SENTANI (LINTAS  PAPUA) – Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si., bersama Dewan Adat Suku (DAS) Demutru dan masyarakat adat Demutru melangsungkan aksi sosial penanaman pohon Sagu di Kelurahan Hatib, Distrik Kemtuk Gresi, Kabupaten Jayapura, Selasa (6/8/2019) kemarin siang.

Hadir pada acara penanaman pohon Sagu tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Jayapura Abraham Demonggreng, Kepala Distrik Kemtuk Gresi, para Kepala-kepala Kampung dan para tokoh-tokoh adat.

Dalam kesempatan itu, bupati menyampaikan, sekarang ini orang sibuk datang ke pusat perbelanjaan seperti toko-toko, mall-mall dan supermarket. Namun, hari ini semua pihak sudah buat satu keputusan bahwa tempat kita bukan di pusat-pusat perbelanjaan tersebut.

“Akan tetapi, tempat kita itu ada di Dusun Sagu. Ini penting, supaya jangan sampai kita kehilangan jati diri kita sendiri. Jadi, ini tantangan dari suatu kemajuan seperti itu. Kita punya modal, khususnya orang asli Papua (OAP) itu tanah dengan dusunnya. Kita tidak punya apa-apa, karena orang Papua itu punya modal hanya (tanah dan dusun Sagu) itu saja,” kata Mathius Awoitauw,  dalam sambutannya pada acara penanaman pohon sagu bersama DAS Demutru dan masyarakat adat Demutru, di Kelurahan Hatib, Distrik Kemtuk Gresi, Selasa (6/8/2019) kemarin.

Terkait dengan kondisi itu, bupati menyampaikan, bahwa orang Papua bisa maju dan berkembang diatas dua modal tersebut. Karena itu, menurutnya, tanah dan dusun sagu jangan dijual lagi dan tanah harus dijaga. Karena kalau tanah hilang, maka adat sudah tidak ada.

 

“Pada kesempatan ini, saya mengajak kepada seluruh masyarakat adat untuk menanam dan memelihara pohon (dusun) Sagu. Jangan lagi tanah dijual, kalau tanah hilang maka adat sudah tidak ada. Adat ada karena ada tanah dan dusun-dusunnya. Itu dua hal yang tidak ada di tempat lain dan hanya ada di Papua,” tegas Bupati Mathius.

 

Lanjut bupati menyampaikan, kalau dua modal ini tidak di hargai, maka kita sebagai orang Papua tidak akan maju dan berkembang. Yaitu, orang Papua harus menghargai modal tersebut dengan cara menjaga dan tidak boleh di jual.

 

“Jadi, apa yang kita lakukan hari ini (kemarin) merupakan satu keputusan penting sebagai kekuatan kita bersama, karena ini yang bisa mensejahterakan kita dan bisa kita wariskan untuk generasi muda yang ada di kampung ini,” tukasnya. (Irf)