Inilah Hasil  FGD Pengembangan Berbasis Sagu, Kakao dan Ikan di Kabupaten Jayapura

0
256
Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kabupaten Jayapura, Timothius J. Demetouw, didampingi Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Jayapura, Ir. H. Sambodo Samiyana, M.Si, dan beberapa narasumber ketika menabuh Tifa sebagai tanda ditutupnya kegiatan Focus Discussion Group (FGD) Pengembangan Pangan Lokal Berbasis Sagu, Pengembangan Hulu Hilir Kakao dan Ikan dalam menunjang ketahanan pangan, di Ballroom Lantai III Hotel HoreX, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (16/10/2019) kemarin sore. (Irfan / lintaspapua.com)

SENTANI (LINTAS  PAPUA) – Selama satu hari menggelar program diskusi bersama di Hotel HoreX Sentani, sebuah program Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak), terutama dalam hal menunjang ketahanan pangan, akhirnya para peserta dari masyarakat, civitas akademika, BUMN/BUMD dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) harus mengakhiri kegiatan tersebut.

 

Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kabupaten Jayapura, Timothius J. Demetouw, secara resmi menutup kegiatan tersebut di Ballroom Lantai III Hotel HoreX, Kota Sentani, Kabupatn Jayapura, Rabu (16/10/2019) kemarin sore.

 

Acara penutupan FGD yang bertajuk pengembangan pangan lokal berbasis sagu, pengembangan hulu hilir Kakao dan ikan dalam menunjang ketahanan pangan itu ditandai dengan penyerahan sertifikat penghargaan kepada para narasumber, juga para peserta.

 

Serta pemberian cinderamata dari Pemerintah Kabupaten Jayapura yang diserahkan Asisten III kepada pihak narasumber dalam hal ini Universitas Papua dan Universitas Pattimura. Serta cinderamata dari narasumber kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura.

 

Turut hadir pada kesempatan tersebut, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Jayapura Ir. H. Sambodo Samiyana, M.Si, Direktur Utama Perusda Baniyau Izak R. Hikoyabi, sejumlah Kepala OPD di lingkup Pemkab Jayapura seperti Kepala Dinas TPH Kabupaten Jayapura Adolf Yoku, S.P., M.M., dan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Jayapura Ir. Tasrief Thayeb. Juga dari pihak perbankan seperti Bank BRI, tokoh masyarakat dan aktivis pecinta makanan lokal

 

Timothius kepada wartawan harian ini usai pembukaan mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta atau partisipan dari berbagai pihak, yang telah mengikuti kegiatan FGD (Focus Discussion Group) yang diselenggarakan oleh Pemkab Jayapura melalui Dinas Perkebunan dan Peternakan.

 

“Jadi, kami dari Pemerintah Kabupaten Jayapura dengan terselenggaranya FGD mengenai pengembangan lokal berbasis sagu, juga pengembangan hulu hilir Kakao serta ikan dalam menunjang ketahanan pangan ini kami ucapkan terima kasih kepada para peserta yang telah hadir,” ucapnya.

 

“Memang kami di Kabupaten Jayapura, adanya kebijakan Bupati Jayapura terkait Kabupaten Layak Anak itu sebenarnya kita membutuhkan banyak suplai makanan bagi anak-anak, juga masyarakat di daerah ini. Tapi, selama ini yang kita konsumsi itu adalah yang masih bersifat makanan yang umum seperti Papeda. Namun kita belum bisa memanfaatkannya dalam jenis atau bentuk lain, sehingga tidak bisa memberikan daya dorong bagi anak-anak maupun masyarakat untuk mengonsumsi sagu itu tetap dipertahankan sebagai makanan pokok di daerah ini,” sambungnya.

Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Kabupaten Jayapura, Timothius J. Demetouw, didampingi Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Jayapura, Ir. H. Sambodo Samiyana, M.Si, dan beberapa narasumber ketika menabuh Tifa sebagai tanda ditutupnya kegiatan Focus Discussion Group (FGD) Pengembangan Pangan Lokal Berbasis Sagu, Pengembangan Hulu Hilir Kakao dan Ikan dalam menunjang ketahanan pangan, di Ballroom Lantai III Hotel HoreX, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (16/10/2019) kemarin sore. (Irfan / lintaspapua.com)

Dikatakan Timothius, bahwa selama ini dilihat makanan pokok dari bahan Sagu ini sudah bergeser ke nasi, maka itu diharapkan dengan adanya FGD ini mereka dapat membuat variasi makanan dari bahan sagu tersebut.

 

“Jadi, sagu itu tidak hanya bisa menjadi Papeda saja. Tapi, sagu itu juga bisa menjadi makanan atau panganan lainnya seperti kue. Atau dalam artian sagu ini bisa diolah dalam bentuk lain, sehingga bisa mendorong masyarakat untuk tetap mempertahankan sagu sebagai makanan pokok yang ada di daerah ini,” katanya.

 

Terkait dengan sektor perkebunan, Asisten III juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah mendorong atau telah menjadikan daerah ini, untuk bagaimana masyarakatnya itu wajib tanam Kakao.

 

“Dan, memang untuk hal itu sudah dibuat peraturan daerah (Perda) guna masyarakat wajib menanam Kakao. Tapi, sering masyarakat menghadapi kesulitan pada saat tanaman Kakao diserang hama dan masyarakat tidak punya pengetahuan untuk bisa menghindari dari serangan hama tersebut. Dengan adanya FGD hari ini (kemarin sore), ada pengetahuan dan ada keterampilan yang disampaikan oleh para pemateri, terutama kepada penyuluh dan masyarakat atau petani Kakao itu sendiri, sehingga bagi kami FGD ini adalah hal yang positif,” imbuhnya.

 

Ermana S. Irawan, seorang peserta FGD, mewakili pihak perbankan, saat menyampaikan kesan dan pesan mengatakan bahwa kehadiran dirinya bersama para peserta yang lain dan ikut hadir sebagai peserta FGD ini merupakan suatu kehormatan.

 

“Sebelumnya kami dari pihak perbankan ucapkan terima kasih sudah diundang, saya mewakili dari Bank BRI Cabang Sentani sangat antusias dengan acara (FGD) ini. Kami dalam hal ini selaku pihak perbankan pasti akan mensupport kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Jayapura terkait dengan para petani yang ada di daerah ini,” ucap Ermana S. Irawan yang juga sebagai Pimpinan Cabang BRI Sentani ketika menjawab pertanyaan LintasPapua.com

“Jadi terkait permodalan dan juga pembiayaan, kami siap untuk menfasilitasi dengan ketentuan yang berlaku. Tentunya, sampai saat ini kami dari BRI sudah melakukan beberapa hal terhadap para petani di daerah ini seperti sudah mengucurkan kredit, baik itu di mikro maupun di ritel. Kalau di kredit mikro itu ada UPDes dan juga mikro, sedangkan di ritel itu banyak jenis kreditnya salah satunya itu KUR ritel dan kredit komersial,” bebernya. (Irf/LPC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here