SENTANI (LINTAS PAPUA) – Kondisi wilayah Kabupaten Jayapura yang rentan teerhadap bencana alam seperti tanah longsor, banjir, gempa bumi dan naiknya permukaan air Danau Sentani menjadi perhatian seluruh pihak tidak terkecuali Korem 172/PWY.

Terkait penanganan bencana alam, maka Kamis (12/12/2019) kemarin menggelar latihan taktis penanggulangan bencana alam banjir bandang dan longsor di wilayah Kabupaten Jayapura, yang dipusatkan di Lapangan Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura.

Komandan Korem 172/PWY selaku Komandan Latihan (Danlat) menyaksikan langsung jalannya latihan dengan melibatkan seluruh stake holder terkait baik unsur TNI, Polri, BPBD, Basarnas, ORARI dan komponen masyarakat lainnya.

“Kita di Korem ada program latihan penanggulangan bencana alam. Nah, ini kita laksanakan seharusnya kemarin di awal triwulan keempat (Oktober) 2019 ini. Tapi, karena dinamika kegiatan baru kita laksanakan di bulan Desember ini,” jelas Komandan Korem 172/PWY, Kolonel Inf. J. Binsar Parluhutan Sianipar ketika dikonfirmasi awak media disela-sela latihan penanggulangan bencana alam, di Lapangan Upacara Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (12/12/2019) kemarin siang.

Lanjut Danrem 172/PWY menuturkan latihan digelar dalam rangka melatih kesiapsiagaan aparat TNI dan instansi terkait agar lebih meningkatkan kerjasama dan keterpaduan dalam penanganan bencana alam.

“Intinya kita mau melatih seluruh prajurit kita, para pejabat di jajaran Korem, Kodim dan Koramil bagaimana menanggulangi bencana alam. Sehingga nanti kalau terjadi bencana kita sudah bisa melakukan itu dengan prosedur yang benar, kemudian juga kita manfaatkan untuk mensinkronisasi pemahaman tentang tugas penanggulangan bencana ini di wilayah,” tuturnya.

“Makanya, kita gandeng disini ada BPBD, Basarnas, Polri, ORARI, pemerintah daerah, kemudian juga ada beberapa tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki kompetensi atau kaitan tugas dengan penanggulangan bencana alam ini. Sehingga hal ini juga nantinya bisa menjadi salah satu format untuk kita, guna dapat mensinergikan semua unsur yang ada di wilayah. Supaya tidak terjadi nanti begitu terjadinya bencana, yang ada semuanya malah gagap (bingung) di hari pertama atau di hari kedua,” sambung Danrem.

Padahal di hari pertama dan kedua pasca bencana alam terjadi, menurut Danrem, merupakan periode emas (Golden Periode). “Justru di hari pertama dan kedua itu, ya kita membutuhkan kecepatan bertindak. Yang terjadi selama ini, justru di hari-hari pertama itu kita yang gagap. Ini yang mau kita eliminir, supaya begitu terjadi bencana kita sudha tahu apa yang harus kita lakukan dan formatnya kita mainkan sekarang ini di dalam latihan taktis penanggulangan bencana alam,” ujarnya didampingi Dandim 1701/Jayapura, Letkol Inf Jerry Simatupang.

Sementara itu, Wakil Bupati Jayapura, Giri Wijayantoro memberikan apresiasi kepada TNI atas bantuannya dalam menyelesaikan semua persoalan masyarakat yang terdampak bencana banjir bandang dan longsor.

“Dari pengalaman yang ada, ketika bencana itu terjadi bukan menjadi tanggung jawab Pemda saja. Tetapi, semua warga negara dari masyarakat sipil dan TNI/Polri semuanya ikut terlibat. Kita bisa merasakan saat (banjir) yang kemarin terjadi, gotong royong itu ada di Kabupaten Jayapura. Yang seharusnya berat, ternyata setelah kita pikul bersama itu menjadi ringan. Namun kita jangan berpuas diri dulu, bahwa mudah digerakkan,” imbuhnya.

“Oleh sebab itu, dengan adanya kegiatan ini kita coba mengantisipasi hal-hal yang buruk terjadi dan sebelum terjadi kita sudah kompak, kemudian kita mencari satu tujuan perikemanusiaan menjadi hal yang utama buat siapa saja, untuk menangani dan berbuat baik serta mencari amal disitu yang sangat tepat dan luar biasa,” sambung Giri.

Adapun jumlah personel dan masyarakat yang dilibatkan dalam latihan penanggulangan bencana alam banjir bandang dan longsor tersebut sekitar 200 orang lebih. (Irf /LINTAS PAPUA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here