SENTANI (LINTAS PAPUA) – Warga di Distrik Yapsi Kabupaten Jayapura diyakinkan bahwa memiliki lahan pertanian akan jauh lebih baik untuk mengangkat perekonomian masyarakat setempat.

Hal ini dikemukakan Kepala Distrik Yapsi, Korneles Aleut ketika ditanya wartawan usai menghadiri acara Safari Ramadhan buka puasa bersama Wakil Bupati Jayapura Giri Wijayantoro dengan warga di SP 5 Taja, Kampung Takwa Bangun, Distrik Yapsi, Kabupaten Jayapura, Senin (27/5/2019) sore lalu.

“Komoditi unggulan disini itu ada dua, Kakao (Coklat) dan Vanili. Itu komoditi unggulan yang ada di Distrik Yapsi,” kata Korneles Aleut.

Dikatakannya, untuk memaksimalkan hasil yang didapatkan oleh masyarakat setempat dalam pertanian Kakao dan Vanili, Pemerintah Distrik Yapsi selalu turun langsung untuk membantu masyarakat setempat yang tergabung dalam beberapa Usaha Kelompok Bersama (UKB) yang ada di seluruh kampung di Distrik Yapsi.

Selain Kakao dan Vanili, Korneles Aleut mengatakan,bahwa ada UKB juga yang membuat pabrik tahu. “Jadi, bukan hanya pertanian saja. Tetapi, ada juga kelompok masyarakat yang membentuk kelompok sendiri untuk mengelola tahu itu ada di SP 6,” katanya.

Dia juga mengatakan bahwa beberapa waktu lalu masyarakat Yapsi juga sudah mendapat bantuan dari Pemkab Jayapura melalui Dinas Pertanian (TPH), untuk melengkapi peralatan dan juga dana segar untuk pemeliharaan peralatan pembuatan tahu.

Selain Kakao, Vanili dan Tahu masyarakat setempat saat ini juga tengah gencar menanam buah naga.

“Karena buah naga ini harga jualnya juga cukup bagus. Jadi masyarakat disini mengembangkan itu, dan Buah Naga ini juga sudah menjadi salah satu keunggulan kami sekalipun itu bukan komoditi unggulan. Tetapi, ya cukup menjanjikan bagi perekonomian masyarakat,” terang Korneles.

Dikisahkannya, sebelum masyarakat beralih ke pertanian, masyarakat yang ada di Distrik Yapsi ini menggantungkan hidupnya ke usaha kayu.

Selain itu, dirinya menerangkan jika harga kayu anjlok maka siklus ekonomi masyarakat di Distrik Yapsi pastinya akan lemah juga. Lanjutnya akses pasar untuk pertanian ini juga sudah ada, tidak seperti kayu.

“Karena upaya kami bersama seluruh kepala kampung berusaha untuk merubah image masyarakat sehingga masyarakat sekarang beralih ke pertanian dan mereka juga cukup puas dengan hasil yang didapatkan dari pertanian, tidak seperti kayu yang banyak ancamannya” tuturnya.

 

Sebab itu, dirinya bersama seluruh pihak yang berkepentingan di Distrik Yapsi selalu mengimbau kepada seluruh kelompok usaha yang ada untuk dapat menampung hasil bumi masyarakat, khususnya kedelai. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)