Bacaan : Yesaya 64:1-12

“Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.” (Yesaya 64:6)

Banyak orang beranggapan bahwa melakukan kegiatan keagamaan dan amal sudah dapat menjamin seseorang masuk ke dalam kerajaan Sorga. Namun apalah artinya melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan jika hal itu dilakukan hanya sebatas rutinitas belaka.

“Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,” (Yesaya 29:13).

Apalagi bila ibadah yang dilakukan bertujuan mencari pujian dan hormat dari manusia seperti yang dilakukan ahli Taurat dan orang-orang Farisi, “Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.” (Matius 23:5-7).

Begitu pula dengan amal atau perbuatan baik yang dilakukan dengan suatu tendensi atau demi pencitraan semata takkan berarti apa-apa di hadapan Tuhan.

Tuhan melihat hati seseorang lebih dari perbuatan yang terlihat secara kasat mata. “…TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” (1 Tawarikh 28:9). Oleh sebab itu beribadahlah kepada Tuhan dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, dan milikilah motivasi yang benar saat melakukan perbuatan baik.

Jika tidak, hal itu adalah suatu kejahatan di hadapan-Nya; ibadah dan amal yang tidak benar di mata Tuhan ibarat kain yang kotor. Jadi, bukan apa yang dianggap baik menurut penilaian manusia, tetapi apa yang berkenan kepada Tuhan. Ibadah yang benar adalah ibadah yang disertai dengan ketaatan melakukan kehendak Tuhan dan hubungan yang karib dengan-Nya.

Ingatlah pula bahwa kita ini diselamatkan bukan karena perbuatan baik, “…itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.” (Efesus 2:9), tapi karena anugerah Tuhan; dan kita yang telah diselamatkan wajib untuk melakukan perbuatan baik sebagai perwujudan syukur atas keselamatan yang telah diterima.

Kita dibenarkan dan dilayakkan karena karya Kristus, bukan karena kita ini baik !. (*)