Dulu ketika saya masih kuliah MIT (Massachusetts Institute of Technology), Amerika Serikat (AS), orang-orang Indonesia yang belajar di sana terkenal sebagai orang-orang yang brilian. Ada pameo lokal, di antara para sosialita Boston atau Cambridge, bila lagi ada yang bercerita tentang seseorang yang nilai kuliahnya straight A, orang bertanya, “Is she from Indonesia?”.

Jumlah kami tidak banyak, tapi nama kami sangat bagus. Saya sendiri mencatat nyaris semua teman Indonesia yang sekolah di sana adalah straight A students. Room mate saya, yang kuliah di Mechanical Engineering MIT, adalah seorang mahasiswa peringkat satu dalam ujian saringan doktoral di sana. Ini juga sekaligus mengafirmasi informasi yang saya peroleh dari teman-teman di Eropa bahwa di Perancis, di sekolah peringkat satu bidang Aerospace (boleh dibilang MIT-nya Perancis), Sup Aero, juaranya adalah juga orang-orang dari Indonesia.

Semester pertama saya menginjakkan kaki di kampus MIT, di Bandung sedang terjadi peristiwa yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Tanggal 10 Agustus 1995, tim Pak Habibie di Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN), berhasil meluncurkan dan menyukseskan terbang perdana pesawat N250 karya putra-putri Indonesia. Huruf N adalah singkatan dari Nusantara atau Nurtanio sedangkan digit 250 berarti dua engine (mesin) dan 50 penumpang.

Pesawat dengan code-name Gatotkaca itu adalah pesawat juara di kelasnya dengan teknologi Fly By Wire. Calon solusi teknologi yang disiapkan oleh Pak Habibie sejak 1976 untuk menghubungkan kepulauan Indonesia lewat transportasi udara.

Orang banyak tidak paham latar belakang berdirinya Industri Pesawat Terbang Nusantara (atau Dirgantara Indonesia). Dalam diskusi kebangsaan/kebudayaan era 80/90-an, sempat terlontar pertanyaan mengapa Indonesia memilih bekerja sama dengan Casa, Spanyol. Mengapa bukan dengan Airbus atau Boeing?

Tidak kurang yang menanyakan adalah budayawan sekaliber Mochtar Lubis. Masyarakat tidak tahu dan mungkin juga berlaku sampai sekarang ke generasi millenials. Yang terjadi sebenarnya adalah Pak BJ Habibie juga sudah bicara dengan semua perusahaan dirgantara terkemuka dunia. Responnya klasik: “Ooh kenapa repot? Buat industri pesawat terbang itu susah. Bukan mainannya bangsa Indonesia. Anda beli saja!”

Sampai akhirnya muncul nama Casa, itu pun karena BJ Habibie adalah teman baik Raja Spanyol Juan Carlos. Prestasi first flight N250 disambut luar biasa di MIT, banyak pujian dari para Profesor di Department of Aeronautics. (*)