<
Lintaspapua.com

Novel “Mimpi Anak Papua” Akan Dibuat Film : Lokasi Shooting di New York Amerika dan Papua

LINTAS PAPUA - Senin, 25 Februari 2019 - 14:45 WITA
Novel “Mimpi Anak Papua” Akan Dibuat Film : Lokasi Shooting di New York Amerika dan Papua
Lokasi ‘shooting’ mengambil tempat di Papua dan New York, Amerika. Pengambilan gambar di Amerika berkaitan dengan jalan cerita dalam film ini yang melibatkan seorang anak perempuan penderita kanker yang ayahnya bekerja sebagai pimpinan dalam manajemen PT. Freeport Indonesia, sebuah perusahaan tambang emas dan raksasa yang beroperasi di Timika Papua. Tampak Suasana Peluncuran Novel “Mimpi Anak Papua”. (Julian Howay / lintaspapua.com) ()
Penulis
|
Editor

JAKARTA (LINTAS PAPUA)  –  Novel dengan judul “Mimpi Anak Papua” hasil karya bersama Jackie Ambadar dan Hendra G. Lukito rencananya akan dibuat sekuel filmnya. Hal itu sebagaimana terungkap pada acara peluncuran novel setebal 263 halaman ini di ruang diskusi buku, Toko Buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur, Jumat (2/23/2019).

Film yang akan menceritakan kehidupan dan kisah petualang anak-anak Papua dengan latar suasana alam dan budaya Papua itu sepenuhnya akan diadopsi dari novel. “Kisah dalam film ini akan diperankan oleh anak-anak Papua sendiri dan beberapa anak dari Amerika yang berkolaborasi dalam adegan di film,” ujar Jackie Ambadar, sebagai salah satu penulis novel dan penggagas pembuatan film.

Lokasi ‘shooting’ mengambil tempat di Papua dan New York, Amerika. Pengambilan gambar di Amerika berkaitan dengan jalan cerita dalam film ini yang melibatkan seorang anak perempuan penderita kanker yang ayahnya bekerja sebagai pimpinan dalam manajemen PT. Freeport Indonesia, sebuah perusahaan tambang emas dan raksasa yang beroperasi di Timika Papua.

Sosok anak perempuan dari Amerika ini dalam adegan film akan datang mengunjungi ayahnya di Timika. Ia lalu berjumpa dengan anak-anak di pedalaman Papua, termasuk mengalami situasi maupun perlakuan budaya masyarakat lokal dan suasana alam yang begitu berbeda dengan Amerika.

Terkait dengan upaya mengangkat kisah novel ‘Mimpi Anak Papua’ ke dalam film, Hendra G. Lukito, mengakui bahwa Papua merupakan negeri yang sangat indah dan unik, terutama dari aspek kekayaan hayati sehingga perlu diketahui dunia luar.

”Papua adalah daerah yang luas wilayahnya masih sangat sulit dijangkau. Ada begitu banyak hal-hal menarik yang perlu ditulis dan diekspos sehingga orang-orang di Indonesia dan dunia bisa tahu,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai penulis skenario dan sutradara film asal Jogjakarta.

Dalam proses pembuatan film “Mimpi Anak Papua,” Hendra mengaku masih memerlukan banyak waktu untuk riset dan diskusi dengan sejumlah pihak, para akademisi dan budayawan di Papua. Tujuannya agar kisah dalam film ini benar-benar sesuai dengan budaya dan situasi masyarakat Papua.

“Sebab kami tidak mau mendiskreditkan atau menyinggung masyarakat Papua jika film ini nantinya jadi dan bisa ditonton,” kata Hendra.

Menanggapi isi novel maupun rencana pembuatan filmnya, Marinus Yaung, akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Papua yang juga sempat hadir dalam acara peluncuran novel tersebut di Jakarta mengatakan, isi dalam novel maupun upaya pembuatan filmnya harus jeli dan berhati-hati dalam menyajikan situasi yang terkait dengan budaya orang Papua.

“Di Tanah Papua, ada begitu banyak tipe budaya masyarakat lokal, baik yang berdomisili di wilayah pesisir maupun pegunungan. Hal-hal inilah yang harus diperhatikan dalam konteks penulisan di novel maupun saat pembuatan film agar tidak menimbulkan preseden buruk dan ketersinggungan orang Papua,” ujar dosen FISIP Uncen yang mengaku belum sempat membaca isi novel yang hendak diangkat ke layar lebar itu.

Menurut Yaung, kisah dalam novel maupun film, mestinya dapat mendeskripsikan mimpi-mimpi anak Papua secara realistis berdasarkan konteks sejarah dan situasi saat ini dan masa yang akan datang.

Misalnya, apakah mimpi anak Papua dalam konteks Indonesia, mimpi anak Papua dalam konteks Papua tanpa Indonesia atau mimpi anak Papua untuk bisa sejajar dengan anak-anak kulit putih (orang Eropa) seperti dalam buku “Thom dan Regi” yang ditulis Pdt. Isak Samuel Kijne, guru dan pendidik bangsa Papua.

Kisah dalam novel “Mimpi Anak Papua” yang hendak dibuat sekuel filmnya ini menceritakan seorang anak Papua bernama Yakob dan teman-temannya. Anak-anak ini memiliki mimpi besar dan bertekad untuk mewujudkannya lewat pendidikan, meskipun dengan keterbatasan yang ada. (Julian Howay / lintaspapua.com )

 

Tinggalkan Komentar

Close Ads X
123