Kepala Bappenda Kabupaten Jayapura, Theopilus H. Tegay, S.Sos., M.Si., didampingi sejumlah stafnya saat melakukan pertemuan dengan pihak Manajemen Hotel Grand Allison, di Ruang Lobi Hotel Grand Allison, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Jumat (18/10/2019) sore pekan kemarin. (Irfan /LPC)

SENTANI (LINTAS PAPUA) – Badan Pengelola Pendapatan Daerah (Bappenda) Kabupatenn Jayapura, sudah memasang tapping box (alat perekam transaksi), di 50 wajib pajak (WP) baik itu hotel, rumah makan dan restoran yang ada di Kota Sentani, Kabupaten Jayapura.

Namun informasi di lapangan, masih ada sebagian pemilik hotel, restoran dan rumah makan, yang enggan menggunakan tapping box.

Karena kondisi ini, Bappenda Kabupaten Jayapura sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tekhnis mendatangi wajib pajak untuk mengecek dan sekaligus memberikan teguran kepada wajib pajak yang enggan membandel untuk memasang tapping box.

Maka itu, tindakan Bappenda yang turun langsung menemui wajib pajak yang tidak menggunakan alat perekam transaksi tersebut, karena ditemukan masih ada wajib pajak yang tidak menggubris peringatan Bappenda tersebut.

Turun langsung menemui wajib pajak yang enggan memasang tapping box ini dipimpin langsung oleh Kepala Bappenda Kabupaten Jayapura, Theopilus Hendrick Tegay, S.Sos., M.Si.

“Kami dari Bappenda telah memasang tapping box di 50 wajib pajak, dan dari keseluruhan jumlah wajib pajak tersebut tidak sepenuhnya menggunakan alat perekam transaksi tersebut. Sehingga kami turun langsung mengecek sekaligus memberikan teguran,” kata Theopilus Hendrick Tegay disela-sela pertemuan antara pihaknya bersama manajemen Hotel Grand Allison, di ruang lobi Grand Allison Hotel, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Jumat (18/10/2019) sore pekan lalu.

Lebih dari itu, pria yang akrab disapa Theo ini menjelaskan, pemasangan alat perekam transaksi tersebut dilakukan bertujuan untuk merekam segala jenis transaksi makan dan minuman yang disajikan bagi pengunjung hotel, rumah makan dan restoran. Selain itu juga, merekam atau mencatat jumlah pengunjung yang menginap di hotel.

Lanjut Theo menyampaikan, melalui alat perekam transaksi itu akan diketahui oleh pihak Bappenda berapa pajak yang akan masuk sebagai pendapatan asli daerah (PAD) dari wajib pajak. Sehingga kedepannya, semua pendapatan dari sektor pajak hotel, rumah makan dan restoran dapat terpantau dengan baik.

Theo membantah keras jika ada pihak wajib pajak atau pihak lain yang menyebutkan, bahwa pemasangan tapping box sebagai upaya pihaknya mengambil hak para wajib pajak.

Sebab menurutnya, keberadaan alat perekam di hotel, restoran dan rumah makan adalah sepenuhnya untuk mempermudah penagihan pajak yang merupakan kewajiban dari para wajib pajak itu sendiri.

Kepala Bappenda Kabupaten Jayapura, Theopilus H. Tegay, S.Sos., M.Si., didampingi sejumlah stafnya saat melakukan pertemuan dengan pihak Manajemen Hotel Grand Allison, di Ruang Lobi Hotel Grand Allison, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Jumat (18/10/2019) sore pekan kemarin. (Irfan /LPC)

Disinnggung mengenai, wajib pajak yang sampai dengan batas waktu tertentu tidak menggunakan tapping box, pejabat yang telah bergelut di bidan pendapatan daerah selama belasan tahun ini menegaskan, wajib pajak tersebut akan dilaporkan kepada KPK untuk selanjutnya KPK yang dapat menindaklanjuti.

“Kami setiap saat didesak oleh KPK untuk melaporkan mengenai perkembangan dari pemasangan alat perekam transaksi atau tapping box. Sehingga ada wajib pajak yang tidak menggukan alat perekam transaksi, maka selanjutnya akan di serahkan kepada KPK,” tegasnya.

Untuk itu, Theo mengharapkan kepada semua wajib pajak, baik itu hotel, restoran dan rumah makan yang telah dipasang alat perekam transaksi (tapping box) agar dapat menggunakannya sebagai bentuk pemenuhan terhadap kewajiban sebagai wajib pajak. (Irf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here