Mahkamah Konstitusi,(flickr.com)

JAKARTA (LINTAS PAPUA) – Sidang sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK) hari ini Jumat (21/6/2019), mengagendakan mendengar keterangan saksi dan ahli dari pihak terkait, yakni paslon nomor urut 01 Joko Widodo – Ma’ruf Amin. Juga sebagai proses pengesahan alat bukti pihak Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI. Sebelum sidang berlanjut, Ade Irfan Pulungan selaku kuasa hukum Jokowi-Ma’ruf memohon kepada Hakim MK untuk menerima alat bukti tambahan.

“Kami mengajukan alat bukti tambahan yang mulia, ini terkait dengan keterangan saksi,” kata Ade di MK, Jumat (21/6/2019).

Menanggapi hal itu, Hakim MK Suhartoyo menegaskan bahwa masa penyerahan alat bukti telah ditutup. Meskipun demikian, MK akan memberi perhatian dan mengambil alat bukti tersebut sebagai bagian dari keputusan yang tak terpisahkan, jika memang alat bukti tersebut terkait dengan keterangan saksi.

“Kami terima alat bukti itu jika ada hal-hal eksepsional, seperti alat bukti saksi dari Boyolali, termasuk amplop-amplop,” ujar Suhartoyo.

Sidang dimulai pukul 09.00 WIB. Ketua tim kuasa hukum Jokowi-Ma’ruf, Yusril Ihza Mahendra, menyampaikan akan ada dua saksi fakta dan dua ahli yang dihadirkan hari ini. Yusril menyebut dua ahli dihadirkan untuk menjawab tudingan kecurangan Terstruktur, Sistematis, Massif (TSM) dari segi hukum.

“Dua ahli yang dihadirkan, Profesor Edward Omar Sharif Hiraiej dari UGM dan Dr. Heru Widodo, doktor di hukum pemilu yang khususnya TSM. Saksi fakta ada dua orang,” kata Yusril.

Untuk diketahui, Prof. Dr. Edward Omar Sharif Hiariej, SH M.Hum atau yang lebih dikenal dengan nama Eddy Hiariej lahir di Ambon, Maluku, 10 April 1973. Eddy menamatkan pendidikan S1 hingga S3nya di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM). Dia adalah seorang guru besar dalam ilmu Hukum Pidana di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Sementara Heru Widodo lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 1 November 1971. Heru menamatkan pendidikan S1 dan S2-nya di FH UGM, sedangkan gelar doktornya diperoleh dari Universitas Padjajajaran dengan disertasi tentang Pelanggaran TSM dalam Pemilu. Heru bekerja sebagai dosen di Pascasarjana Fakultas Hukum UIA dan Praktisi Hukum.

Saksi fakta yang dihadirkan paslon 01 adalah Candra Irawan yang merupakan saksi pada rekapitulasi suara tingkat nasional di KPU RI. Yusril menyebut Candra akan bersaksi bahwa perwakilan 02 tidak pernah protes dalam rekapitulasi. Kemudian yang kedua, Anas Nashikin adalah panitia pembekalan saksi Paslon 01. Menurut Yusril, Anas akan menjawab tudingan saksi 02 terkait adanya pendidikan kecurangan untuk para saksi Jokowi-Ma’ruf.

“Ini, seperti yang disampaikan konon katanya ceramah yang diberikan pak Hasto, atau Pak Moeldoko. Nah itu akan diklarifikasi, saksi ini hadir dan mengetahui persis apa yang diketahui selama TOT, tranning of trainers, yang dilaksanakan oleh saksi paslon 01,” ucapnya.

Teguran terhadap Prilaku Bambang Widjojanto

Dalam proses persidangan untuk mendengar kesaksian dari saksi Candra, Hakim MK Saldi Isra menegur Ketua Kuasa Hukum paslon 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Bambang Widjojanto. Di persidangan itu Bambang diketahui mondar-mandir saat saksi paslon 02 Joko Widodo-Ma’ruf Amin bersaksi. Saldi kemudian memotong kesaksian saksi Candra Irawan dan meminta BW untuk tidak mengganggu jalannya persidangan.

“Pak Bambang supaya Bapak tidak pindah-pindah, mungkin pindah di belakang saja untuk melakukan koordinasi. Suruh yang lain ke depan, jadi ada yang berdiri-berdiri dalam ruang sidang kan tidak baik,” kata Saldi Isra kepada Bambang.

Perintah itu pun didukung oleh Hakim MK lain, yaitu Manahan Sitompul yang ditugaskan memimpin pemeriksaan saksi Candra Irawan.

“Baik, agar kita seluruhnya tetap menghormati ketertiban dalam persidangan ini, untuk mentaati peraturan di ruangan persidangan ini,” kata Manahan.

Sebelumnya, Bambang juga pernah mendapat teguran dari Hakim MK, saat dirinya membacakan materi gugatan dari pasangan 02 Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno, dalam sidang perdana perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU), Jumat (14/6/2019).

Sidang pun kemudian dilanjutkan untuk mendengarkan kesaksian dari Candra. Ia menerangkan terkait rekapitulasi suara tingkat nasional di Kantor KPU, Jakarta. Candra menjadi satu dari empat orang saksi Paslon 01 Jokowi-Ma’ruf saat rekapitulasi suara tingkat nasional di KPU. Dalam salah satu kesaksiannya, Candra Irawan yang merupakan tenaga ahli DPR RI untuk Fraksi PDI Perjuangan itu menggambarkan ulang, suasana rekapitulasi suara tingkat nasional di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU).

“Satu hal, mungkin saya cerita suasana 01 dan 02 memang akrab dan kami sering lelucon di rapat, karena rapat sampai malam hari, Yang Mulia. Dan kalau berbuka kami sering berbagi snack,” kata Candra.

Ia juga mengungkapkan saat KPU menetapkan kemenangan Paslon 01, saksi 02 menolak tanda tangan hasil tersebut. Saksi 02 juga menolak hasil di beberapa provinsi dengan cara yang diatur undang-undang. (Jit) ( https://jokowidodo.app/post/detail/bambang-kembali-kena-tegur-dalam-sidang-gugatan-mk )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here