Ogoh-ogoh Diarak untuk Mengusir Aura Jahat : Pemkab Jayapura Peringati Hari Raya Nyepi

0
759
Bupati Jayapura, Mathius Awoitauw, SE, M.Si., didampingi Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jayapura, Didik Widia Putra saat melepas pawai Ogoh-ogoh di Lapangan Upacara Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (6/3/2019) pagi kemarin lalu. (Irfan / HPP)

SENTANI (LINTAS  PAPUA)  –  Seperangkat gamelan mulai dimainkan. Suara musik pun mengalun seraya mengantarkan umat Hindu memadati area Lapangan Upacara Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (6/3/2019) pagi kemarin lalu.

Saat itu, umat Hindu sedang melangsungkan acara pawai ogoh-ogoh, sehari sebelum memperingati Hari Raya Nyepi, esok hari, Kamis (7/3/2019) kemarin.

Caption Foto : Lapangan Upacara Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah, Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (6/3/2019) pagi kemarin lalu.Saat itu, umat Hindu sedang melangsungkan acara pawai ogoh-ogoh, sehari sebelum memperingati Hari Raya Nyepi, esok hari, Kamis (7/3/2019) kemarin. (Irfan /HPP)

 

Alunan musik gamelan dan umat Hindu yang mengenakan busana adat membuat suasana seperti layaknya di Pulau Dewata.

Sementara itu, beberapa orang bersiap-siap mengarak tiga ogoh-ogoh.

Ogoh-ogoh  itu berbentuk ‘boneka’ raksasa, mata besar melotot, wajah merah, gigi besar dan tajam. Rambutnya panjang gimbal, serta kuku jari tangannya panjang.

Ogoh-ogoh itu dipersiapkan dalam upacara tawar kesanga.

Ada tiga ogoh-ogoh yang dihadirkan. Ketiga ogoh-ogoh ini diberi nama ‘Buta Tiga Sakti’ yang melambangkan roh jahat. Karena ogoh-ogoh yang berukuran besar dan berwajah seram itu membuat anak-anak yang melihatnya nampak ketakutan.

Seperti yang dialami oleh seorang bocah berusia 6 tahun bernama Grace itu nampak sangat ketakutan hingga bersembunyi dibalik punggung ibunya yang tengah membeli buah di pinggir Jalan Raya Kemiri, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, saat menyaksikan ogoh-ogoh yang diarak dari Kantor Bupati Jayapura, Gunung Merah menuju Markas Yonif Raider Khusus 751/VJS, Kota Sentani, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (06/03/2019).

“Sa takut om, takut saja ya. Boneka macam setan jadi,” singkat Grace yang di tanya wartawan.

Menjaga Keseimbangan

Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jayapura, Didik Widia Putra mengungkapkan, pawai ogoh-ogoh ini memberikan makna Putakala atau sifat-sifat jelek dan angkara murka yang ada dalam diri manusia.

“Tujuan pawai ogoh-ogoh ini untuk mentralisir hal-hal yang buruk. Baik yang ada di rumah kita, perkantoran atau alam sekitar kita,” ungkap pria yang juga adalah Ketua Hari Besar Keagamaan Hindu di Kabupaten Jayapura

 

Selain itu, kata dia, pawai ogoh-ogoh ini juga bertujuan untuk menjaga keseimbangan antar tiga hubungan harmonis yaitu Manusia dengan Tuhan, Manusia dengan Manusia dan Manusia dengan Alam Semesta.

 

Didik juga mengutarakan, sehari sebelumnya umat Hindu juga melaksanakan satu rangkaian upacara untuk menyambut Nyepi yang disebut Melasti.

 

“Rangkaian upacara dalam rangka merayakan Nyepi ini sudah kita laksanakan dari kemarin dengan Upacara Melasti di Pantai Base G,” katanya.

 

Dijelaskannya, upacara Melasti yang dilaksanakan umat Hindu itu bertujuan untuk membersihkan Leteh (kotoran) dalam diri seluruh umat manusia.

Dikatakannya, dalam upacara Melasti yang dilaksanakan kemarin, umat Hindu mengambil Tirta Amerta dari laut untuk Mecaru. “Dan itu sudah laksanakan di Pura masing-masing tadi pagi” ujarnya.

 

Dirinya juga menuturkan, seluruh rangkaian upacara Nyepi ini akan ditutup dengan Dharma Shanti yang akan dilaksanakan pada tanggal 30 Maret mendatang.

Ketika ditanya wartawan apakah benar seluruh rangkaian upacara dalam rangka perayaan Nyepi ini hanya dilakukan di Indonesia, Didik mengungkapkan bahwa agama Hindu adalah agama yang Universal.

“Agama Hindu ini sangat Universal, jadi bukan masalah Indonesia dengan India. Jawa dengan Bali pasti beda juga dalam pelaksanaannya. Ibarat bola salju yang dilemapr ke gunung salju maka disana akan melekat juga butir-butir pasir,” jelasnya.

“Jadi, kalau bola salju itu dilempar ke Papua maka dalam bola salju itu akan melekat budaya Papua. Tapi, inti yang terkandung itu tetap Hindu. Jadi kemasan atau luaran budayanya itu akan mengikuti budaya lokal setempat. Itulah Hindu yang disebut universal,” tandasnya. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here