Perahu Wairon dan Mansusu Warnai Festival Biak Munara Wampasi ke VII tahun 2019

0
764
Perahu Tradisional Biak turut dihadirkan dalam Festival Biak Munara Wampasi ke VII tahun 2019 yakni Parade perahu Wairon dan Mansusu. Parade ini menampilkan 2 perahu Wairon dan 8 perahu Mansusu, bertempat di BMJ Biak. (Viona)

BIAK (LINTAS PAPUA) – Perahu Tradisional Biak turut dihadirkan dalam Festival Biak Munara Wampasi ke VII tahun 2019 yakni Parade perahu Wairon dan Mansusu. Parade ini menampilkan 2 perahu Wairon dan 8 perahu Mansusu, bertempat di BMJ Biak.

Turut hadir dan menyaksikan parade ini Kepala Bidang Pemasaran Regional III Wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat Syukurni,Asisten 1 Setda Biak Friets G. Senandi, Forkopimda, dan juga masyarakat Biak Numfor.

Budayawan Biak Hosea mirino saat ditemui mengatakan, Perahu Mansusu ini dibuat sedemikian rupa oleh masyarakat untuk digunakan sebagai alat transportasi. Bentuk perahu haluan dan belakang dibuat sama, besar kecilnya pun dibuat sesuai kebutuhan.

“untuk mengetahui bagian haluan dan belakang perahu dapat dilihat dari motif yang ada pada perahu tersebut. Mansusu sendiri memiliki arti yakni bisa maju, bisa mundur.” Jelas Hosea

Sementara untuk Perahu Wairon adalah jenis perahu perang yang biasanya dipakai untuk kegiatan jelajah tempur. Bentuknya dibuat sangat ramping, agar mudah melaju diatas lautan. Walaupun kegunaan utamanya adalah untuk perang, namun dapat juga digunakan untuk kegiatan niaga.

Sementara itu, Asisten 1 Setda Biak Friets G. Senandi mengatakan bahwa, dalam perkembangannya saat ini perahu – perahu ini hampir punah sehingga lewat Festival Biak Munara Wampasi ke VII tahun 2019, parade Perahu Wairon dan Mansusu dapat diselenggarakan setiap tahunnya.

“dengan adanya Festival Biak Munara Wampasi ini, Parade perahu Wairon dan Mansusu ini dapat diselenggarakan setiap tahun baik dalam FBMW maupun ajang yang lainnya untuk dapat terus mengembangkan kebudayaan di Kabupaten Biak Numfor.” Ujar Senandi

Dilain Pihak, Kepala Bidang Pemasaran Regional III Wilayah Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat Syukurni mengatakan, kegiatan ini perlu dikemas dengan baik, di lestarikan karena seni budaya ini tidak hanya berdampak kepada masyarakat lokal saja tetapi juga dapat menjadi nilai jual kepada Mancanegara. Selain itu juga, sebagai harmonisasi untuk mempererat suku, agama, dan juga ada nilai jualnya. (Vio)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here