RSU Pratama di Dogiyai Diresmikan : Siap Bantu Layanan Kesehatan Masyarakat di Lembah Hijau dan Mapiha

0
126
Bupati Dogiyai, Yakobus Dumupa didampingi Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai meresmikan Rumah Sakit Umum (RSU) Pratama Kabupaten Dogiyai diresmikan, Rabu,(29/5/2019). (ISTIMEWA)

DOGIYAI (LINTAS PAPUA)  –  Bupati Dogiyai, Yakobus Dumupa didampingi Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Provinsi Papua, drg. Aloysius Giyai meresmikan Rumah Sakit Umum (RSU) Pratama Kabupaten Dogiyai diresmikan, Rabu,(29/5/2019). RSU tersebut sebagai salah satu pusat layanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah Kamuu dan Mapiha.

Dalam peresmian rumah sakit itu, turut hadir Wakil Bupati Dogiyai, Oscar Makai, Sekda Natalis Degei, Kadinkes dr. dr. Daniel Rumangkun, Direktur RSU, Lukas Dumupa, belasan kepala OPD dan ribuan masyarakat setempat.

Bupati Dumupa mengungkapkan, pembangunan Kabupaten Dogiyai salah satunya adalah kehadiran rumah sakit tersebut. Karena itu pihaknya pastikan sejumlah dana yang bersumber dari DAU disiapkan untuk selesaikan pembaungan rumah sakit ini.

“Salah satu yang menjadi hal prioritas adalah penyelesaian pagar rumah sakit. Dan pembenahan rumah sakit ini di awal tahun depan. Kami mohon kami harus jadi prioritas dari Dinkes Papua, karena wilayah Meepago ini rumah sakit yang lain sudah dibantu, hanya kami yang belum,” katanya.

Pemerintah daerah akan terus mencukupinya dengan berbagai fasilitas serta penunjang berbagai peralatan medis dan juga tenaga medis. “Salah satunya persoalan penyelesaian hak ulayat. Baru beberapa hari lalu kami sepakat,”ucapnya.

Walaupun pembangunan dan ketersediaan alat kesehatan belum rampung maksimal, ia menyatakan, pihaknya mencoba memulai dari keterbatasan itu. Sebab, apabila ditinggalkan maka berbagai persoalan atas lokasi tersebut datng bertubi-tubi.

“Jadi kami cepat resmikan ini supaya pemilik hak ulayat ketahui bahwa lokas rumah sakit sudah menjadi milik pemerintah, bukan lagi milik mereka,” katanya.

Ia bahkan berpesan, kepada masyarakt agar jangan coba-coba ada orang yang bikin kacau di tempat itu seperti larang mabuk dan kekacauan lainnya.

“Kalau istri bawah datang ke rumah sakit suami kejar lalu kasih hancur kaca-kaca itu biasa terjadi di sini. Jadi saya mau kasih tahu tidak boleh lagi terjadi,” ungkapnya.

“Ada orang tabrakan di jalan raya, orangnya dibawah ke rumah sakit lalu datang ngamuk dan rumah sakit jadi sasaran. Orang nafas sudah satu-satu lalu dibawah ke rumah sakit, meninggal lalu keluarganya datang bongkar rumah sakit. Kebiasaan-kebiasaan itu saya tidak akan kompromi. Saya akan bertindak tegas,” bebernya.

Karena itu, ia meminta kepada Kepala Distrik dan para Kepala Kampung jaga masyarakat dengan baik. Ia berkomitmen akan telusuri siapa perusuh nanti. “Orang yang datang kasih hancur rumah sakit kita akan cari tahu. Orangnya dari kampung mana dan sangisnya dua,” katanya.

“Yaitu kepala kampungnya dipecat dan dana desa saya tahan dari kampung itu untuk ganti barang yang dicuri atau dihancurkan,” tegasnya.

Sementara itu, Kadinkes Papua, drg.Aloysius Giyai mengatakan, berdirinya rumah sakit tersebut dapat membantu masyarakat yang ada di lembah hijau dan Mapiha. Karena Dogiyai hanya memiliki sejumlah Puskemas, salah satunya di Moanemani sehingga selalu dirujuk ke RSUD Paniai.

“Jika ada warga yang sakit harus menempuh sekitar empat jam dari sini. Padahal idealnya di bawah ke Ekimani,” kata dokter Giyai.

Menurut mantan Direktur RSUD Abepura ini, RS Pratama merupakan salah satu program dalam rangka peningkatan akses pelayanan kesehatan rujukan, utamanya bagi masyarakat tidak mampu.

“Kita tidak bisa tunggu RS rampung 100 persen baru beroperasi, nanti akan jadi gudang tikus, nanti babi-babi masuk. Kita harus memulai dan melayani sambil kita lengkapi semua yang kekurangan. Tidak bisa tunggu sempurna. Nanti kita gotong royong,” ujarnya.

Giyai bahkan membagi tugas kepada Bupati, Wakil Bupati dan DPRD harus tanggung dalam proses penyelesaian 30 persen yang masih sisa. “Sesuai aturan, pagar RS itu tidak bisa dibantu oleh provinsi dan pusat,” katanya.

“Pak Bupati, tahun ini atau tahun depan segera bangun pagar. Kami provinsi punya ada bagian yang bantu sesuai aturan. Kan saya yang pasti saya lengkapi sesuai dengan kewenangan,” ucapnya.

Ia tegaskan, RS merupakan tempat untuk menyembuhkann pasien dari kesakitan yang diderita, bukan dipulangkan dengan kekecewaan.

“Bukan pulang mayat tapi di sini tempat untuk menyembuhkan dan orang pulang dengan penuh suka cita dan kedamaian. Maka itu, datang ke rumah sakit tidka boleh makan pinang, tidka boleh merokok dan tidak boleh mabuk-mabukan. Kita mau cari dokter dan perawat sangat susah, tidak boleh bikin mereka marah. Mereka juga manusia,” pungkasnya. (*)