SENTANI (LINTAS PAPUA) – Memasuki masa pemulihan tata ruang pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Jayapura, maka Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Kabupaten Jayapura tengah melakukan upaya perbaikan darurat baik terhadap fasilitas umum maupun fasilitas sosial dan juga perumahan yang rusak.

Dalam waktu bersamaan juga akan mengembalikan fungsi konservasi kawasan wilayah Cagar Alam Cycloop (CAC).

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen Doni Monardo mengatakan  untuk mempercepat penataan kembali kawasan di wilayah Kota Sentani yang rusak pascabencana banjir bandang dan longsor itu akan dibagi menjadi tiga (3) segmen.

Segmen pertama, wilayah tersebut adalah kawasan cagar alam Cycloop dengan memprioritaskan mengembalikan fungsi konservasi serta menata kembali pemukiman di kaki Gunung Cycloop, sehingga bisa steril dari pemukiman penduduk.

“Segmen kedua itu berada pada titik bagian tengah di kawasan antara kaki Gunung Cycloop dengan bibir Danau Sentani yang berhubungan dengan Daerah Aliran Sungai. Sedangkan untuk segmen ketiga itu ada di kawasan Danau Sentani”, terang pria yang pernah menjabat sebagai Sesjen Wantannas usai Rapat Koordinasi Pemulihan Kawasan Cagar Alam Cycloop, Danau Sentani dan Daerah Aliran Sungai, yang berlangsung di Aula Lantai II Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura, Selasa (23/4/2019) siang.

Doni Monardi berharap, dengan adanya penanganan serius dari para ahli nantinya kualitas air Danau Sentani bisa terjaga dan mengurangi sedimentasi pada air danau dan termasuk setiap perumahan harus memiliki MCK di darat, sehingga air di Danau Sentani tidak tercemar oleh limbah dari kotoran manusia.

“Di Sentani banyak pemukiman penduduk yang menghambat aliran air, kalau curah hujan ringan tidak terlalu membahayakan. Tetapi, kalau curah hujan tinggi bisa sangat membahayakan, akhirnya air dari ketinggian mencari tempat rendah dan menabrak semua bangunan,” terangnya.

Doni juga menambahkan melalui tahapan yang kini masuk dalam masa transisi darurat hingga bulan Juni nanti, secara perlahan akan mengerjakan apa yang bisa dikerjakan untuk pemulihan Kota Sentani pascabencana dibantu pihak-pihak terkait dari pemerintah maupun swasta.

“Seperti dari PUPR, PT Freeport dan Kementerian Lingkungan Hidup yang akan mengalokasikan dana untuk mengembalikan fungsi konservasi. BPN juga sudah melakukan pembagian wilayah, Badan Geologi, Kementerian ESDM yang telah memberikan masukan terhadap kawasan-kawasan yang beresiko. Karena kawasan Sentani adalah kawasan yang dilalui oleh patahan lempeng bumi,” pungkasnya. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)