Freeport Milik Kita. Itu Sudah

0
291
Tampak Aktivitas Dua Karyawan PT. Freeport Indonesia. (http://ptfi.co.id/id)

*“Tanah Papua tanah yang kaya//
surga kecil jatuh ke bumi//
Seluas tanah sebanyak madu//
adalah harta harapan…”*

Penggalan lirik lagu Aku Papua, ciptaan almahum Franky Sahilatua, 2007, yang dipopulerkan Edo Kondologit, menggambarkan sebuah “surga kecil” yang jatuh ke bumi. Jadi tidak salah apabila “surga kecil” yang berada di bumi Indonesia ini diperjuangkan oleh Presiden Jokowi.

Sebagai pemimpin berlatar pengusaha, Jokowi berpikir taktis. Baginya, kalau bisa cepat, mengapa harus diperlama? Kalau bisa segera tuntas, kenapa mesti ditunda?

Karena itu, saat media sosial ramai dengan isu bahwa divestasi Freeport ternyata hanya “pencitraan” dan meninggalkan banyak celah yang harus dibereskan, Jokowi tak banyak bicara.

Dalam rapat kabinet terbatas di Istana Kepresidenan Jakarta, Jokowi meminta agar pelaksanaan divestasi Freeport dipercepat dan selesai di tahun 2018 ini.

“Kita harapkan sebelum akhir tahun 2018 ini semuanya rampung. Karena proses divestasi PT Freeport adalah sebuah langkah besar untuk mengembalikan mayoritas kepemilikan sumber daya alam yang sangat strategis ke pangkuan Ibu Pertiwi. Akan kita gunakan sebesar-besarnya untuk peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat utamanya rakyat Papua,” tegas Jokowi.

Dipaparkannya, di bulan September lalu, telah ditandatangani perjanjian yang meliputi Divestment Agreement, Sales and Purchase Agreement, dan Subscription Agreement.

“Saya juga mengikuti bahwa ada beberapa tahap lanjutan yang masih perlu penyelesaian yang perlu dipercepat,” ungkapnya.

Hal-hal yang masih perlu dituntaskan seperti penyelesaian isu lingkungan, limbah, kepemilikan saham pemerintah Provinsi Papua dan Kabupaten Mimika, serta lainnya harus segera kelar. Demikian arahan Jokowi.

“Saya minta semua tahapan proses divestasi itu bisa diselesaikan dan sudah final,” kata Jokowi.

Di bawah kepemimpinan Jokowi, perlahan tapi pasti, pace-mace saudara kita di Papua menghapus stigma sebagai masyarakat tertinggal. Visi Indonesia Sentris yang menekankan pembangunan dari pinggiran, Presiden Jokowi menaruh prioritas pada provinsi paling timur Indonesia ini.

Dari 12 program prioritas Presiden Jokowi yang dilakukan sebagai implementasi Nawacita alias janji kampanye 2014, satu pasal jelas menyebut secara spesifik, ‘Pembangunan Papua’. Adapun program prioritas lainnya seperti ketahanan pangan, poros maritim, ketahanan energi, pembangunan infrastruktur, pembangunan desa, dan reforma agraria.

Jokowi tak sebatas kata-kata. Ia tercatat sebagai presiden yang paling banyak menjungi Papua. Sejak dilantik Oktober 2014, Jokowi sudah lebih dari 8 kali berkunjung ke Papua dan Papua Barat. Dari Sorong, Raja Ampat, hingga Sota di Merauke. Karya-karyanya pun nyata.

Demikian pula soal PT Freeport Indonesia. Sebuah perusahaan afiliasi dari Freeport-McMoran Copper. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here