SENTANI (LINTAS PAPUA) – Mendengar pernyataan itu, Sekertaris Dewan Adat Suku Sentani (DASS), Frits Maurits Felle menyebut Deki Ohee melakukan pernyataan subjektif dan atas nama pribadinya sendiri.

“Saya pikir pernyataan dia (Deki Ohee) itu tergolong subjektif dan atas nama pribadinya sendiri. Jadi, kami masyarakat adat Papua yang ada di wilayah Tabi, khususnya Suku Sentani tidak memiliki sistem raja. Tapi, sistem otoriter,” kata Sekretaris DASS didampingi beberapa perwakilan masyarakat adat Sentani dari kampung Yobeh, Yahim, Ifar Besar dan Donday, saat menggelar jumpa pers di Kediamannya di Jalan Youmakhe, Kota Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (6/2/2019) siang sekitar pukul 14.00 WIT.

 

 

Sekretaris DASS menjelaskan, setiap kampung yang ada di wilayah adat Papua khusunya Tabi, itu masing-masing mempunyai Ondoafi yang punya otoritas pemerintahan, yang pastinya berbeda antara satu kampung dan kampung yang lainnya.

 

“Oleh karena itu, pernyatan Deki Ohee sebagai anak raja dari Papua dan atas nama masyarakat adat serta seluruh masyarakat Papua mendukung pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 2 itu dengan tegas kami tolak. Karena kami anggap pernyataan itu atas nama pribadinya sendiri, bukan atas nama masyarakat adat Papua pada umumnya,” papar Maurits Felle.

 

 

Pernyataan Deki Ohee sebagai anak “raja dari Papua” yang mendeklarasikan dirinya serta mengatasnamakan masyarakat adat Papua mendukung pasangan calon (Paslon) Presiden-Wakil Presiden Nomor Urut 2, Prabowo-Sandi, di Jakarta beberapa waktu lalu, mendapat tanggapan dari Sekertaris Dewan Adat Suku Sentani (DASS), Frits Maurits Felle.

 

 

“Sebab, kami tidak mengenal saudara Deki Ohee secara pribadi,” ungkapnya dengan nada tegas.

 

Untuk itu, selaku pimpinan DASS, Maurits Felle juga meminta kepada Deki Ohee dan lainnya untuk tidak menjadikan seluruh Dewan Adat yang ada di Provinsi Papua sebagai alat untuk berpolitik, baik dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) di semua tingkatan maupun dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) pada tanggal 17 bulan April 2019 mendatang.

 

“Tapi, secara demokrasi seluruh anggota masyarakat adat di Papua punya hak untuk memberikan dukungan dan memilih Presiden dan Wakil Presiden, baik nomor urut 1 ataupun nomor urut 2 dan para Caleg yang maju dalam pesta demokrasi tahun ini,” katanya.

 

Kalau secara Pribadi, kata Maurits, dirinya dengan beberapa tokoh adat jelas mendukung Capres nomor urut 01 (Jokowi).

 

“Sebab, perhatian beliau amat besar terhadap Papua. Maka dari itu, kami sangat mendukung pak Jokowi,” cetusnya.

 

Tak lupa Maurits Felle juga meminta kepada Deki Ohee untuk tidak menjelek-jelekan Staf Khusus Presiden, Lenis Kogoya.

 

“Karena Lenis Kogoya dan kita ini sama-sama putra asli Papua. Keseluruhan wilayah adat di Papua ini ada tujuh, tetapi yang dua sudah menjadi bagian dari wilayah Provinsi Papua Barat. Jadi, saya kembali meminta bukan hanya kepada Deki Ohee saja, tapi kepada seluruh anak adat Papua untuk tidak saling menjelek-jelekan satu sama lain,” pintanya mengakhiri konferensi persnya. (Irfan / Koran Harian Pagi Papua)