Pelangi di Atas Istana Negara

0
803

Pelangi di Atas Istana

Pelangi adalah fenomena alam yang berupa optik dan meteorologi yang memiliki warna-warni indah yang sejajar di langit. Pelangi terbentuk melewati proses pembelokan cahaya atau yang di sebut dengan pembiasan. Proses pembiasan pada pelangi akan tertata secara struktur dan akan menghasilkan warna-warni indah pada pelangi.

Ilmuwan dari Inggris Sir Isaac Newton (1642 – 1727) memberikan definisi yang lebih sederhana tentang pelangi. Menurut Newton, pelangi adalah spektrum yang dihasilkan dari pembelokan sinar yang masuk melalui prisma. Di mana terdapat tujuh warna dasar antara lain, merah, orange, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu.

Pelangi itu indah karena “berkumpulnya” sejumlah warna menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. Andaikata warna-warna itu terpisah-pisah, tentu kalah indah dibandingkan dengan yang menyatu dalam suatu komposisi yang sempurna. Dan, kalau warna itu terpisah-pisah, tentu bukan pelangi namanya.

Mengikuti aktivitas Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan, Jakarta, selama dua hari ini, Senin dan Selasa, sungguh sangat menarik. Apa yang dilakukan Presiden Jokowi menegaskan apa yang dahulu pernah dikatakan oleh Otto von Bismarck (1815-1898). Bismarck dikenal sebagai “Kanselir Besi” dari Prusia (1862-1873; 1873-1890) dan pendiri dan kanselir pertama (1871-1890) Kekaisaran Jerman.

Bismarck mengatakan, “politik adalah seni kemungkinan.” Begitu salah satu penggalan definisi tentang politik yang disodorkan oleh Otto von Bismarck (1815-1898). Dengan definisi seperti itu — yang disampaikan Bismarck adalah salah satu dari begitu banyak definisi tentang politik — maka “seni kemungkinan” itu bisa (dan ini harus) digunakan untuk hal-hal yang baik, dan bukannya semata-mata untuk “memungkinkan” diri menumpuk kekuasaan.

Inilah kiranya yang dipilih Presiden Jokowi. Ia memanfaatkan semaksimal mungkin “kemungkinan” itu untuk yang pertama dan utama mewujudkan kesejahteraan rakyat secara keseluruhan. Presiden Jokowi juga memaksimalkan “kemungkinan” mewujudkan persatuan dan kesatuan, membangun harmoni kehidupan di tengah masyarakat, menyingkirkan segala perbedaan yang mendorong perpecahan. Hal itu dilakukan dengan menggandeng, merangkul, dan merengkuh semua kekuatan dalam masyarakat.

Keputusan dan tindakan Presiden Jokowi mengajak serta Prabowo Subiyanto dengan Partai Gerindranya masuk ke dalam kabinet yang akan dipimpinnya, adalah salah satu contoh bagaimana mewujudkan persatuan dan kesatuan. Dengan mengajak Prabowo, Jokowi ingin menyingkirkan semua perbedaan, persaingan, kontestasi, bahkan (mungkin kalau ada) rasa saling tidak suka selama proses pemilu lalu.

Memang, tidak mudah memahami apa yang dilakukan Jokowi itu. Orang akan mengatakan, “Inilah politik”, yang memiliki adagium “tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi adalah kepentingan.” Kepentingannya sekarang adalah persatuan dan kesatuan bangsa, perdamaian dan kedamaian masyarakat bangsa demi terwujudkan cita-cita proklamasi kebangsaan 1945.

Bagaimana kepentingan nasional itu bisa menjadi yang utama, mengalahkan kepentingan diri, kepentingan kelompok, kepentingan golongan, dan juga kepentingan partai? Bagaimana tokoh yang sebelumnya sangat berseberangan dengan Jokowi, bisa dirangkul dan bergabung?

Ini yang barangkali dalam salah satu ajaran Jawa dirumuskan sebagai “menang tanpa ngasorake”. Kata ngasorake artinya merendahkan atau menistakan, atau mempermalukan. Memang, dewasa ini strategi ‘menang tanpa ngasorake’ sudah kurang dikenal lagi dalam pergaulan politik, pergaulan antar-kelompok serta antar-pribadi. Yang terjadi justru sebaliknya, para pihak saling merendahkan dengan kata-kata kasar atau memfitnah dengan tujuan untuk memenangkan suatu kontestasi.

Masyarakat hanya mengetahui satu cara untuk memenangkan sesuatu, yaitu kekerasan (violence) atau penistaan (humiliation). Dapat menistakan orang lain menjadi lebih penting dari pada memenangkannya. Hal sama saja dengan membunuh sebanyak mungkin musuh lebih penting dari pada memenangkan perang.

Jalan menang tanpa ngasorake itulah yang dipilih Lincoln. Ia mengangkat Stanton menjadi menteri pertahanan di zaman Perang Saudara. Sebab, bagi Lincoln meyakini bahwa cinta adalah satu-satunya kekuatan yang mampu mengubah musuh menjadi teman.

Bergabungnya Prabowo dengan Gerindranya ke “perahu” kabinet baru, baru langkah awal. Ketika kemudian muncul beragam tokoh baik politik, pengusaha, ilmuwan, profesional, agama, purnawirawan, dan juga yang mewakili daerah, maka bentuk pelangi itu makin lama sempurna, bertambah lengkap, dan indah. Presiden Jokowi merangkul semua komponen, kekuatan masyarakat mulai dari “kanan tengah hingga ke kiri tengah.”

Strategi ‘menang tanpa ngasorake’ dan “pelangi” ini tidak berarti lantas mengubur dalam-dalam perbedaa yang diperlukan dalam kehidupan demokrasi. Tidak! Sebab, tanpa perbedaan atau tanpa bersedia menerima perbedaan sama saja membiarkan negara dalam genggaman kehidupan tirani, diktatorisme, absolutisme dan sejenisnya.

Tentu, bukan jalan itu yang akan ditempuh. Kita semua hanya berharap bahwa “Kabinet Pelangi” ini nantinya benar-benar memberikan dan menghasilkan keindahan bagi bangsa dan negara; bukan sekadar fatamorgana. Karena langkah Presiden Jokowi ini menjadi sesuatu yang tidak biasa. Bahkan, ada yang mengatakan, tidak ada dalam teori politik: menyatukan dalam satu wadah semua kekuatan yang sebelumnya saling berseberangan. ( https://jokowidodo.app/post/detail/pelangi-di-atas-istana )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here