GKI Adalah Identitas Masyarakat Adat Keerom

0
616
Wakil Bupati Keerom, Piter Gusbager, SHut, MUP, dalam beberapa kesempatan saat hadir pada peringatan HUT ke-63 GKI Papua, yang dilaksanakan di Kantor Klasis Keerom, Arso Swakarsa, Sabtu (26/10/2019). (Arief /LPC)

KEEROM (LINTAS PAPUA) – Bupati Keerom, Piter Gusbager, SHut, MUP, turut menghadiri acara peringatan HUT GKI ke-63 yang dilaksanakan di Kantor Klasis Keerom, pada Sabtu (26/10/2019).

Pada kesempatan itu, ia mengemukakan bahwa GKI bagi masyarakat Keerom ibarat sudah menyatu dengan budaya dan adat masyarakat Keerom, sehingga bisa dikatakan GKI adalah identitas masyarakat adat Keerom.

‘’Keberadaan GKI bagi masyarakat Keerom ibaratnya sudah menyatu dalam kehidupan sehari-hari dan berbudaya, sehingga bisa dikatakan bahwa GKI adalah merupakan bagian atau identitas bagi masyarakat adat Keerom,’’ungkapnya saat memberikan sambutan di acara tersebut, Sabtu (26/10/2019).

Lebih lanjut ia mengemukakan, bahwa GKI yang telah masuk ke Keerom bahkan sebelum pemerintahan kabupaten Keerom. Karenanya pemerintah sangat menghargai kerja dan karya gereja.

‘’GKI di Keerom memiliki sejarah panjang, Gereja GKI menjadi bagian dari masyarakat adat di tempat ini. Gereja baik katholik, GKI dan Kingmi adalah bagian dari nafas kehidupan masyarakat adat keerom,’’lanjutnya.

Untuk itu, Wabup menyampaikan sangat yakin di usia 63 tahunnya, GKI akan mampu menjawab tantangan yang ada saat sekarang ini.

‘’Saya yakin di 63 tahun, GKI telah menjadi gereja dewasa yang maju, memang usia Klasis Keerom belum lama namun GKI di Papua memiliki usia yang panjang, kepada semua pekerja dan pengurus gereja untuk terus berkarya. Maknai tri panggilan gereja sebagai nafas dan tindakan untuk terus berkarya dan melayani. Jangan hanya menjadi selogan namun jadi persembahan yang kudus di hadapan tuhan lewat pelayanan yang nyata,’’pungkasnya.

Sementara itu Ketua GKI Klasis Keerom, Pdt. Frans Mambrasas, Mth, mengemukakan terimakasihnya atas dukungan pemerintah kabupaten kepada GKI Keerom. ‘’Pemerintah keerom telah memberikan dukungan secara luar biasa untuk gereja, termasuk GKI,’’ungkapnya.

Ia juga membenarkan bahwa tantangan bagi gereja kini makin banyak seiring dengan perkembangan situasi dan keadaan belakangan ini. Untuk itu pihak gereja khususnya BP AM Sinode GKI di Tanah Papua telah memberikan pesan kepada umat dan pekerja serta pelayan gereja.

‘’Pada kesempatan ini saya akan bacakan keputusan gereja terkait masalah belakangan ini yaitu Miras, Narkoba, Sara, Rasisme dan lainnya. Ada 4 pesan gereja kepada kita, ini merupakan pesan dari BP AM Sinode GKI di Tanah Papua untuk mengajak seluruh, warga GKI di tanah Papua dan pelayan secara khusus dan warga gereja baik di Papua maupun di Indonesia,’’ujarnya.

Keempat pesan tersebut adalah, 1. Tetap kerjakan karya keselamatan yang Tuhan berikan berikan dengan bersama-sama mendukung untuk terciptanya suatu iklim yang kondusif, aman dan nyaman.

  1. Tetap jaga pekerja warga jemaat, pekerja gereja, pemimpin Kristen yang membawa dan menyatakan anugerah Allah ditengah situasi apapun yang kita hadapi.
  2. Jagalah kelompok kerja dengan sikap yang rendah hati, satu sama lain dan menjalankan fungsi struktur dan operasional baik dari jemaat klasis dan sinode, agar dan menjadi cerdas dan berpikir teguh dalam iman sehingga kita menjadi bijak dalam mengelola informasi yang masuk yang bisa mengancam keutuhan persekutuan kita ditengah hidup bersama.
  3. Peliharalah kasih persaudaraan karena sesungguhnya kita telah menjadi gereja yang hidup memberitakan injil bagi manusia dan dunia.

 

Pada kesempatan tersebut Wakil Bupati Keerom melakukan interaksi dengan pewakilan warga jemaat GKI Keerom. Juga berkesempatan memberikan bantuan bagi gereja GKI Pos Yowong. Ia berharap dengan bantuan tersebut dan juga pihak lain, bisa membentu terselesaikannya gereja GKI Pos Yowong dengan secepatnya.  (arief/LPC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here