDM Unggul, Indonesia Maju. Oleh sebab itu, keputusan untuk menunjuk anak-anak muda energik dan memiliki visi seperti Nadiem Makarim dan Billy Mambrasar, merupakan sebuah langkah yang dirasa sangat tepat oeh sebagian besar Masyarakat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here