JAKARTA (LINTAS PAPUA) –  Selama ini sistem tilang elektronik seperti wacana tanpa realita. Namun, kali ini tidak begitu adanya, karena pihak kepolisian justru sudah memutakhirkan teknologi pendukung untuk sistem elektronik tersebut.

Ya, per 1 Juli 2019 Polda Metro Jaya telah memberlakukan tilang elektronik berbasis kamera Electronic-Traffic Law Enforcement (ETLE). Dengan adanya teknologi ini, wajah pelanggar lalu lintas seperti pengemudi kendaraan bisa tertangkap kamera untuk dijadikan barang bukti untuk dilakukan penilangan.

Adapun sistem ini merupakan penambahan dari teknologi CCTV yang sudah digunakan sejak tahun lalu untuk mengidentifikasi pelanggar lalu lintas dari belakang, seperti untuk penerobos lampu merah dan pelanggar marka jalan.

“Fitur terbaru dalam E-TLE ini bisa melihat hingga ke dalam mobil sehingga bisa mengetahui identitas, wajah pengemudi, jadi tidak bisa mengelak lagi,” ujar Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Pol. Yusuf seperti dilansir dari Antara, Sabtu (29/6/2019).

Bukan cuma pelanggaran menorobos lampu merah saja, dengan teknologi kamera terbaru ini pihak kepolisian bisa mengetahui pengemudi yang tidak mengenakan sabuk pengalan hingga menggunakan telepon seluler ketika mengendarai mobil.

Sebelum diberlakukan, fitur ETLE telah diuji coba sejak satu bulan yang lalu. Adapun penerapan tilang elektronik ini berdasarkan Pasal 5 Ayat (1) UU Nomor 11/2008 tentang Informasi dan Teknologi Elektronik dan (2); Pasal 249 Ayat (3), Pasal 272 Ayat (1) dan (2) UU Nomor 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, dan serta PP Nomor 80/2012 tentang Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di Jalan.

Kini, teknologi mutakhir ini sudah diimplementasikan di sepanjang ruas Sudirman-Thamrin dengan aktivasi 10 kamera CCTV di beberapa titik, yakni:

JPO MRT Bundaran Senayan Ratu Plaza, dengan jenis kamera check point (satu)

JPO MRT Polda Semanggi Hotel Sultan, jenis kamera check point (satu)

JPO depan Kementerian Pariwisata, dengan jenis check point (satu)

JPO MRT dekat Kemenpan-RB, dengan jenis check point (satu)

Flyover Sudirman ke Thamrin, berjenis check point dan speed radar (satu)

Flyover Thamrin ke Sudirman, dengan jenis check point dan speed radar (satu)

Simpang Bundaran Patung Kuda, berjenis kamera ANPR (dua)

Simpang Sarinah Bawaslu, jenis kamera ANPR (satu)

Simpang Sarinah Starbuck, jenis check point dan speed radar (dua)

JPO Plaza Gajah Mada, jenis kamera check point dan ANPR (satu)

Sementara itu, Kasie STNK Ditlantas Polda Metro Jaya Kompol Arif Fazlurrahman menerangkan, setelah wajah pelanggar lalu lintas tertangkap kamera. Maka selanjutnya akan diidentifikasi jenis pelanggaran yang dilakukan.

“Hasil data-data kendaraan tersebut disajikan kepada petugas TMC Polda Metro Jaya. Kamera tidak hanya menganalisa kendaraan yang melanggar, tapi seluruh aktivitas pada ruas jalan tersebut. Setelah terverifikasi, maka akan diterbitkan surat konfirmasi,” ujarnya seperti dikutip dari Kompas, Senin (1/7/2019).

Nantinya, surat konfirmasi tersebut akan dikirimkan ke alamat pengemudi yang melanggar lalu lintas selambat-lambatnya tiga hari setelah pelanggaran dilakukan. Setelah itu pelanggar diberikan waktu 14 hari untuk melakukan pembayaran tilang atau denda. Konfirmasi mengenai prosedur ini bisa dilakukan lewat www.etle-pmj.info atau aplikasi mobile.

“Jika tidak dilakukan pembayaran, maka sesuai ketentuan dalam Undang-Undang, kami akan melakukan pemblokiran pajak STNK,” tegas Arif.

Korban Tertinggi Kalangan Milenial

Mengenai ketertiban lalu lintas yang berujung pada keselamatan pengguna jalan memang telah menjadi concern Jokowi selama ini. Tak heran, jika mantan Gubernur DKI Jakarta ini memberikan dukungan penuh atas acara deklarasi dan sosialisasi keselamatan berlalu lintas yang bertajuk “Millenial Road Safety Road”.

“Masalah kecelakaan lalu lintas dengan korban sebagian besar milenial tidak hanya terjadi di negara ini, tetapi juga masalah dunia,” ungkap Jokowi dalam pendeklarasian yang diadakan di Palembang, Sabtu (9/3/2019) lalu.

Apa yang diungkapkan Jokowi bukan sekedar isapan jempol. Pasalnya setiap tahun secara nasional ada sebanyak 100 ribu korban kecelakaan lalu lintas dan 30 ribu di antaranya meninggal dunia, di mana 70

korbannya adalah kalangan milenial.

Data PBB melalui WHO juga menyebutkan sebanyak satu juta korban lalu lintas di dunia setiap tahun sebagian besar korbannya adalah anak muda yang usianya masih produktif.

“Jangan main HP saat berkendara, jangan telpon-telponan, bahaya sekali,” ujar Jokowi mengingatkan para milenial yang hadir dalam acara tersebut.

(CHA)

https://jokowidodo.app/post/detail/canggih-kamera-etle-telah-diterapkan-untuk-menangkap-wajah-pelanggar-lalu-lintas