Aksi Demo Keberatan Test CPNS Sistem Online : Penerimaan CPNS Kabupaten Puncak Dilaksanakan Secara Manual

0
1214
Massa yang diterima langsung oleh Bupati Puncak, Willem Wandik, SE M.Si, dan  Wabup Puncak, Pelinus Balinal, SSos Ag bersama jajarannya, menyampaikan sejumlah tuntutan, yang intinya meminta agar penerimaan CPNS di Puncak dilakukan secara manual atau offline. (Humas Puncak)

TIMIKA (LINTAS PAPUA)  – Ratusan Pencari Kerja (Pencaker) di Kabupaten Puncak, Senin (29/4/2019) kemarin melakukan unjuk rasa di depan Kantor Bupati Puncak di Ilaga. Massa pendemo keberatan dengan sistem penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang dilakukan secara online.

Massa yang diterima langsung oleh Bupati Puncak, Willem Wandik, SE M.Si, dan  Wabup Puncak, Pelinus Balinal, SSos Ag bersama jajarannya, menyampaikan sejumlah tuntutan, yang intinya meminta agar penerimaan CPNS di Puncak dilakukan secara manual atau offline. (Humas Puncak)

Massa yang diterima langsung oleh Bupati Puncak, Willem Wandik, SE M.Si, dan  Wabup Puncak, Pelinus Balinal, SSos Ag bersama jajarannya, menyampaikan sejumlah tuntutan, yang intinya meminta agar penerimaan CPNS di Puncak dilakukan secara manual atau offline.

Ada 3 poin yang disampaikan massa pendemo sebagai alasan bahwa di Puncak harus dilakukan penerimaan secara manual. Yang pertama, pendaftaran dan tes CPNS menggunakan komputer secara online sangat rumit. Kemudian kedua, belum pernah dilakukan pelatihan atau Bimbingan Teknis (Bimtek) tentang sistem penerimaan secara online kepada seluruh Pencaker.

Dan ketiga, formasi dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) tidak sesuai dengan kebutuhan daerah dan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Kabupaten Puncak.

Atas tuntutan dari massa pendemo itu, Bupati Puncak menyampaikan dukungannya. Bupati pun secara tegas menyatakan bahwa penerimaan di Puncak dilakukan secara offline atau manual. Bahkan penerimaan dengan sistem ini sudah mulai dibuka sejak kemarin.

Kondisi ini berbeda dengan penerimaan secara serentak tahun ini di Indonesia, yang dilakukan secara online. Beberapa penyebab mengapa Pemkab Puncak melaksanakan penerimaan secara offline, disampaikan langsung oleh Bupati Puncak, Willem Wandik, SE MSi.

Pemkab Puncak belum siap melaksanakan penerimaan secara online. Beberapa penyebabnya, yang pertama, sistem penerimaan online sangat rumit, sesuai dengan apa yang disampaikan oleh mayoritas Pencaker di Puncak. Dengan keterbatasan sarana dan prasarana di Puncak, sistem tersebut tidak bisa diikuti oleh para Pencaker.

Kemudian yang kedua, bahwa usulan agar Puncak melaksanakan penerimaan secara manual juga telah disetujui oleh pemerintah, dalam hal ini oleh Presiden RI, Joko Widodo. Sehingga dirinya mempunyai dasar untuk melaksanakan itu.

Suasana Aksi Demo Damai di Kantor Pemerintahan Kabupaten Puncak. (Humas Puncak)

“Pertama-tama kami sampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat yang sudah memberikan formasi CPNS di Puncak, yang tahun ini jumlahnya 409 formasi. Namun memang selama ini pimpinan daerah, gubernur, bupati di Papua minta agar CPNS dilakukan manual atau offline. Sebelum hari ini, pertemuan ke pertemuan dan petunjuk Pak Presiden jelas, kami terapkan manual,” kata Bupati Willem Wandik.

Menurut dia, fasilitas di Puncak sangat tidak mendukung untuk dilaksanakan penerimaan secara online. Seperti jaringan listrik, komputer, internet dan lainnya.

“Oleh karena itu, berdasarkan pertemuan Tanggal 24 April 2019 dengan Bapak Presiden di Istana Bogor, disampaikan persetujuan beliau bahwa di Papua dilakukan secara manual,” lanjutnya.

Hal ini sudah pernah disampaikan dan siap dilaksanakan. Namun belakangan kembali lagi beredar instruksi bahwa penerimaan harus online.

“Presiden kaget lagi. Presiden bilang, “saya perintahkan offline, kenapa online lagi”. Dan beliau (Presiden, red) sudah perintahkan kepada menterinya, bahwa penerimaan CPNS di Puncak dilakukan secara offline atau manual. Tidak ada perintah yang lebih tinggi lagi dari Presiden di Republik ini. Dan keinginan kita sudah difasilitasi Presiden. Jadi menurut saya, menteri yang bersangkutan harus melaksanakan ini,” tegas Bupati.

Menurut Bupati Willem Wandik, tidak boleh lagi ada penundaan penerimaan CPNS di Puncak. Sebab semakin lama pengangguran akan semakin banyak.

“Berdasarkan perintah pak Presiden, sehingga saya menyetujui aspirasi dari Pencaker bahwa penerimaan di Puncak dilakukan secara manual. Dan mulai hari ini (kemarin, red) saya sudah buka penerimaan. Saya sudah perintahkan BKD (Badan Kepegawaian Daerah) menerima berkas pada pelamar,” katanya.

“Mengapa? Kalau tidak secara manual, maka orang Papua tidak akan mengambil bagian dalam pembangunan. Semakin banyak pengangguran, semakin banyak masalah. Oleh karena itu, apalagi ini berlandaskan Otsus, ini kekhususan kita, kita penerimaan secara manual. Apalagi ini juga atas persetujuan Presiden,” tegasnya lagi.

Lanjut Bupati Willem Wandik, apalagi para Pencaker yang saat ini ada di Kabupaten Puncak ketika sekolah dibiayai oleh pemerintah, melalui beasiswa. Sehingga sangat disayangkan jika mereka tidak dapat pekerjaan.

“Kalau ditunda-tunda terus nanti pengangguran semakin banyak. Umur kerjanya lewat maka dia tidak akan bisa kerja sampai kapan pun. Maka mau tidak mau saya tetap lakukan. Dan ini juga sebenarnya keinginan bupati-bupati lain di Papua,” ujarnya.

Dalam pelaksanaan penerimaannya, lanjut Bupati Wandik, kuota bagi putra-putri asli Puncak adalah 80 hingga 90 persen. Sedangkan sisanya adalah untuk non Papua yang memang sudah bekerja lama di Puncak, khususnya di bidang kesehatan dan pendidikan.

“Kami harus asli orang Puncak. Kemudian yang non Papua itu yang sudah kerja diatas dua tahun di Puncak, baik itu tenaga pendidikan dan kesehatan. Mereka sudah lama kerja di atas (di Puncak, red) jadi sudah harus diangkat. Tapi 80 sampai 90 persen itu orang Puncak. Saya biayai mereka dengan uang Negara, sehingga harus kami akomodir. Tinggal bagaimana prosedurnya itu yang digunakan, sehingga dalam keadaan bagaimana pun penerimaan di Puncak dilakukan manual,” tukasnya.

Mengenai kuota tahun ini yang jumlahnya 409 formasi, menurut Bupati Willem Wandik dirasa belum cukup. Sehingga ia mengatakan kedepan bisa saja ada penerimaan lagi.

“Tahun depan kita minta lagi. Harus tambah lagi. Apalagi ini daerah baru, pemekaran banyak, jadi memang butuh tenaga. Apalagi Presiden punya visi misi sekarang, adalah prakerja, sehingga kita harus perhatikan ini,” katanya.

Mengenai sistem online ini lanjut Bupati, juga menjadi kendala bagi mayoritas Pencaker di Kabupaten Puncak. Apalagi menurut Bupati, dirinya mendengar jika sistem online mempunyai kelemahan. Bahwa jika seseorang yang sudah ikut tes secara online kemudian gagal, maka pada tes-tes berikutnya yang bersangkutan sudah tidak bisa ikut lagi. Hal itu menurutnya yang harus jadi perhatian agar pemerintah bisa merubah sistemnya.

“Konsep seperti ini mungkin tepat di luar Negeri. Tidak bisa dipakai di Indonesia. Apalagi di Indonesia masing-masing daerah punya karakteristik yang berbeda-beda. SDM beda-beda. Jadi saya rasa untuk Puncak penerimaan secara manual, tes, kemudian hasilnya kami sampaikan,” bebernya.

Lanjut Bupati, masyarakat Papua pada umumnya dan Puncak pada khususnya tidak punya keahlian lain selain menjadi pegawai. Tidak mempunyai bakat menjadi pengusaha. Kalaupun mau menjadi wirausahawan, membutuhkan proses yang akan sangat lama. Sehingga mau tidak mau mereka harus menjadi pegawai.

Karena itu ia menegaskan, jika kemudian hasil tes secara manual tersebut tidak diterima oleh kementerian, dirinya meminta kepada menteri yang bersangkutan untuk berhadapan langsung dengan masyarakat di Puncak.

“Ini pernyataan saya. Kalau menteri tidak terima kami sistem offline, dia harus datang fasilitasi kami di Puncak. Siapkan listrik, jaringan internet, komputer, baru dilakukan secara online. Dan hadapi masyarakat lagi. Wibawa kami sebagai Negara bagaimana. Kita sudah sampaikan hal ini dengan baik. Bahkan Presiden sudah menyetujui. Sehingga seharusnya menteri tinggal melaksanakan. Saya bahkan sudah ketemu dengan Presiden dua kali. Jadi saya terima secara manual. Itu saja. Titik,” tegasnya.  (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here