Pengukuhan Gelar Anak Adat : Demi Uang atau Demi Rakyat Oleh : Krist Ansaka

0
469
Ilustrasi Masyarakat adat dalam sebuah FESTIVAL DANAU SENTANI tahun - tahun sebelumnya. (Amazing Papua Facebook)

Pengukuhan Gelar Anak Adat :  Demi Uang atau Demi Rakyat

Oleh : Krist Ansaka *

 

PENGUKUHAN  menjadi anak adat, mulai jadi trend di lingkungan tua-tua adat Sentani. Setelah Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto, kini giliran Ryamizard Ryacudu – Menham RI.  Uniknya, Ryamizard Ryacudu ini sudah berkali-kali  dikukuhkan.

Selain Tommy Soeharto dan Ryamizard Ryacudu, ada juga sejumlah nama lain yang telah dikukuhkan sebagai anak adat.

Suasana Sejuk Danau Sentani. (Foto Irma Sokoy)

Dari Tommy Soeharto dan Ryamizard Ryacudu, yang sudah beberapa kali mendapat pengukuhan, yaitu Ryamizard Ryacudu.

Pada Selasa, 20 September 2016, Ryamizard Ryacudu dikukuhkan sebagai anak adat oleh Kepala Suku Skouw-Wutung, Stanly Tanfa.  Saat pengukuhan, Sanly Tanfa mengharapkan agar Ryamizard Ryacudu dapat menjaga NKRI dan Kesejahteraan masyarakat Skouw-Wutung.

Setelah itu, menjelang pemilu 2019, muncul Ketua Umum Partai Berkarya, Hutomo Mandala Putra atau akrab disapa Tommy Soeharto. Tommy dikukuhkan sebagai anak adat Sentani, yang ditandai penyematan Noken oleh Abhu Afaa di Kampung Kehiran Satu, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa, 11 Desember 2018.

Ketua Dewan Adat Suku Sentani, Demas Tokoro mengatakan, Tommy Soeharto diangkat menjadi seorang anak adat Sentani di tiga kampung yaitu di Keluarga Simporo, Babrongko dan Yoboi itu diangap positif dan sah.

Setelah itu, disaat tanah Tanah Papua sedang bergolak gara-gara pernyataan rasis yang dialamatkan kepada penghuni asrama mahasiswa Papua di Surabaya, tiba-tiba muncul berita, bahwa pada Rabu, 18 September 2019, Yo Ondoafi Baborongko di Sentani, Ramses Wally mengkukuhkan Ryamizard Ryacudu sebagai anak adat Kampung Baborongko dan Bapak Bela Negara Indonesia. Harapan dari Ramses Wally sama dengan Stanly Tanfa, yaitu : Ramses mengharapkan agar Ryamizard Ryacudu dapat menjaga NKRI dan Kesejahteraan masyarakat Kampung Baborongko.

Setelah Ramses Wally, Muncul Ramses Ohee, Ondoafi Waena yang mengkukuhkan Ryamizard Ryacudu sebagai anak adat dengan gelar “Wally” dari Suku Sentani pada Kamis, 10 Oktober 2019.

Anehnya, saat Ramses Ohee sang Ondoafi Waena itu, mengkukuhkan Ryamizard Ryacudu atas nama suku-suku Tabi (?).

Ilustrasi Masyarakat adat dalam sebuah FESTIVAL DANAU SENTANI tahun –
tahun sebelumnya.  (Amazing Papua Facebook)

Ryamizard Ryacudu merasa bangga dengan penobatan tersebut dan berjanji akan akan menjaga dan mempertahankan nama baik suku Tabi.

“Kepercayaan ini, merupakan hal yang harus dipertanggungjawabkan sampai kapan pun. Kepercayaan masyarakat suku Tabi kepada saya akan saya pertahankan dan saya akan berusaha untuk menjaga nama baik suku Tabi dan meningkatkan kebesaran suku Tabi,” ujarnya, sepertti yang ditulis TribunNews.Com.

Peristiwa pemberian gelar adat ini menjadi cibiran dari sejuml;ah orang asli Papua melalui media sosial. Pernyataan yang muncul itu, cenderung menuduh para tetua adat yang mengkukuhkan Tommy Soeharto dan Ryamizard Ryacudu, hanya untuk mencari uang dan mengabaikan rakyatnya.

Tuduhan ini, perlu dibuktikan.  Apakah para tetua adat kita yang berburu uang dengan mengkukuhkan orang non Papua ataukah, sang tokoh Tommy Soeharto dan Ryamizard Ryacudu meminta untuk dikukuhkan sebagai anak adat untuk tujuan tertentu?

Terlepas dari berbagai tuduhan itu, Jubionline memberitakan, bahwa  salah satu diantara kepala suku dari wilayah adat Lapago, Timotius Wakur mengingatkan semua orang asli Papua untuk tidak menjual gelar adat kepada masyarakat lain atau mereka yang tidak memiliki hubungan kekerabatan di wilayah adat yang memberikan gelar adat.

Timotius Wakur mengingatkan para pemangku adat dan masyarakat adat di lima wilayah adat di Papua tidak lagi menjual hak kesulungannya (gelar adat) kepada masyarakat lain, atau mereka yang tidak memiliki hubungan kekerabatan di wilayah adat yang memberikan gelar adat.

Timotius Wakur menilai, selama ini para pemangku adat di lima wilayah adat telah salah langkah. Hak kesulungan mereka sudah dijual (diberikan) kepada orang yang bukan keturunan orang Papua. Padahal hak kelusungan itu merupakan warisan dari para leluhur.

“(Yang bukan orang Papua) Dikukuhkan sebagai anak adat. Diangkat sebagai anak adat. Secara alamiah mereka diberi kuasa penuh sehingga dimana-mana jadi wakil bupati. Besok (ke depan) jadi bupati, jadi wakil gubernur. Ini karena orang Papua di lima wilayah adat yang seenaknya menjual hak kesulungan kepada orang lain. Sudah sangat fatal di Tanah Papua ini,” kata Timotius Wakur.

Menurut anggota DPR Papua dari mekanisme pengangkatan perwakilan wilayah adat Lapago itu, sebaiknya jangan ada oknum-oknum yang selalu mengklaim diri kepala suku, ondoafi dan lainnya hanya untuk memberikan hak kesulungannya kepada orang lain.

Bukan hanya Timotius Wakur mengkritisi gelar adat ini, tapi juga  Ketua Dewan Adat Papua Wilayah III Domberay, Mananwir Paul Finsen Mayor. Menurut Paul Finsen Mayor seperti yang ditulis Jubionline, bahwa, pemberian gelar adat kepada orang yang tak ada hubungan darah berpotensi menimbulkan dampak buruk kepada masyarakat adat itu sendiri.

“Pemberian gelar adat itu membawa dua unsur, kutuk dan berkat,” kata Paul Finsen Mayor.

Menurutnya, pemberian gelar adat kepada seseorang bukan jaminan orang tersebut akan berpihak pada masyarakat adat yang memberikannya gelar.

Sementara itu, anggota MRP, Roberth Wanggai melalui akunnya di Fecebook menjelaskan, bahwa MRP sudah pernah keluarkan maklumat yang melarang pemberian gelar adat.  “Tapi kalau akirnya kepentingan politik dan godaan lain yang intervensi, disinilah soalnya. Untuk itu, pentingnya lembaga dan tetua adat untuk tidak terjebak dalam kepentingan sesaat,” tegas Roberth Wanggai.

Penulis Krist Ansaka adalah mantan Jurnalis. (Foto Pribadi)

Lebih lanjut Roberth mengatakan : “Sangat bijaksana, kalau pemberian gelar adat itu diberikan kepada mereka yang telah meletakan peradaban bagi orang Papua. Seperti para penginjil atau keluarga dari para penginjil yang datang ke Papua atau kampung-kampung di Papua untuk memberitakan Injil dan mengajar baca tulis bagi orang asli Papua. Mereka ini yang pantas diberi penghargaan oleh masyarakat adat. (* Krist Ansaka – mantan Jurnalis)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here